Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Saturday, July 12, 2014

Kebenaran Terakhir


Semua jamaah tercengang mendengar ucapan kurang ajar kakek-kakek itu. Punggungnya bungkuk, matanya bahkan seperti kelelahan untuk membuka saja. Empat orang yang tadi mengiringinya memandang nyalang ke arah haji Hasan. Tiga pemuda gagah dan seorang perempuan cantik.

—o0O0o—


Haji Hasan geleng-geleng kepala, “Kakek, belajarlah.”
“Aku melihat apa yang tidak bisa kamu lihat!” bentak si kakek.
“Penyakit orang tua, semakin uzur dia semakin lupa,” bisik seorang jamaah kepada yang menggerak-gerakkan butir-butir tasbih.
“Aku takut kalau dia mati, dia akan masuk neraka. Sudah hidup lama sampai serenta itu, segalanya akan sia-sia!” yang berbaju koko membisiki jamaah di sampingnya, yang mengenakan celana yang bagian bawahnya dilipat hingga mata kaki.

Tidak lama kemudian, bagian dalam masjid itu penuh dengan dengungan. Bisik-bisik yang makin lama makin keras. Tiga pemuda itu tersenyum sinis, salah satu yang membawa gitar kecil, memetik senarnya.
“Jangan bermain musik!” bentak seorang jamaah dengan muka merah.
“Aku cinta padamu,” kata perempuan cantik itu sambil memejamkan mata, mengenggam erat tangan di depan dadanya.
“Jangan berbicara yang tidak pantas!” bentak jamaah lainnya.
“Kalau begitu, berikan semua harta yang ada di kas masjid ini,” kata si kakek memanaskan kuping.
“Dia memanfaatkan kemiskinannya untuk merampok kita!” keluh jamaah yang tadi memutar-mutar tasbihnya kesal.
“Kakek, kamu tidak berhak merebut harta Allah.”
“Hartamu, monyet!” pemuda yang di samping pemuda bergitar kecil, angkat bicara. Dia mengacungkan jari tengah ke depan yang terakhir bicara.

“Kami miskin.”
“Kalian mampu!”
“Kalau begitu Tuhan sudah mati kemarin sore,” jawab pemuda yang paling dekat dengan si kakek, “dikubur kalian di masjid ini. Ayo, keluarkan jasadnya, biar kami mandikan dan kami kafani dengan kain putih paling murah!”
“Dia menghina Tuhan! Dia sesat!” jamaah lain berkomentar.
“Kakek, Mas-mas, dan Mbak yang cantik,” haji Hasan memandang lebih lama pada perempuan itu lalu mengusap mata dan berbisik lemah seperti berkata ‘astaghfirullah’. Ia membenarkan letak duduknya, “bertaubatlah. Ampunan Tuhan sangat luas, melebihi langit yang tiada batas. Kembalilah ke jalan yang benar.”
“Jalan yang dibuat siapa? Orang tua kalian? Kakek kalian? Kakek buyut kalian? Berapa jauhnya jalan itu? Melebihi jalan aspal di sebelah masjid? Berapa biaya pembuatannya, berapa lama pengerjaannya, dan berapa yang mati olehnya?” si kakek terus berkata, dia semakin memejamkan mata.

“Pak Haji, kita usir mereka baik-baik. Kalau tidak mau, kita panggil orang dari polsek,” kata jamaah yang berkumis lebat, wajahnya garang.
“Ayo, kemarikan harta masjid ini. Ayo, keluarkan jasad Tuhan!”
“Tuhan tidak pernah mati! Tuhan kekal abadi! Tuhan tidak tinggal di dunia, Dia ada di singgasananya di atas tujuh langit!”
“Dia tidak ada di masjid ini tapi kalian menyebut masjid rumah Tuhan!”
“Itu kiasan, kakek idiot!”
“Itu nyata, bajingan!” sekali lagi pemuda itu mengacungkan jari tengahnya. Haji Hasan menelan ludah, memandangi jamaahnya yang sudah terbakar amarah mendengar ucapan-ucapan menghina dari kelima ah, keempat orang itu. Si perempuan belum bicara selain berkata ‘aku cinta padamu’.

“Kakek,” perempuan itu menggeser letak badannya, memandang wajah kakek dengan pandangan penuh cinta, “Tuhan dikubur di pengimaman. Haji itu yang melakukannya.”
Haji Hasan memandang kesal. Ia sudah berusaha untuk tidak melibatkan perempuan itu dalam keburukan, justru si cantik ini yang menuduhnya, memfitnahnya, “Mbak, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.”
Sang perempuan tersenyum, menoleh ke arah haji Hasan. Sedetik terasa begitu sebentar bagi setiap yang melihat gerak itu, ingin melihat yang lebih dari itu. Bibirnya yang pucat berucap dengan suara yang paling manis, “menuduh orang memfitnah, apakah tidak lebih kejam dari pemfitnahan?”
Di saat lain, detik itu seperti berhenti di hati haji Hasan.

“Tuhan tidak terlihat,” kata jamaah yang paling dekat dengan haji Hasan seolah memantapkan keyakinannya bahwa semua pendatang menjelang asar ini adalah para orang yang tersesat. Mereka harus disadarkan. Kalau tidak, terpaksa harus dimusnahkan. Itu pilihan terakhir, seburuk-buruk pilihan.
“Apa yang kalian lihat dari wajah saya?” kata perempuan cantik.
Dada jamaah benar-benar meledak sebenar-benarnya meledak. Bahagia karena perempuan itu, belum pernah mereka melihat ada yang secantik dia. Marah dan memaki, karena perempuan itu menganggap wajahnya adalah Tuhan!
“Selain kecantikan?” bibir haji Hasan bergetar ketika mengucapkan itu. Sungguh malu ia bertanya pada orang yang salah.

“Cahaya.”
Haji Hasan menoleh, mencari-cari orang yang mengucapkan kata tadi. Sependengarannya, suara itu berasal dari deretan di belakangnya, para jamaah yang setia padanya, yang memandang benci pada para orang tersesat di depannya. Akan tetapi, tidak ada yang dirasanya mengucap, tidak ada yang mengaku. Haji Hasan berbalik dan mengamati wajah perempuan cantik itu lebih lama dari sebelumnya, mencari-cari cahaya yang dimaksud suara tanpa identitas tadi.

“Mana cahayanya?” bisik seseorang di sebelahnya kepada jamaah lain. Di sisi ini, haji Hasan menghela nafas lega. Tidak hanya dia yang tidak bisa melihat cahaya di wajah perempuan itu, dengan catatan bahwa si perempuan tidak sedang berbohong dan mempermainkan degup jantung mereka dengan kemolekannya.
“Sudahlah, kalian tidak akan menemuinya. Berikan saja hartanya, semua hartanya,” pemuda bergitar kecil menyadarkan lamunan haji Hasan.
“Itu uang infak, untuk kepentingan masjid.”
“Apakah orang kelaparan bukan kepentingan masjid?”
Haji Hasan menyadari kelima orang ini, sekarang sudah benar-benar kelima orang ini, tidak akan mengalah. Dia melihat jam, sebentar lagi waktu asar. Urusan tidak penting ini harus segera diselesaikan. Salat dianjurkan dikerjakan di awal waktu. Ia harus malu kalau salat tertunda, apalagi sekarang mereka ada di masjid.

“Baiklah Kakek, Mas-mas, dan Mbak, saya akan memberi uang. Berapapun yang kalian minta,” haji Hasan mengambil dompet dari balik sarungnya.
“Harta masjid ini!” kakek tetap ngotot.
“Seratus ratus ribu? Itu cukup untuk makan beberapa hari.”
“Harta masjid ini!
“Dua ratus ribu?”
“Harta masjid ini!”
“Dua ratus lima puluh ribu!” haji Hasan cuma membawa uang sejumlah itu. Ia berputar, melihat ke jamaah di belakangnya, “ada yang membawa uang selain saya?” menatapi satu-satu. Jamaahnya menunduk, tidak ada yang berani melihat.
Haji Hasan kesal, kenapa tidak ada yang mau memberi?

“Pak Adib,” suara haji Hasan melambangkan perasaan hatinya. “Pak Adib punya berapa?”
Pak Adib tidak mau melihat, benar-benar tidak mau. Haji Hasan mendengus, “Pak Adib dua bulan lalu infak tiga ratus ribu untuk merombak tempat wudhu!” katanya mengingatkan, tapi Pak Adib diam seperti terhanyut dalam lamunan.

“Pak Ahmad?” haji Hasan melimpahkan kekesalannya pada penyumbang dua ekor kambing di lebaran haji tahun lalu.
Pak Ahmad juga terlarut dalam lamunan. Ah, apakah wajah perempuan cantik itu yang ada di dalam pikirannya? Sempat juga haji Hasan berpikir begitu.
“Bapak-bapak yang lain?”
Dan seperti tadi, tidak ada yang mengangkat kepala.

“Cuma ini yang saya punya,” putus haji Hasan.
“Harta masjid ini! Kami mau harta masjid ini!”
“Saya adalah ketua takmir masjid ini. Harta saya ini, anggap saja harta masjid ini, Kakek, Mas-mas, Mbak,” haji Hasan makin putus asa.
“Kalau begitu, berikan rumah Pak haji, mobil Pak haji, dan tabungan Pak haji,” perempuan itu berkata dengan lembut. Haji Hasan menelan ludah, “bukan itu yang saya maksud. Uang yang saya bawa ini, ambillah.”

“Mengapa Pak Haji ngotot tidak memberikan harta masjid ini?” sepertinya sang perempuan sudah menjadi juru bicara sang kakek. Haji Hasan sedikit lega menyadari hal ini. Setidaknya, ia tidak perlu melihat lama-lama wajah yang menyebalkan itu.
“Mengapa mbak ngotot meminta harta masjid?”
“Karena kami miskin. Lalu, mengapa masih ngotot?”
“Karena infak itu rencananya digunakan untuk membangun TPA di sebelah masjid. Rencana itu datang lebih dulu daripada kakek yang meminta lebih dari duaratus lima puluh ribu rupiah.”
“Kenapa yang datang terakhir tidak diberi dulu?”
“Bagaimana pertanggungjawaban saya pada masyarakat?”
“Bagaimana pertanggungjawaban saya pada Tuhan?”

