Saturday, July 12, 2014

Hanya Tuhan Yang Tak Bisa Dikalahkan, Kisah Perjuangan Timnas U19 Menuju Piala Dunia


Hanya Tuhan Yang Tak Bisa Dikalahkan, Kepak Sayap Garuda Muda Menembus Piala Dunia. Demikian judul buku yang saya garap bersama founder Pesantren Penulis, Mas Dwi Suwiknyo sepanjang Desember 2013 hingga Januari 2014.

Buku ini lahir sebagai bentuk ketakjuban terhadap fenomena Timnas U19. Tim ini lahir di tengah kawah candradimuka yang sangat mengerikan. Medio 2012, perseteruan internal di kubu PSSI masih sangat kuat. Terlihat jelas ada dua kubu yang saling berebut kekuasaan. Satu yang konon dilabeli status 'kubu revolusioner' dan satu lagi yang dilabeli 'kubu rezim lama' atau 'kubu status quo'.

Di tengah persaingan keduanya untuk menguasai PSSI, anak-anak muda yang kala itu berusia 17 tahun berhasil memenangi sebuah turnamen invitasi 'kecil' di Hongkong yang digelar oleh federasi setempat HKFA.

Tidak ada sorotan media pada tim Indra Sjafri saat itu. Maklum, ketika itu yang laku dijual adalah konflik PSSI yang nyaris berujung pada sanksi FIFA. Ajaibnya, selang setahun kemudian, tim yang masih dilatih oleh juru taktik yang sama, dengan mengandalkan sebagian besar pemain yang sama, sukses meraih gelar Piala AFF U-19 di kandang sendiri.

Gelar ini langsung membuat julukan 'Garuda Jaya' disematkan kepada mereka. Ravi Murdianto, Ilham Udin Armayn, hingga Evan Dimas dielu-elukan. Rakyat Indonesia meluap, menyambut mereka sebagai pahlawan. Tidak salah.

Di tengah carut-marutnya PSSI dan menurunnya prestasi timnas Indonesia senior, timnas U19 memiliki semua yang layak dijadikan sandaran: gaya main yang mengingatkan kita pada Barcelona, semangat juang yang tak pernah diperlihatkan para senior mereka, dan kisah hidup anak-anak muda ini yang memulai sepakbola dari bawah.

Kini roda sudah berubah. Timnas U19 menikmati kejayaan mereka. PSSI yang selesai berkonflik --meski diakhiri sepihak-- memperlakukan mereka ibarat anak emas. Namun, di sisi lain, muncul kritik. Anak-anak muda ini bagai dijadikan parade sirkus. Ditandingkan kesana kemari dalam berbagai uji coba.

Barangkali tidak ada yang salah. Semakin banyak bertanding, semakin banyak pula pengalaman mereka. Semakin matang pula pendekatan anak-anak ini terhadap berbagai situasi di lapangan. Namun, mungkin ada pula yang 'hilang' ....

Tidak ada lagi kenikmatan menyaksikan mereka bermain. Gaya pepepa (pendek-pendek-panjang) yang menjadi ciri khas timnas U19 seperti tergerus entah oleh apa. Besar harapan, anak-anak muda ini masih akan tetap memperlihatkan sihir mereka seperti setahun lalu. Ada mimpi mereka menembus setidaknya empat besar Piala Asia 2014 mendatang.

Namun bila hal itu tidak terjadi, bisa jadi saya akan kembali berkata, "Selamat datang di Indonesia ..."

N.B.: Jika Anda berminat untuk membeli buku 'Hanya Tuhan Yang Tak Bisa Dikalahkan', mengenang masa kala timnas U19 belum dijadikan komoditas seperti sekarang, sekaligus penasaran lika-liku para pejuang muda ini, Anda bisa membelinya melalui toko buku Pro-U Media melalui tautan berikut.

Detail buku
Halaman : 152
ISBN : 978-602-97502-2-5
Penerbit : Pro-U Media
Penulis : Dwi Suwiknyo, Fitra Firdaus Aden

No comments:

Post a Comment