Haji Hasan merasa kata-kata perempuan itu sudah keterlaluan, “memangnya  Mbak siapa? Mengapa merasa harus bertanggungjawab pada Tuhan karena kami ingin membangun TPA?”
Perempuan itu menoleh ke kakek lalu ke teman-temannya yang mengangguk seperti sepakat akan melakukan sesuatu. Haji Hasan berdebar-debar, kalau kelima orang ini mau menyerang, rasanya tidak mungkin. Jumlah jamaahnya terlalu banyak.

—o0O0o—

“Pak Haji mau melakukan salat asar?” tanya perempuan itu.
“Ya, sebentar lagi. Marilah kita salat bersama,” bujuk haji Hasan.
“Kalau begitu kami permisi. Maaf kalau sudah merepotkan.”
“Ini uangnya,” disodorkannya uang yang sudah bercampur keringat itu.
“Simpan saja. Barangkali Tuhan versi pak Haji lebih membutuhkan,” perempuan itu berdiri. Ingin rasanya Haji Hasan menampar bibir pucat-tipis itu, selain mengecupnya. Kakek itu dibopong dua orang pemuda, dan pemuda bergitar kecil itu memetik senarnya kembali.
“Jangan bermain musik! Sudah saya bilang!” teriak yang mengingatkan pertama kali makin kesal.

Tamu harus dihormati. Karenanya, haji Hasan berdiri untuk melepas kepergian tamu-tamu tak dikenal itu. Kakek menoleh, lalu dibopong pergi. Pemuda bergitar memetik gitar kecilnya lagi, tapi tidak ada yang mengingatkan karena dia pasti segera pergi setelah kekacauan ini.

Perempuan itu mendekati haji Hasan. Hatinya jelas bergetar, perempuan itu terus mendekat dan berbisik lemah di telinga sang haji, “saya sudah sering melihat yang seperti ini. Harga Tuhan cuma dua ratus lima puluh ribu. Bapak yang membunuhnya di hati bapak.”

Muka haji Hasan memerah. Perempuan itu mengangguk, tanpa salam dia berbalik dan pergi. Di punggungnya yang terlihat bergerak, haji Hasan seperti melihat ada keringanan yang luar biasa.

Lama haji Hasan berdiri terdiam. Jamaahnya kebingungan, adzan harus diperdengarkan, tapi melihat sang pemimpin membisu, itu suatu yang mampu menahan mereka bergerak.
“Tuhan, jangan bunuh aku buru-buru, panjangkan umurku…” bisik pak Haji lemah. Cuma mereka yang dekat dan yang memperhatikan saja yang mendengar bisikan itu.


Oktober 2007
Memanjangkan yang tidak akan pernah panjang

Orang-Orang Kalah

“Seseorang itu tergantung yang dicintainya” (H.R. Bukhari)
—o0O0o—

Puluhan tahun lalu, seorang perantau nekat bersepeda melintasi ratusan kilometer jarak dari Ibukota kembali ke kampung halamannya, sebuah dusun terpencil di batas Wonogiri. Tindakan gilanya itu adalah bentuk protes. Protes bisu kepada masyarakat yang terjerat oleh jaring laba-laba ciptaan mereka sendiri. Kaum melarat di tanah kelahirannya menggaruk-garuk uang. Kaum berperut buncit di tanah impiannya —yang setiap jengkal tanahnya dibebani ribuan pajak itu— hanya berbicara kalau ada uang. Akan tetapi, tidak ada yang peduli padanya. Roda sepeda berputar, zaman berganti. Kisah perantau itu menggumpal sekian lama. Disebarkan turun-temurun dengan celaan.

Bumi berputar, sejarah berulang. Lalu, kalau sekarang orang yang berbeda —siapa dia?— berjalan dari kampusnya menuju rumah kecil di barat Jogja yang terpaut 17 kilometer, aku tidak tahu apakah dia sedang melakukan protes bisu yang sama ataukah tengah berpetualang yang bagi orang lain bagai kutukan.
Orang-orang kalah, adalah kumpulannya.
—o0O0o—

Mari kita sebut orang ini sebagai mahasiswa kita.
Hari ini dimulainya dengan manis. Bus penuh sesak itu ditumpanginya menuju kampus. Di tengah kerumunan anak SMA, ibu-ibu yang hobi belanja, dan bakul tua, dia menyerahkan tiga lembar ribuan kepada kernet bertopi.

“Turun mana, Mas?”
“Bunderan, Pak,” jawabnya ramah.
Sang kernet manggut-manggut, tidak mengembalikan kelebihan Rp 500,00. Mahasiswa kita tidak memintanya. Kernet pun leluasa menjawil anak SMA cantik berbando kupu-kupu yang ada di belakangnya, lalu ke belakang lagi, lalu ke belakang yang lebih belakang lagi.
Terjadilah teriakan pertama pagi ini di bus tua itu.
Ibu-ibu berbedak tebal yang duduk manis, mencak-mencak kepada kernet barusan karena ketika menyodorkan Rp 2.000,00, sang kernet masih meminta tambahan lagi:
“Zaman susah kok malah main pungli. Ra reti kahanan[1]!”
“Dua ribu nggak laku, mbokdhe[2]. OSIS[3] saja berani segitu!” balas kernet.

Kericuhan bangku paling belakang tidak kalah kelas. Ibu-ibu bergincu merah membara, marah-marah kepada anak sekolah yang duduk santai sementara sang ibu berdiri kecapekan.
“Ada orang tua berdiri kok didiamkan saja. Dipersilakan, kek!”
Ketika orang lain bersungut-sungut kepada bocah tak tahu sopan-santun itu, tokoh utama kita ini, malah memandangnya lembut.
Mahasiswa kita tersenyum.
—o0O0o—

Mahasiswa kita turun di depan halte. Di sana ditemuinya laki-laki kumal yang tiduran tak nyenyak, bersebelahan dengan gadis cantik berkacamata yang memandang agak bergidik. Yang pertama sepertinya putus asa oleh kerja. Yang kedua, sepertinya hendak mencari hal yang di-putus-asa-i laki-laki kumal tadi, terlihat dari stopmap hijau yang ditenteng. Di tembok sebelah halte, tertulis grafiti yang hurufnya besar-besar berwarna merah, “Tolak UU Pornografi!”

Mahasiswa kita melanjutkan perjalanan, menuju masjid besar, melalui bagian timur. Di saf terbelakang masjid itu, beberapa orang tengah bertelekan. Ada pula yang belajar. Diskusi. Tanggal-tanggal ini, musim midsemester kuliah. Sepatu bermerk terkenal hampir berserakan di lantai terluar.

Seorang pengurus masjid yang sedang menyapu lantai, datang menghampiri sepatu-sepatu itu. Mengaturnya rapi. Pengurus masjid ini masih muda, tampan, berjanggut tebal, berbaju koko, dan mengenakan peci putih. Mahasiswa kita tidak sengaja bertumbukan mata dengannya saat melepas sepatu sebelum ke tempat wudhu.
Setelah wudhu di pancuran, mahasiswa kita masuk ke ruang masjid yang begitu lapang. Dilihatnya sejenak lampu raksasa melingkar yang niscaya akan menaungi jamaah dengan cahayanya. Pagi ini tidak dinyalakan. Dia takbir, sembahyang dhuha dua rakaat di saf pertama. Sekali lagi, suasana sepi, lengang. Tak ada orang selain dia di barisan terdepan. Jarum jam yang pendek sudah berlari ke arah delapan.

Sejenak kemudian, mahasiswa kita sudah kembali ke lantai terluar, menyimpul tali sepatu, hendak kuliah. Pengurus masjid tadi, yang diam-diam mengamati gerak-gerik mahasiswa kita, mendatanginya. Sang pengurus duduk dengan sopan di sebelah mahasiswa kita dan angkat suara,
“Mas, lain kali, kalau salat subuh ingat waktu.”
Mahasiswa kita tersenyum.
—o0O0o—

Mahasiswa kita kuliah. Ujian midsemester. Semua mahasiswa, yang paling jarang datang sekalipun, berada di barisan terbelakang. Ah, mari kuberikan candaan: “soalnya mudah tetapi jawabannya sulit!”. Beberapa orang di deretan belakang, yang kemarin menempelkan seruan demonstrasi antikenaikan BBM, saling bertanya. Seorang di antaranya nekat mengeluarkan catatan panjang.
“nomor enam, nomor enam…”
Kepala berputar-putar. “nggak terbaca. Sini saja!”
Kertas contekan berpindah tangan, berantai.
Mahasiswa kita merengut dan mengerjakan soal secepatnya. Memberikan lembar jawaban kepada pengawas ujian, asisten dosen, yang kebetulan teman seperbincangannya. Sang pengawas mengerling, “Titip salam ya, buat Ayu!”
Mahasiswa kita tersenyum.

Kuliah tadi adalah satu-satunya kuliah hari ini. Kuliah kedua, kosong. Tidak ada tugas. Kuliah ketiga, kosong juga. Dosen sedang sibuk mengerjakan disertasi.
Perpustakaan sudah tutup pukul 14.45. Saatnya pulang.

Dalam perjalanan menuju tempat perhentian bus, mahasiswa kita berhenti di masjid sepi yang baru kali ini didatanginya. Tak semegah masjid tempat salat dhuha tadi. Bahkan atapnya ada yang sudah bocor, terlihat ada warna hitam di sana. Jamaah asar. Jamaahnya sedikit pula. Seorang tukang semir, seorang pedagang angkringan, pemuda masjid, dua orang anak kecil, dan seorang bapak-bapak berdasi mengkilap. Mahasiswa kita imamnya. Setelah selesai salat, bapak-bapak tadi memasukkan uang warna merah ke dalam kotak infak.
Mahasiswa kita tersenyum.
—o0O0o—

Di kelanjutan perjalanan menuju perhentian bus, mahasiswa kita didekati seseorang berbaju hitam, bertelanjang kaki. Ah, bagi orang-orang yang sering berjalan kaki, orang macam ini sudah bukan barang baru. Ya, inilah penipu. Mungkin dia adalah produk kapitalisme yang paling nyata daripada ibu-ibu hobi belanja atau remaja perempuan ingin berkulit putih. Mari kita kutip pembicaraan mereka berdua.
“Mas, mas, tolong berhenti sebentar.” (mahasiswa kita selalu berjalan cepat, tidak ada yang bisa menyainginya dalam hal ini.)
“Ya, Pak?”
“Anu, begini. Tahu di mana pasar sepeda bekas di sekitar sini?”
“Wah, saya tidak tahu Pak,” mahasiswa kita memperhatikan lebih seksama.
“Begini. Saya tadi membawa bapak saya ke rumah sakit. Ketika pulang, eee… sepeda saya dicuri orang! Kurang ajar sekali dia! Padahal Mas, uang saya ketinggalan di rumah dan saya tidak membawa sepeserpun sekarang.”
Mahasiswa kita memegang bagian depan tasnya.

“Kalau Mas nggak keberatan, bolehkah saya meminta uang untuk ongkos bus, pulang? Saya khawatir bapak saya nanti tidak diurus kalau belum ada bayaran.” Dan mungkin kebanyakan laki-laki ditakdirkan sebagai perayu sehingga mahasiswa kita mau-mau saja meski dia hafal betul trik murahan ini. Diberikan-nya tiga lembar ribuan.

Seorang abang becak yang sudah tua lewat, melintasi mereka, memandang iba entah kepada siapa. Sang penipu pura-pura menolak uang tersebut, “jangan sekarang Mas. Malu aku dilihat tukang becak. Kayak aku ini penipu saja!”
Mahasiswa kita memastikan abang becak telah pergi jauh, baru memberikan uangnya lagi. Sang penipu, matanya bercahaya, “makasih, Mas!”
Mahasiswa kita tersenyum, berjalan membelakangi aktor terbaik hari ini. Meninggalkannya yang barangkali tersenyum juga.

Kawan, mahasiswa kita cuma memiliki uang saku Rp 6.000,00. Kalian pasti tidak percaya, tapi di dunia ini, mana ada yang boleh dipercaya? Rp 5.000,00 digunakan untuk perjalanan, dan Rp 1.000,00 kalau ada apa-apa di kuliah. Aih, sekarang uang itu habis. Mau naik apa mahasiswa kita? Dia melihat langit. Langit sedang biru cerah. Awan-awan raksasa menggulung-gulung. Dia berkeputusan untuk jalan kaki! Aih, berjalan kaki…
Kilometer adalah batasan manusia, seperti halnya motor.
Mahasiswa kita tersenyum.
—o0O0o—

Mahasiswa kita mulai menempuh jarak. Disusurinya jalan raya yang anggun. Berbadan gemuk, menampung dua aliran kendaraan yang tak berhenti bergerak sepanjang sore menjelang senja ini. Entah mengapa, semakin waktu merayap, semakin kuning-keemasan langit barat, semakin cepat pula laju kendaraan. Seolah ketakutan tentang malam menghantui sang pengendara, seperti dikejar-kejar sesuatu yang akan menerkam hidup-hidup.

Mahasiswa kita sesekali menengadah langit. Hal itu dilakukannya setelah melihat sesuatu sepanjang langkahnya. Kali ini ia memandang sebuah pabrik sepatu, agak lama. Pabrik yang tertutup dan di depannya ditancapi baliho-baliho warna oranye itu bisu, tapi seperti berbicara dengannya. Ya, mari kukisahkan sejenak…

Beberapa bulan lalu, pemilik pabrik ini bertikai dengan para pekerja. Pertikaian tentang gaji berlarut-larut. Puncaknya adalah aksi pendudukan pabrik oleh pekerja. Hai! ini bukan guyonan, tapi benar-benar terjadi! Sayangnya, mereka menduduki bagian luar saja, tidak sepenuhnya menguasai pabrik. Satpam dan polisi —siapa yang mengundang mereka?— dikerahkan. Pabrik ini terletak di pinggir jalan. Bayangkan betapa menyemutnya lalu-lintas saat itu! Pekerja mundur, tak mau baku hantam karena ingat anak-istri barangkali.

Pabrik ditutup dengan seng berlapis. Pekerja tumpah ke jalan, bergerombol. Beberapa yang masih nekat, menuliskan kata-kata kasar di seng tersebut. Senja datang, pertikaian mereda. Pulanglah mereka ke keluarga. Makan adalah urusan masing-masing.

Pagi harinya, ada yang menggelikan tetapi benar-benar terjadi. Di sebelah coretan-coretan pekerja, ada coretan pula. Kali ini lebih besar. Mungkin dikerja-kan semalam: “Merusak dan mengganggu hak milik orang lain bertentangan dengan undang-undang!” Kami (aku dan mahasiswa kita) tidak tahu kelanjutan nasib para pekerja, yang jelas pabrik itu tutup sekian lama. Hari ini, pabrik itu telah berganti nama. Yang awalnya Jawiya menjadi Dawiya. Entah pemiliknya.

Mahasiswa kita mendesah pelan. Ya, mahasiswa kita merekam dengan baik karena dua dari sekian pekerja pabrik itu adalah tetangga sebelah rumahnya. Dilihatnya langit jauh, lalu berjalan lagi.
—o0O0o—

Mahasiswa kita masih berjalan pulang. Kali ini di seberang sana, terlihat toko yang sedang obral sepatu dan sandal. Ditampilkan begitu saja di pelataran depan toko. Salah satu penjualnya, memiliki cara jitu. Ia duduk di sebuah kursi dan menggunakan megaphone. Banyak yang berburu. Setiap kali ada orang yang menawar, diucapkannya ulang, dan itu jelas mengundang reaksi. Orang tak mau menawar murah-murah karena takut ditertawai orang, dan harga murah itu tetaplah murah: Rp 5.000,00–Rp 25.000,00. Maklum, saat-saat seperti ini, daripada memikirkan tabung seberat 12 kg, mending memikirkan alas kaki.

Mahasiswa kita tersenyum manis, lalu berjalan lagi.
Bicara tentang harga diri, aku mengingat sesuatu tentangnya. Jumat lalu, selesai salat Jumat di masjid kampungnya, seorang anak kecil memanggilnya dan mengajak bersalaman dengan riang. Ini permainan antara mahasiswa kita dan anak kecil itu, hanya mereka berdua. Ketika bersalaman, jari telunjuk dimanfaat-kan untuk menggelitik telapak tangan. Cobalah, rasanya geli-geli menyenangkan. Anak itu, meski ompong, nyengir: “Mas, gendong sampai rumah, Mas!”

“Ayo!” kata mahasiswa kita menantang dan benar-benar menggendongnya. Jamaah lain mengamati mereka aneh, seolah tindakan itu salah. Kalian tahu, orang-orang itu kebanyakan berinfak di kotak kayu berlubang sempit. Kalian tahu, mereka termasuk orang yang giat berkata ukhuwah islamiyah. Mahasiswa kita bahkan tetap mengajak ngobrol teman seperjalanannya, salah satu yang paling risih mengamati kedekatannya dengan sang anak.
Ada kisah lain. Saat musim takjilan[4] tiba, anak-anak berjumpalitan kesana kemari, malas mendengarkan, bercerita sendiri, dia selalu mengajar dengan senyum. Seorang anak yang tak tahan dengan gaya mengajarnya bertanya: “Mas, kok nggak pernah marah sih?”, membuka kedok mereka sendiri, bahwa kenakalan anak-anak itu hanya trik agar dimarahi. Mahasiswa kita tetap saja tersenyum. Saat menanti salat maghrib, semua anak laki-laki patuh padanya meski tak jarang mereka menggodanya, menarik perhatian, lebih dari yang dilakukan terhadap pengasuh lain.
—o0O0o—

Mahasiswa kita masih berjalan, dan terus berjalan. Rumah masih cukup jauh. Senja sudah menggulung awan lenyap di baratnya barat. Ya, awan bagai selimut yang meluas jauh, dan matahari tinggal warna merah-oranye yang pudar. Langit sudah ungu. Sisa awan yang masih ada, seperti noda-noda biru tua di langit.

Di sebuah jarak, dilihatnya beberapa pasang kekasih di sebuah rumah makan pinggir jalan. Ada yang makan berhadapan. Sang lelaki menyeka pipi kekasih. Ada yang makan bersebelahan. Yang perempuan sempat menyandarkan kepala ke bahu kekasihnya yang sibuk memencet-mencet tombol di handphone. Sementara itu, petugas penjaga parkir, setelah melihat kemesraan mereka, membaca lagi korannya, membolak-balik dengan resah, seperti sedang mencari ramalan bintang minggu ini.

Tak lebih lima puluh meter dari rumah makan romantis itu, mahasiswa kita menemukan sepasang kekasih lain. Yang laki-laki tengah memeriksa ban motor-nya, dan yang perempuan melihat sang kekasih. Tak jauh di depan mereka, seseorang yang duduk di depan tempat tambal ban, memandang mereka resah, seperti ikut berkepentingan. Sebuah bendera partai berkibar di sisi kanan tempat tambal ban itu, berlatar hitam.

Ngomong-ngomong tentang cinta, mahasiswa kita mempunyai kekasih: orang yang dicintai. Bersama dua teman laki-laki lain, mereka membentuk kelompok yang namanya susah disebut. Mereka  sering mempost sesuatu di blog mereka, entah itu sajak, entah itu cerpen, entah itu makalah. Pengunjungnya cukup banyak. Mereka juga sama seperti demonstran lain, menyebarkan selebaran. Bedanya, isinya puisi cinta. Aih, ya… kekasih mahasiswa kita, seorang pejalan kaki juga. Mereka tidak berpacaran, tapi belajar, kata teman dekatnya. Jangan bertanya apakah mereka bergandengan tangan atau bergandengan hati.
—o0O0o—

Hampir azan maghrib ketika mahasiswa kita tiba di rumah.
Mangga ranum yang letaknya menggelantung ke tepi jalanan —tapi terlalu tinggi untuk dipetik anak-anak iseng— tertiup angin, mengangguk, memberinya ucapan selamat datang. Rumah masih gelap. Tampaknya pemadaman bergilir tengah merayapi wilayah ini. Pantas pula sejak tadi, dalam perjalanannya, maha-siswa kita seperti berada di kota mati. Warna yang kabur-gelap bahkan tampak sedikit lebih bercahaya. Seperti dunia abu-abu, di bawah langit ungu hampir kelabu pula. Sepi, kosong. Seorang tetangga nganggur —mantan buruh pabrik Jawiya—, duduk di amben depan rumah yang berhadapan dengan rumah mahasiswa kita. Pura-pura cuek waktu mahasiswa kita lewat dan menyapanya manis. Mungkin malu, entah karena apa. Beberapa hari lalu, motornya terpaksa dijual diiringi ancaman cerai oleh sang istri yang diucapkan keras-keras.

“Asalamualaikum,” mahasiswa kita mendorong pintu.
“Waalaikumsalam,” sahut yang di dalam. Suara perempuan. Lalu, sebuah lampu teplok dibawa perempuan tadi, ibu mahasiswa kita, ke ruang tengah, tempat mahasiswa kita sekarang duduk selonjor melepas lelah dan sepatu.
“Jalan kaki lagi, ya?” ibunya tersenyum. Nyala api merah-kekuningan menggaris warna yang nyata di guratan senyum itu. “Kamu terlalu baik pada orang lain, sih. Malah tidak baik kepada diri sendiri.” Ibu mahasiswa kita ini tampaknya sudah paham betul. Apakah mahasiswa kita sudah terlalu sering melakukan perjalanan tak masuk akal ini?

Di rumah sebelah, yang jaraknya tak ada semeter dari rumah ini, terdengar bunyi perabot jatuh. Mungkin wajan. Mungkin tersenggol tikus atau apa.
Asem ki[5]!” teriak tetangga. Mahasiswa kita menoleh keluar, melalui jendela besar yang menampung hampir setiap gerakan di senja itu. Sandal jepit melayang hampir menghantam kucing yang menggondol sesuatu. Tetangga buru-buru keluar, mengambil sandalnya yang mampir ke halaman rumah mahasiswa kita. Dia mantan buruh pabrik Jawiya juga. Cerai dengan istrinya sejak dua bulan lalu.

Tetangga yang duduk di amben di sana, yang sama-sama di-PHK, seperti bicara sendiri keras-keras, “PLN ki piye? Pemadaman ora ngomong-ngomong ndhisik! Lha, arep ndelok bal-balan rak yo ra iso to, nek ngene[6]?”
Yang memungut sandal, nyeletuk sambil memeriksa kalau-kalau sandalnya bedhat, putus, “ngendi lawan ngendi to, Lik[7]?”
“Indonesia lawan Malaysia! Kuwi rak yo jenenge ora nasionalis[8]!”
Mahasiswa kita tersenyum. Warna kelabu masih saja tertebar asing dan mengendapi senja di kampung ini. Bagai menonton film tua. Suara azan tak terdengar dari kejauhan karena mikofon mati. Sebagai gantinya, tetangga yang duduk di amben nyeletuk, “mangkan yasinan ora, Son[9]?”
Mbuh Pakdhe. Nek wis murup wae[10]!”

Mahasiswa kita menghela nafas, lalu bergumam. Menyenandungkan lagu yang tidak dikenal orang-orang kampungnya, lirih pelan.
“No end, no end to the journey
no end, no end never
how can the heart in love ever stop opening
if you love Me, you won’t just die once
in every moment you will die into Me
to be reborn into new love…[11]

“Ide, nggak baik senja-senja seperti ini nyanyi lagu Inggris,” tegur ibu mahasiswa kita sambil memberikan handuk, “mandi dulu. Salat.”

Orang-orang kalah di sini, orang-orang kalah di sana,
berkumpul dan menyebar. Demikian adanya.
Akan tetapi, mahasiswa kita tersenyum. Selalu tersenyum.

—o0O0o—









1 Desember 2008


[1] Tidak tahu keadaan (bahasa Jawa).
[2] Dalam kasus ini, panggilan terhadap orang yang dituakan meskipun makna literalnya adalah panggilan kepada saudara tua perempuan dari ayah/Ibu (bahasa Jawa).
[3] Istilah kernet untuk anak SMP dan SMA karena di saku dada seragam mereka ada logo OSIS.
[4] Takjilan secara umum diartikan hampir sama dengan ngabuburit, menunggu buka puasa. Lokasinya di masjid dan biasanya diadakan untuk anak-anak oleh remaja masjid. Makanannya berasal dari takjil penduduk sekitar masjid.
[5] Kata makian dalam bahasa Jawa.
[6] Bagaimana sih maunya PLN? Pemadaman, tetapi tidak memberitahu lebih dahulu. Lha, kalau begini, kan tidak bisa menyaksikan (pertandingan) sepakbola? (bahasa Jawa).
[7] Siapa melawan siawa (bahasa Jawa). Arti literalnya, “Mana melawan mana”.
[8] Kalau (tindakannya) begini [memadamkan listrik] kan (PLN) tidak nasionalis. (bahasa Jawa).
[9] Berangkat yasinan tidak, Son? (bahasa Jawa).
[10] Tidak tahu, Pakdhe. Kalau listrik sudah menyala saja. (bahasa Jawa).
[11] Salah satu sajak penyair Persia, Jalaludin Rumi, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “No End to the Journey” dan digubah menjadi lagu.

Venus

“Sudah genap sembilan orang,” Pak Harpun membagikan buku surat Yasin kepada kami berdelapan yang duduk membentuk lingkaran. “Yang di luar tidak diajak sekalian, Pak?” Pak Mardi selaku tuan rumah mengingatkan. Beberapa pemuda seusiaku tampak berjaga-jaga. Pak Harpun menggeleng, “sembilan itu angka sempurna.”

Lampu neon ruang tamu menerangi dalam rumah berdinding bata ini. Saling melirik, detik berikutnya tiap-tiap kami larut dalam pikiran masing-masing, kecuali aku. Hari kedua dari tiga hari yang disyaratkan orang pintar dari makam Sunan Gunung Jati. Demi melihat sikapku yang sedikit angkuh, Pak Harpun yang bersila di sampingku berbisik nyaris tak terdengar, “Mas Mim, dalam perhitungan kalender Jawa, malam ini sederajat dengan 40 malam. Jika kita melakukan sesuatu, kemungkinan untuk dikabul-kan Tuhan pasti lebih besar.”
Aku mengangguk, entah hatiku.

“Saudara-saudara,” suara berat Pak Harpun memecah lamunan bapak-bapak di sini. Akulah yang termuda. “Mari kita mulai membaca surat Yasin sebanyak 7 kali secara tartil dengan harapan Mas Marno, yang sudah hilang lebih dari 40 hari, segera kembali.”
Hampir semua berbaju batik kecuali aku. Kukenakan pakaian serbahitam atas saran dari Ayu. Hitam berarti kebijaksanaan dalam terminologi sufi[1]. Hampir semua berpeci hitam yang telah termakan waktu, memudar coklat di tepiannya. Aku tidak, tidak berpenutup kepala.

Monggo dipunwaos sesarengan. Kulo dherekaken[2],” kata Pak Harpun.
Lalu, suara-suara tenang bergelayut meremang di ruang berukuran 3×4 meter itu. Suara jangkrik di luar sana sesaat terdiam. Jarum jam pendek di dinding hampir tepat di atasku, bergerak ke arah angka delapan.
“Yaasiiin, Walqur’anil hakim…”
Pikiranku terpecah-belah, melayang kepada Ayu yang duduk sendiri di rumah. Pada pesannya sebelum senja tadi….

”Berangkatlah,” dia tersenyum lapang, selalu demikian adanya. Senja terlalu merah untuk menampung degup jantungku. “Bukankah dia anak yatim juga, sepertimu?” Aku memandang gamang ke timur, ke arah cahaya putih cerah yang sebentar lagi ditemani taburan bintang. Venus. Kileken. “Bekerjalah tanpa pamrih, Mim. Seperti Kileken yang dikabarkan oleh suku Masai.”
—o0O00—

Alkisah, seorang kakek tua tinggal sendirian di sebuah gubuk. Ia jatuh cinta pada taburan bintang, sebagai pengobat sepinya. Bahkan, ia menganggap bahwa mereka yang berserak di langit hitam itu, yang cahayanya mesti menyeberang jutaan tahun sebelum terekam mata, sebagai anak-anaknya. Hingga suatu ketika, di sebuah malam cerah, sebuah bintang di sudut jauh sana, yang dikenalnya dengan baik, lenyap. Pada saat yang sama, seorang anak muncul di halaman rumahnya, menyapa lembut dan memperkenalkan diri sebagai Kileken, sang anak yatim yang mengembara.

Sejak saat itu, Kileken selalu mengerjakan tugas sehari-hari sang kakek, menggembalakan ternaknya setiap pagi dan senja. Hidup sang kakek berubah, dipenuhi keajaiban Kileken. Hanya satu pinta sang yatim: kakek tidak boleh melihatnya saat bekerja. Akan tetapi, rasa ingin tahulah yang menjadi sifat dasar manusia. Kakek melanggar janji. Ia mengintip! Kileken lenyap seketika, menjadi bintang pagi. Suku Masai menganggap bintang pagi dan senja adalah dua hal berbeda. Kilekenlah sang penjemput pagi. Leken, adalah sang penutup hari ketika senja bergelayut. Pengetahuan Barat yang mengklaim diri sebagai yang paling rasional itu menyebutnya Venus, dewi cinta. Bukan Kileken, anak yatim pengembara yang memberikan cinta cuma-cuma.
—o0O00—

Mas Marno berusia 42 tahun, tinggal menumpang di rumah kakaknya, Pak Mardi —tuan rumah yasinan ini, yang mengenakan baju batik biru bermotif gunungan—. Sejak kecil, Mas Marno sudah dilekatkan dengan hal-hal klenik. Bagiku yang dididik untuk memahami hal secara ilmiah, objektif, dan rasional, setiap cerita tentangnya sama sekali tak kupercaya. Hingga, Ayu datang dan membuat pikiran skeptisku berubah total.

Dikisahkan, ibu Mas Marno sebenarnya keguguran ketika janinnya berusia 4 bulan karena melanggar pantangan menebar benih padi di sawah. Berkat bantuan salah satu roh tertinggi di desa ini, kandungan itu kembali. Mas Marno lahir dengan kecerdasan yang agak tertinggal. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, kebaikan hatinya di atas segalanya, dibanding kami yang menganggap diri moralis. Aku dan Ayu yang merantau saja diperlakukannya istimewa, melebihi siapapun di desa ini. Ia bekerja serabutan. Banyak yang membutuhkan tenaganya.

 Biasanya, ia diupah sebatang-dua batang rokok dengan merk tertentu dalam sehari, ditambah makan. Akan tetapi, kalau aku atau Ayu yang meminta, dia tidak pernah mau menerima imbalan. “Nanti Bapak marah,” alasannya yang ketika itu belum masuk otak skeptisku. Aku yang merasa janggal. Baik ayahnya maupun ayahku telah meninggal beberapa tahun sebelum kami bersua.

Banyak keajaiban yang terjadi dalam hidup Mas Marno, seperti Kileken. Ia pernah jatuh dari ketinggian 5 meter, dan selamat tanpa luka sedikitpun ketika diminta mengunduh kelapa di rumah Pak Slamet Mulyadi, salah satu pelopor ternak ikan lele di desa ini. Waktu ditanya oleh Pak Slamet —ia memakai batik kuning malam ini—, Mas Marno berkata, “tadi bapak pergi. Jadi, saya jatuh”. Ketika aku mengisahkannya ulang kepada Ayu dan bertanya untuk kesekian kalinya apa yang dimaksud Mas Marno sebagai ‘ayah’, istriku hanya berkata, “kamu belum mengenal dirimu sendiri, Mim”. Kileken, sang yatim pengembara.
—o0O00—

Belum juga satu putaran Yasin dibaca, kami semua dilanda kantuk berat. Aku yakin tiap-tiap kami telah hafal sehingga bacaan tidak rusak di tengah jalan. Pikiran skeptisku sempat beranggapan bahwa ini hanya efek kelelahanku. Seharian tadi aku sibuk mengedit buku —hari ini aku tidak berangkat ke kampus untuk mengajar— dan tak sempat tidur siang.

Pun aku sebenarnya menolak ritual yang cenderung syirik ini. Bid’ah yang membudaya, kata teman seprofesiku. Mungkin keduanya yang mengacau pikirku hingga kulihat huruf hijaiyah yang ada di buku dalam genggaman tanganku berubah menjadi sandi-sandi aneh berwarna kuning-kecoklatan. Mungkin saat ini telah tiba faseku bermimpi, tapi aku memaksa diri untuk sadar. Mungkin. Jika kami bersembilan, yang dianggap paling fasih membaca di kampung ini, mengalami hal sama, itu adalah kebetulan. Lalu kata-kata Ayu meruyak kembali….

“Venus adalah kembar bumi yang pelik, Mim,” Ayu membolak-balik halaman buku catatan hariannya. Belakangan, dia sangat suka mengisahkan Kileken dan sedikit berfilsafat. Planet yang dibicarakan, berada di timur sana. Mengintip kami.

“Hanya, ia mengalami efek rumah kaca yang terlalu cepat 4,5 milyar tahun lalu. Sekarang, ia berevolusi terlalu lambat. Bukan sebuah kebetulan jika ketika berserak, ia dekat dengan bumi. Setidaknya kamu bisa berkata, Tuhan ingin menunjukkan bagaimana neraka itu,” matanya nakal menusuk mataku. Aku setengah terpaksa tersenyum. Kalau benar ada evolusi, berarti kebetulan pula kita mempunyai akal. Seharusnya, Tuhan menitipkan akal itu kepada burung yang bisa terbang kemana saja dan menaruh jiwa ke dalam ikan paus yang menelan Yunus, agar menenggelam ke dalam samudera.

Dia lalu menambahkan, “kita berkata dia dewi cinta. Cahaya yang dipantulkannya memukau. Di sana, ada lapisan-lapisan awal yang amat tebal, yang menyelimuti planet tersebut. Akan tetapi, di balik kecemerlangan putihnya, ia adalah tempat yang gersang, berbatu. Contoh tepat untuk melihat efek sesungguhnya global warming.”
Kembar yang pelik. Ayu sedang memperbincangkan Venus sekaligus hal lain.

“Dan ruh, Mim… kamu tahu bahwa sains saat ini tidak mau mengenalnya. Ruh dan jiwa adalah dua hal berbeda yang sekaligus sama. Mirip benar,” Ayu bertopang dagu memandang sang bintang senja. Aku terpancing untuk mendekat. Dia berpaling ke kiri, “oh ya~ suku Masai adalah salah satu percontohan untuk mengatasi global warming yang kamu takutkan itu. Mereka telah terbiasa untuk bertani di padang pasir dan semak belukar sejak lama.”

Ayuku. Dia meletakkan bukunya di sebelahku ketika berdiri. “Aku masak dulu. Hari ini sudah bukan mie instan lagi,” candanya garing. Dia tahu aku akan membuka benda itu setelah dia sibuk di dapur. Aku tertawa pelan.
“Kileken, kamu, dan Mas Marno,” tutupnya. “kalian mirip, bukan?”
—o0O00—

Akulah Ruh, kembarmu yang pelik.
Akulah yang menjebakmu dalam waktu dan peristiwa.

Saat kau kuciptakan, kau adalah bentuk yang belum dapat diungkapkan. Terselubungi kabut, seperti halnya citraanku yang kautangkap di kemudian hari. Kelak, ketika kau telah tinggal dalam rahim ibu, informasi-informasiku masih berlanjut, tak pernah berhenti. Akan tetapi, sejak saat itu kau akan menempuhi jalan dan beranggapan bahwa aku tak dikenali. Maka, kugunakan malaikat, salah satu bagian terjauh perkembangan jiwamu. Ia mengirimkan makanan kepadamu setiap hari. Ia menunjukkan pula hidupmu di dunia, waktu ajalmu, dan segala macam pencarianmu[3]. Pencarianmu akan hakikat keberadaanmu yang tak pernah rampung. Kelak, ketika kau mengenal warna langit yang berbeda, yang menipu mata dengan birunya, kadang pesan-pesan tadi terbias seperti cahaya yang masuk ke dalam air. Kau tengah mengulang peristiwa tanpa kausadari kaupernah melihatnya. Kausebut hal itu déjà vu.

Ketika kau mulai bernafas mengambil udara dunia, lima puluh bahasa meniada. Kau seperti tak mengenal dirimu sendiri. Kita berpisah. Kau rindu, apalagi aku. Perulangan-perulangan semakin sering terjadi. Jika kaumampu menarik garis darinya, kau akan mengerti bahwa aku tak memintamu untuk takut kepadaku, tetapi memintamu mencintaiku. Jangan kausebut aku ayah meski aku menciptakanmu. Aku adalah cinta, tujuanmu. Kau sendiri. Pahamilah malam. Bagaimana ia kauanggap sebagai wajah alam semesta sesungguhnya. Sepasang demi sepasang makhluk beristirahat, mencipta lingkaran hampir nol. Inginku kau bercengkerama denganku. Ciptakanlah alif untuk berdirimu. Kha’ untuk rukukmu. Mim untuk sujudmu. Dan dal, untuk dudukmu. Lihatlah tubuhmu itu, bagaimana air, udara, cahaya, dan tanah berbaur. Kau adalah langit, kau adalah bumi. Dan lihatlah kau, sang pengendara tubuh, yang hidup abadi tanpa perlu memakan buah khuldi.

Carilah aku. Kau akan mengetahui dirimu sendiri.
Aku ingin diketahui dan ditemukan!
—o0O0o—

“Silakan Mas Mim,” Pak Said menawarkan suguhan di depan kami dengan ramah. Demikianlah adat di sini, mendahulukan yang berada di sebelahnya. “monggo, Pak.”
Ketika kuteguk teh hangat, Pak Mardi membuka suara. “Malam ini berat sekali kita mengangkat Marno. Tidak seperti malam kemarin! Mungkin roh yang membawa-nya, menahannya erat-erat hingga ia tidak bisa pulang.”

“Betul, Mas Mardi,” keluh Pak Matang, salah satu tetua kami, “tadi, saat saya memejamkan mata, saya melihat Mas Marno ngawe-awe[4] kita semua dari pintu depan”. Keruan saja kami bersembilan, dan pemuda di luar melihat pintu yang bisu itu. Bulu kudukku meremang asing. “Dia sebenarnya sudah dekat”.

“Mungkin ada ritual yang kurang?” tambah Pak Harpun sambil melahap kue lapis, “masih kurang satu malam. Harapan kita, dengan selesainya yasinan besok, segala urusan dimudahkan. Kita sudah membersihkan rumah ini, sudah mencoba berkeliling desa, sudah minta bantuan polsek, tapi belum berhasil juga.”

“Begini, bapak-bapak,” Pak Mardi menengahi, “mungkin kita perlu membersihkan sungai yang sering dipakai Marno mandi. Banyak sampah di sana, dan telah menyumbat aliran air. Siapa tahu yang membawa Marno marah karena kita berbuat tidak sopan”.

“Sampah itu kan berasal dari desa Sindudadi, yang ada pabrik susunya itu! Kita sudah menisahkan sampah organik dan non-organik? Yang organik ditanam di tanah, yang bukan, diangkut ke TPA. Kenapa kita yang dimarahi?” Pak Slamet Mulyadi terpancing. Aku memandang berkeliling, ingin mendengar pendapat lain.

“Jangan keras-keras Pak, siapa tahu pembawa Mas Marno ada di sini mengintip kita,” kata Pak Harpun pelan. Yang lain mengangguk setuju.

Salah seorang putra Pak Mardi, Salim, datang dan berbisik kepada ayahnya. Dari ruang tengah, beberapa berkat dikeluarkan. Gula pasir, teh, nasi gurih, telur ayam, kolak, dan beberapa hal lain. Yang unik, kulihat ada mie instan di sana. Setelah diputar dan semua mendapatkannya, Pak Mardi matur, “monggo Bapak-bapak. Ini ada berkat ala kadarnya, sebagai ungkapan terima kasih kami atas bantuan Bapak sekalian.”
“Nggih, dari kami, matur nuwun juga Pak Mardi. Semoga, Mas Marno enggal dipunwangsulaken[5] kepada kita semua. Amiin,” sambut Pak Harpun.

Lalu, dengan wajah yang terlalu lelah, satu demi satu yang membacakan surat ke-36 itu surut, berjalan lenyap di kegelapan malam, kembali ke rumah masing-masing.
—o0O0o—

“Kileken, Mim…” Ayu yang menungguku pulang, berbicara lembut. Wajah yang kusut-masai hilang seketika. “Juga dikenal sebagai penanda. Jika ia telah tampak di langit pagi dan ada seorang Masai yang belum pulang dari perburuan, para wanitanya akan berdoa demi keselamatannya. Ya, jika ada yang hilang.”

Mas Marno memiliki penjaga, ‘Sang Ayah’, yang membantu kelahirannya di muka bumi. Belakangan, menurut Ayu, terjadi pelanggaran ketika keluarganya memaki Mas Marno berlebihan. Hal itu sering terjadi, dan akhirnya tiba di puncak. Lebih dari 40 hari lalu setelah ia jagong[6] dalam mantenan Mas Rahmat, dalam keadaan lelah, ia dimaki lagi. Mas Marno tentu bukan orang pendendam. Akan tetapi, yang tidak terlihat jauh lebih banyak daripada yang terlihat. Para penjaganya, ‘Sang ayah’ dan beberapa roh lain, marah dan menariknya keluar, tak terlihat di sini meski ia ada.

“Kamu percaya bahwa setiap dari kita memiliki penjaga?” kataku mulai skeptis lagi. “Tentu. Mereka adalah kamu sendiri sekaligus bukan kamu. Kamu pernah merasa aneh dengan para skeptis yang tidak percaya Tuhan, tapi tidak mempermasalahkan keberadaan ide? Dari mana kamu menganggap ide itu nyata, Mim? Ia abstrak, tapi kalian para penggila sains melakukan diskriminasi hanya karena ia berada di dalam diri kalian,” dan Ayu mulai berfilsafat lagi. “Bukan masalah percaya atau tidaknya, Mim. Ada dan tidak ada itu subjektif, keduanya membutuhkan satu sama lain. Dan, meng-anggap tidak ada sebagai tidak ada itu seperti lawakan.”

Aku tak mau mendebatnya. Venus yang kini kukenal juga sebagai Kileken. Venus yang indah sekaligus berpermukaan hancur. Neraka yang dibayangkan dan gambaran neraka yang ditampakkan. Sungai yang hancur di sini dan air Venus yang telah menguap lenyap. “Dualitas, Mim. Cobalah terangkan dengan sains. Kalian selalu berteori dulu baru mencocok-cocokkannya dengan eksperimen. Hasil eksperimen itu mau tidak mau, harus mirip dengan teori. Beruntunglah kamu yang kehilangan ayah di usia 21 tahun. Ketika tidak ada adalah ada dan sebaliknya”, Ayu beringsut untuk merebahkan diri ke pangkuanku. Lampu kami masih terlalu terang. Taburan langit nun jauh di atas sana terbidik dari salah satu genteng kaca.

“Mengapa tidak ada cerita dari suku-suku kita yang kamu kisahkan?” kubelai lembut rambutnya. Ayu tertawa pelan, “bukankah lebih indah melihat yang jauh-jauh daripada yang dekat-dekat? Kamu belum mengenal dirimu, karena itu Tuhan memper-lihatkan alam semesta. Maka, betapa jahatnya mereka yang menyakiti alam? Jahat pada diri sendiri karena membuat mereka makin asing, makin tidak mengetahui?”

“Kamu tidak ikut memikirkan Mas Marno?” tanyaku. Tidak pula kamu menentang syirik, Ayu. Tidak pula kamu menghimbau ibu-ibu PKK untuk mengingatkan sang suami. Ketika menjadi mahasiswa dulu, tidak pula kamu berdiri menjadi demonstran menentang pembalakan liar. Kamu hanya bercerita bahwa suatu saat bumi kita akan menjadi Venus kedua jika kita gagap.
“Untuk apa? Dia akan pulang minggu depan. Tanpa ritual yang kauanggap syirik. Tanpa perlu takut pada ‘Sang Ayah’ yang misterius yang kauanggap tidak ada”.
Kamu membingungkanku… selalu demikian.

“Ruh itu satu, Mim. Memanggil semua jiwa yang diperintahnya. Akan tetapi, mereka yang tergila-gila pada sains tidak pernah bisa mengetahui panggilanNya.”
Aku tidak tahu lagi. Mas Marno dan aku, aku dan Kileken. Yatim pengembara.
Kembar yang pelik.
—o0O00—




31 Mei 2009



[1] Shah, Idries. 2000. Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi (Terj. M. Hidayatullah dan Roudlon). Surabaya: Risalah Gusti. Hlm. 12
[2] Mari dibaca bersama-sama. Akan saya pimpin (Bhs. Jawa)
[3] Bowering, Gerhard. 2003. Gagasan tentang Waktu dalam Sufisme Persia (terj. Gafna Raizha Wahyudi). Yogyakarta: Pustaka Sufi. Hlm. 15.
[4] Melambaikan tangan (bahasa Jawa)
[5] Segera dikembalikan (bahasa Jawa)
[6] Duduk mengobrol sepanjang malam (bahasa Jawa).

Kereta Ini Keretamu Juga, Mayu


For millions of years man has been speaking about peace,
but he has not come forward to first find peace within himself.
(Muhammad Rahim Bawa M., “Islam and World Peace”)

Kukelilingi jelajah stasiun dalam pandangan mata. Mayu masih duduk di sampingku, seperti yang dilakukannya dalam tiga hari di tanah Ibukota ini. Berdua, hanya berdua. Berdua, di antara ribuan orang yang datang dan pergi menuju dan menjauh dari tempat ini. Yang kutahu, inilah Ibukota. Kota impian dan kota kekalahan. Menyulap pemimpi setinggi gedung yang pernah dilempari batu kerikil, sekaligus menenggelamkan sang pengkhayal tadi sebagai pecundang di sungai-sungainya yang dilalui dengan menutup hidung.

Pulang. Ya, pulang. Kami akan kembali ke Kota Kecil, tempat kami kuliah. Kembali dengan menggenggam gumpalan kekalahan…

“Apakah perjalanan ini sia-sia, Ide?” tanya Mayu gamang, memandang sekumpulan orang di bawah salah satu tiang stasiun berkarat. Beberapa anak ber-seragam SMP bertukar majalah dewasa dengan senyum mesum. Ibu-ibu berdaster merah muda yang duduk di sebelah mereka, menghembus nafas kelabu, bekas hirupan rokok di jepitan kedua jari.

“Mungkin sia-sia, tapi bukankah ini berani?” kataku menghiburnya. “Aku yang membawamu. Aku bertanggungjawab atas semua ini.”

Dia mendesah. Memalingkan muka. Membiarkanku melihat leher dan krag baju bergaris merah-putihnya. Kami datang bukan tanpa tujuan. Mengunjungi salah satu teman, Bumi. Dia penggerak buletin gratis Blame!, salah satu afiliasi kami. Sayang, tidak bertemu. Barangkali dia telah berubah.

“Apakah kita sedang melarikan diri?” Mayu bergumam. Kali ini melihat seorang anak yang mengenakan kaus bergambar wajah seorang artis cilik paling ngetop tahun ini —model rambutnya juga dibuat sama persis sang idola—. Ayahnya, berkupluk, menghisap rokok, bersepatu pantovel, membukakan susu stroberi.

“Aku tidak mau berdalih. Ya, kita melarikan diri, mencari orang-orang yang sepaham, Mayu”. Ayahnya menolak Mayu bergabung denganku dalam kumpulan kecil kami —yang menolak selimut yang menyelubungi masyarakat dan umat ber-agama—. Salah satu dari sekian orang yang mengklaim kami tidak bertuhan. Meminta Mayu meninggalkanku dan menghentikan aksi. Dia telah mendengar adanya “Muslim Anarchist Charter[1]”.

“Apakah kamu mau datang lagi ke sini suatu saat nanti?” kataku lemah. Dia melipat tangan. Sekali lagi kubenturkan kenangan-kenangan kemarin di ubin stasiun yang putih, menjebak bayangan ratusan orang melintas di atasnya…
—o0O0o—

Kami tiba di Ibukota, kemarin, Jumat pagi. Terlalu pagi malah. Begitu turun, kami langsung berjalan kaki di bawah langit yang gelapnya belum terlalu pudar. Merah belum merobeknya. Kontrakan Bumi, teman kami itu, lebih dari lima kilometer dari sana. Di perempatan raksasa yang mulai padat jam-jam itu, realitas pertama Ibukota kujumpai dari seorang lelaki yang berjalan tergesa ke arah kami.

“Mas, punya uang lima ribuan, nggak?” Dia bertubuh tegap, seperti tentara. Lebih pendek dariku. “Saya cuma punya dua ribu nih. Nggak cukup buat ongkos pulang. Kita tukar saja. Dua ribu saya buat lima ribu Mas”. Belum juga kujawab, dia sudah melakukan dan menetapkan transaksi, dalam satu kalimat!

“Maaf Mas, saya nggak punya,” kataku menggeleng, “cuma ada dua ribu.”

“Ya, dua ribu saja,” dia setengah menekan. Tak mau lama, kuberikan saja kepadanya yang langsung mengambil, tidak mengucap terima kasih, dan berjalan menjauh. Kusadari, tidak lebih dari penipu.

Di depan kami, belakang lampu merah, sebuah truk tangki Pertamina diam. Lampu sign-nya menyala berkedipan. Tidak ada seorangpun di kursi sopir. Mobil mewah yang tidak tahu hal itu, antre saja di belakang truk. Begitu lampu hijau menyala dan truk masih bisu, mobil membunyikan klakson berulang kali. Lama, baru sang sopir mobil mewah menyalip truk bisu itu. Menoleh hendak memaki, tetapi tidak jadi.
Tujuan kami berikutnya: belakang rumah Lurah Cikiri.
—o0O0o—

Kosong.

Bumi tidak tinggal di sana lagi. Penghuni baru kontrakan itu, perempuan berkaus tanpa lengan yang sepertinya baru bangun setelah kami beberapa kali mengetuk pintu, mengaku sudah tinggal beberapa bulan, tidak tahu-menahu dengannya. Demikian pula tiga teman kami yang lain. Husein si perokok kereta api, Qom yang ahli desain grafis sekaligus layouter Blame!, dan Anatolia, kawan perempuan terdekat Bumi —mereka berbeda pandangan dengan kami tentang seks—. Semua menghilang, tanpa jejak sama sekali. Sebenarnya akupun cukup bodoh karena tidak mengontak mereka. Nomor Anatolia sudah tidak aktif, sedang para laki-laki itu menolak fasilitas itu. Kapitalis sekali, klaim mereka.

Aku dan Mayu beranjak pergi. Ngenet sejenak, mengunjungi blog mereka —alamat mail mereka, sering berganti, seperti kami, mengingat adanya ancaman dari beberapa pihak yang mengangkat bendera perang kepada kami—. Kutemui alamatnya, di sekitaran salah satu Masjid Raya. Tak terlalu jauh, sekalian saja kulakukan nanti setelah salat Jumat. Berjalan kaki. Ya, kami berjalan kaki. Mayu dan aku cukup sering melakukannya, di manapun. Sambil menelusuri terik matahari yang tak terlalu terik, kami seberangi jalan demi jalan.

Bumi dan kawan-kawan adalah kawan SMA kami. Tahun pertama kuliah, Bumi masih bersamaku di universitas Elang sebelum hijrah ke Ibukota demi mengaitkan diri dengan Anatolia, yang berafiliasi dengan Afuniks, salah satu grup independen yang bertanggungjawab atas aksi-aksi petani di daerah —terutama Jawa— menentang pembangunan pabrik yang tidak pro lingkungan.

Kami —aku dan Mayu— memilih jalan yang berbeda dengannya. Kami membentuk pasukan sajak Lavratislava —kumpulan, bukan organisasi. Mayu lebih suka menyebut sebagai “keluarga”—. Ada kalanya, kami memanfaatkan blog untuk menyebarkan ide. Ada saatnya pula, menempel selebaran, membuat buletin seadanya untuk menunjukkan kepada orang-orang di sekitar kami tawaran lain dari hal yang dipertentangkan di dunia.

Bagi kami, logika tidak lebih dari generalisasi umum yang dibatasi akal. Jika Anda masih suka membaca buku 10 Kiat Sukses atau 10 Orang yang Masuk Surga, Anda mungkin perlu membaca statemen kami. Entah siapapun Anda: umat beragama, rasionalis, modernis, atau postmodernis. Kami hidup dari pengalaman pribadi. Jika Anda geli dengan kami, Anda sedang menertawai diri sendiri:

HUKUM CINTA LAVRATISLAVA

IV
Belajarlah untuk mengucapkan terima kasih,
Belajarlah untuk meminta maaf,
Belajarlah untuk tersenyum.
Semua hal dimulai dari cinta.
Jika ketiga hal itu masih mahal,
kamu belum bisa dikatakan pernah jatuh cinta.

VII
Mereka yang masih bisa jatuh cinta
sama sekali bukan orang-orang yang tertindas atau kalah
—o0O0o—

“Kamu tidak suka?” kataku kepada Mayu yang bergantian memandangku dan bakso di mangkuknya. “Aku tidak habis, Ide. Sungguh,” katanya menyeka wajah dekat bibir dengan punggung tangannya. Setelah sekian jam bergulat dengan roti basah dan kering, perut ini perlu diisi yang lebih mengenyangkan.

“Baiklah,” kuambil bakso dari mangkuk Mayu. Dia meneguk air mineral yang kami bawa. Penjual mie ayam yang masih melayani pembeli, tersenyum melihat kami. Apakah kami terlalu hangat? Ternyata tidak hanya itu. Waktu kubayar, kuketahui makna lain senyum itu.

“Berapa Pak?”

“Sama bakso, Rp 16.000,00 Mas.”

Meski tadi kubilang hanya pesan mie ayam, dia sendiri yang berinisiatif menambah bakso. Kukira itu hal lain. Sedikit menipu, dan aku terlalu polos. Ah, mungkin ini hanya strategi bisnis.

“Dia menjebak kita. Kamu membawa sarung, kan?” kata Mayu saat kuhampiri duduknya di sudut. Aku mengangguk.
—o0O0o—

Khutbah Jumat mengupas ilmu dunia dan akhirat. Ditekankan khotib bahwa dunia hanya semu. Sesekali ia terbatuk sebelum menyeruput air putih dari gelas yang disodorkan salah satu pengurus masjid. Aku tidak tenang, sesekali menoleh keluar seolah Mayu akan hilang. Jamaah menyemut. Yang ada di halaman luar, bisa dua kali lipat yang ada di dalam. Mayu masih duduk di sana, di tempat pedagang mie ayam tadi. Tida berbicara dengan pelanggan lain yang kebetulan perempuan juga atau menolehku. Bertopang dagu.

Khutbah pendek disertai salat dengan bacaan surat yang panjang itu berakhir cukup cepat. Di saat salah satu tamir menginformasikan sesuatu, jamaah di luar sudah berhamburan. Belum juga zikir memasuki tasbih, pedagang dadakan sudah menggelar barang-barang mereka, bersahut-sahutan.

“Pulsa, pulsa!”
“Obral majalah! Obral majalah! 5000 dua!”
“Bapak-bapak, ini adalah obat penumbuh janggut. Dijamin mujarab!”

Yang terakhir malah memakai megaphone, terdengar lantang. Seorang eksekutif muda, berdasi mewah, berbaju putih, tiduran di sebelahku begitu saja. Tak lama kemudian, mendengkur…
—o0O0o—

Tiba di alamat tujuan, kami bertemu dengan Anatolia. Kontrakannya penuh, lebih dari 15 orang tinggal di sini. Yang sekadar datang dan pergi, jauh lebih banyak. Mereka membuka kelas-kelas filsafat —seperti kelas Marxis— dan berdiskusi, kadang mengundang kenalan luar ikut, atau berinvestasi tanpa imbalan. Dosen-dosen muda idealis, kerap datang, kisah Anatolia.

“Aku nggak tahu di mana Bumi dan Qom sekarang. Mereka tidak sejalan lagi dengan kami dan berpisah. Seperti kamu dan dia dulu. Kalau Husein, dia ada di kontrakan Afuniks yang utama,” kata Anatolia selanjutnya sambil duduk bersila. Temannya yang hendak merokok di sebelah kami, diliriknya tajam. Mengangguk, tidak jadi.

“Akan tetapi, Blame! menjadi lebih luas jangkauannya,” kataku sambil membuka beberapa buletin yang disodorkannya. Sudah mencapai nomor 37. Prestasi yang bisa dibanggakan karena biasanya satu-dua tahun, majalah sudah berganti nama walaupun kumpulannya masih sama.

Kami menumpang mandi di sini. Anatolia dengan bangga memperkenalkan teman akrab barunya, Levy. Ada kalanya orang-orang seperti mereka bergabung dalam komunitas besar seperti yang dilakukan Anatolia sekarang, tapi lebih sering dalam lingkup kecil yang terdiri dari 5—6 orang, seperti saat dia bergabung dengan Bumi dulu. Dalam grup kecil tersebut, jika ada yang bertindak di luar peraturan grup, boleh keluar atau dikeluarkan. Berbeda dengan kami: landasan keluarga —lingkup terkecil dalam masyarakat— adalah cinta. Jika Anda tertawa geli, mungkin keluarga Anda —suami, istri, atau anak Anda— tidak punya hal ini di rumah. Hangatnya berbeda dengan hangat kami.

“Kalian masih menulis sajak?” tanya Anatolia saat kunanti Mayu menalikan sepatu kets putihnya. “Ya, masih, dan akan terus begitu,” jawabku.

“Tidak ada yang akan sepakat denganmu, Ide. Kalaupun hukum bisa diganti, dia harus melewati kekerasan, dan bukan cinta. Itu bodoh.”

Kami tidak berdebat dengannya tentang hal ini. Beda pandangan. Mereka menolak negara. Negara adalah pengakuan bahwa masyarakat telah terpecah menjadi kubu-kubu berlawanan yang tidak terselesaikan. Masyarakat dalam negara, tidak berdaya melepaskan diri dari hal tersebut[2]. Mereka menolak pemilu pula. Jika pemungutan suara bisa mengubah segalanya, itu pasti ilegal[3]. Kami bertukar nomor handphone. Punyanya baru.
—o0O0o—

Senja hari, setelah maghrib, di bawah langit merah-ungu, kami beristirahat lagi. Mayu terima-terima saja waktu kukatakan cuma bisa menemaninya makan dua kali sehari dalam perjalanan ini. Setelah berputar-putar di sekitaran stasiun kereta listrik cukup lama, kami terhenti di warung mie ayam yang bersebelahan dengan warung soto. Mayu tertawa, bercanda, “Ide, soto itu cuma kuahnya yang banyak. Kamu mau minum air dua gelas?”

Kami duduk, menyantap mie ayam kedua hari itu. Tanpa bakso, kali ini.
Akan tetapi, ketika tahu pedagang mie tidak menyediakan air minum, pada akhirnya aku beralih ke pedagang soto di sebelah. Menanyakan dua gelas air jeruk.

“Wah, sudah habis, Om. Adanya cuma air putih.”
“Oh~” aku surut.
“Ambil saja, Om. Gratis,” entah mengapa ibu-ibu tua penjualnya, menuang air ke dalam dua gelas dan menyodorkannya kepadaku. Heran, aku dan Mayu bertukar pandang.

“Terima kasih, Bu.”
Mayu menerima gelas tadi, “Masih berkutat di situ ya, ternyata?” memperolok diri sendiri. Aku tersenyum. Dikuncirnya rambut panjangnya, satu di belakang. Ya Mayu, kita terjebak. Sejak awal dalam keramaian yang menumpuk. Bersua dengan sekian yang bermuka dua, tiba-tiba bertemu yang jujur sekalipun, Anda akan terperangkap jaring laba-laba yang terlanjur Anda bangun sendiri: itulah logika, kumpulan peraturan dan generalisasi: hal-hal yang disusun dari pertentangan. Jika A tidak ada, B tak mungkin muncul. Akan tetapi, apakah Anda dapat menerapkan peraturan dalam cinta? Cinta melampaui segalanya. Anda pasti geli kalau saya mengutip ayat ini: “…Cahaya di atas cahaya…”[4]
—o0O0o—

Kami hendak menginap. Akan tetapi, di manakah yang aman di belantara kota yang asing ini? Kontrakan Afuniks-nya Anatolia yang membebaskan segala-nya, membatasi gerakan kami. Masjid Raya Pertama, tak mampu membuat kami aman. Niat mencari Bumi —harapan adanya pengertian dari satu saja orang di dunia— mungkin sudah pupus. Kami seperti bola yang ditendang kian-kemari.

Malam itu juga kami berangkat ke Masjid Raya Paling Raya yang konon menjadi masjid termegah kedua se-Asia Tenggara —dipecahkan rekornya oleh masjid di wilayah yang sama— berlomba-lombalah kami, seperti orang tua yang cemberut setengah masam ketika ada anak muda yang zikir setelah salatnya lebih lama daripada dia: “Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka…”[5] Gelikah Anda?

Tibalah kami. Tibalah.

Kami bergantian membersihkan diri di kamar mandi yang luar biasa bersih —berbanding terbalik dengan masjid di kota kami— saling menunggui. Saat itulah kulihat hal lain. Kotak amal jariyah, ditunggu dengan baik oleh petugas. Setiap kali pengunjung selesai bersuci dan hendak memasukkan uang, tangan petugas mengambil alih. Menumpuknya dalam tangkupan tangan. Ketika orang-orang pergi, barulah uang itu dimasukkan ke dalam saku. Aku memandangnya iba. Sungguh.
Kami berangkat ke lantai satu, salat isya berjamaah. Selesai itu, kami berpisah. Mayu ada di saf wanita, sebelah kiri. Aku di kanan. Kusandarkan diri di tiang besar. Mata ini benar-benar kelelahan. Bukan, bukan tentang perjalanan yang seperti sia-sia ini. Bukan pula tentang masyarakat luas, inti pemikiran para filsuf bijak. Tentang yang berhubungan dengan kami. Terlalu banyak penghakim-an. Mayupun, tak setegar dahulu. Aku entah. Dihancurkan dari kiri dan kanan. Jamaah keluarga muslim kampus menuduh kami sesat. Organisasi terselubung yang bukan organisasi primer fakultas —karena yang utama lebih sibuk dengan aktivitas— pernah menculik salah satu kawanku setengah hari, menginterogasinya: seolah kami ini akan meledakkan Monas atau Patung Liberty. Entah mengapa bukan aku, padahal aku selalu ada di depan mereka.

Lalu hubungan cinta. Aku dan Mayu terjebak. Mantan pacar Mayu yang bersekongkol dengan ayahnya, seolah gagap melihat Mayu yang sekarang, menekanku, menuduhku macam-macam. Apakah Mayu tidak mengalami hal sama? Bahkan mungkin lebih kejam. Perempuan lebih berbahaya daripada laki-laki kalau jatuh cinta. Bahkan meski cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan: harus dapat! Kalau gagal, musnahkan yang mendapatkan.

“Kalian terlalu menghormati orang lain seperti tamu. Pun menganggap diri sebagai tamu pula. Padahal, mereka terbiasa mengaku tuan rumah, dan orang lain bagi mereka tidak lebih adalah maling penjarah harta,” kata salah satu teman.
Aku lelah. Sungguh, lelah.

SMS Anatolia masuk. HP-ku kukeluarkan. Dua orang pemuda sedang membaca Al Quran. Di atasku, tepat bagian dalam kubah, bertulisan ayat kursi. Melingkari seperti menjaga. Kantukku menjadi…
—o0O0o—

“Mas, bangun Mas” uh, bahuku…

Kesadaran meningkat. Seorang satpam berjanggut putih menyapaku ramah, “akan diadakan salat malam. Mas boleh ikut atau mundur ke saf paling belakang.” Tanganku hendak menggenggam handphone. Hilang! Ketika kulihat ke samping, Al Quran yang sama dengan yang dibaca dua remaja tadi, ada di sana. Kutelan ludah, terdiam lama…

Salahku, salahku.
Dalam hati yang serbacampur-aduk, kudekatkan diri ke saf Mayu. Dia memandang tak percaya sejenak, lalu mengangguk. Sungguh, aku benar-benar terbuang! Terbanting, dan terbanting lagi. Jauh, jauh tak berharga. Aku lelah, Tuhan. Di rumah ini sekalipun, sudah bukan tempat yang aman lagi …
—o0O0o—

Jam besar di sebelah sana bergerak lambat, seperti hendak menunda kami. Angin yang terlalu siang menghantam punggungku sejuk meski hati ini masih agak sedikit sesak. Mayu memandangku ragu, lalu berpaling. Larut dalam pikiran masing-masing. Ibukota. Tempat segalanya bergantung. Bumi tertelan bumi, entah di mana. Cinta kami hilang di antara barang-barang bawaan penumpang kereta. Sebagai oleh-oleh ke kampung halaman di kardus bekas.

Kami pulang.
Ya, kami pulang. Tanpa membawa apa-apa. Ayahnya pasti telah khawatir. Mungkin menelepon yang berwajib. Teman-teman kami pun demikian. Pun kalau kumpulan kami benar-benar akan dilaporkan ke pihak yang berwenang, bukankah lebih baik menghadapinya, Ide? Di sana, maupun di sini sama saja: kalaupun mati, aku mati dalam serangan yang keduajuta, bukan pertama. Kugenggam erat udara di tangan ini.

Sejak beberapa saat lalu, dua anak berlarian di sekitar kami. Seperti adegan balap motor, dan mereka benar-benar menderumkan mulut mereka, menirukannya. Satu laki-laki, satu perempuan. Yang laki-laki memanfaatkan botol air mineral yang telah kosong sebagai gagang kemudi. Mengebut dengan kecepatan tinggi ke arah dinding pembatas stasiun. Saat benar-benar dekat, ia pura-pura mengalami disorientasi, lalu menghantamkan diri dengan lembut. Yang perempuan, mendekat dan tertawa-tawa. Mereka berlari kembali ke arah kami dan melakukan hal yang sama. Terjadi tiga kali, hingga kupu-kupu bersayap kuning bertitik-titik hitam mendarat di tangan Mayu. Anak perempuan itu melihat Mayu, menimang-nimang ragu.

“Mau?” kata Mayu tersenyum. Anak itu tertawa riang. Mayu memberikan sang kupu. Diterima dengan tangan tertangkup, dan kali ini anak berbaju stroberi itu berlari ke arah dekat rel. Sampai di sana, dibukanya tangkupan itu, membiar-kan kupu-kupu tadi terbang kian kemari di sekitarnya.

“Horeeee…”
Kuhela nafas lega. Biarlah, perjalanan ini mau bagaimana nantinya, tidak kupedulikan lagi. Kami masih ada, dan selamanya makan ada.

“Tamu harus bersabar hingga tuan rumah membukakan pintu, Ide…”
“Terima kasih, Mayu…”
Dan di sana, kereta yang membawa kami pulang telah tiba, membawa jutaan cinta sepanjang perjalanannya nanti.
—o0O0o—
17 Desember 2008


*Cerpen ini termuat dalam antologi Cerpen Rendezvous di Tepi Serayu terbitan Stain Press (2009). Masuk sebagai nominator ketujuh dalam Lomba Cerpen Religiositas Cinta oleh STAIN Purwokerto.


[1] Pada 20 Juni 2005, Yakoub Islam, Muslim dari Inggris, mengaktifkan portal online-nya: “Muslim Anarchist Charter” yang berisi: (1) Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya; (2) Tujuan hidup adalah untuk membangun hubungan cinta dengan Tuhan yang MahaEsa untuk bertindak sesuai ajaran, wahyu, dan tanda-tandanya di dalam penciptaan-Nya (makrokosmos) dan hati manusia (mikrokosmos); (3) Demi tujuan tersebut, anarkis muslim wajib belajar dengan kehendak bebas dan secara sadar untuk menolak kompromi dengan institusi kekuasaan dalam bentuk apapun (budaya, hukum, agama, sosial, atau politik; (4) Demi tujuan tersebut, Anarkis muslim harus aktif dalam realisasi keadilan demi komunitas yang jiwa spiritualnya tidak terbatasi lagi oleh kemiskinan, tirani, dan ketidakpedulian; (5) Demi tujuan tersebut, Anarkis muslim mengaitkan diri secara terbatas kepada masyarakat Yahudi-Kristen-Islam dengan memahami perbedaan masing-masing.
Melalui kelima poin tersebut, Anarkis Muslim menolak (1) fasisme yang bertujuan untuk memapankan kebenaran tunggal yang absolut, termasuk patriarki, monarki, dan kapitalisme, dan (2) segala bentuk kekerasaan dan pemaksaan politik, rasisme, prasangka (stereotip-orientalis), termasuk (salah satunya) islamophobia.
[2] Engels, dalam Asal-Usul Keluarga, Milik Perseorangan, dan Negara. Terdapat pula dalam Negara dan Revolusi karya V.I. Lenin (Bab I, Masyarakat Berkelas dan Negara).
[3] Ray Cunningham.
[4] An-Nur: 35. “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
[5] At-Taubah:110. “Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”