Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts
Tuesday, August 26, 2014
Ketika Anda Harus Menjadi Pemain Cadangan
Ketika pertama kali mendunia, Bojan Krkic langsung dipuja-puja. Pemain berdarah Serbia ini digadang-gadang sebagai calon bintang Barcelona. Betapa tidak? Di ujung musim panas tahun 2007, dia memecahkan dua rekor sekaligus. Dia adalah pemain termuda yang tampil untuk Barcelona di Liga Champions. Bojan juga tercatat sebagai pencetak gol paling belia bagi klub tersebut di Liga Spanyol. Ketika itu, Bojan baru beberapa hari merayakan ulang tahun ke-17.
Yang terjadi dalam enam musim berikutnya, tidak pernah terbayangkan. Bojan yang lincah, harus menyerah. Ia terpental dari persaingan. Bukannya menjadi pemain inti sejajar dengan Lionel Messi, pria mungil ini harus pergi. Dia dipinjamkan ke Roma, Milan, dan Ajax sebelum akhirnya hijrah ke klub papan bawah Liga Inggris, Stoke City.
Bojan tidak mungkin bersaing. Barcelona terus membeli penyerang-penyerang istimewa dengan penjualan kaus mendunia. Zlatan Ibrahimovic, David Villa, Alexis Sanchez, Neymar, hingga terakhir Luis Suarez bukan levelnya.
Di luar sana, orang lain membuat kejutan di Austria. Namanya Jonathan Soriano. Sama seperti Bojan, dia pernah mencicipi rasanya bergabung di Barcelona. Perbedaannya, Soriano bukanlah superstar.
Walaupun sempat menjadi raja pencetak gol, hal itu dicatatkannya di Liga Spanyol Divisi Dua. Ketika hijrah dari Barcelona B, pemain kelahiran 1985 ini tak sempat menikmati puji-pujian media. Tahun 2012, ketika Bojan masih mengais mimpi bisa tampil untuk tim utama Barcelona, Soriano melakukan sebuah langkah; yang barangkali setara dengan langkah pertama Neil Armstrong di bulan.
Jonathan Soriano pindah. Dia tidak mencari klub elite yang satu level dengan Barcelona. Dia juga tidak bergabung ke tim-tim lain iga Spanyol yang biasa dibantai klub lamanya. Soriano memilih Red Bull Salzburg, juara Liga Austria.
Dalam sekejap nama Soriano terbang, melesat ke awang-awang. Statusnya sebagai mantan pemain Barca, ketajamannya yang makin menggila, dan tingkat kompetisi yang lebih rendah, membuatnya menjadi 'bintang'. Ia jelas tidak akan pernah sejajar dengan Lionel Messi. Ia bahkan tak akan sama dengan Bojan. Tetapi pilihan Soriano pergi ke liga dengan kasta lebih rendah, membuatnya menggenggam sesuatu yang hingga kini tak didapati Bojan.
Ada saatnya kita berada di simpang jalan. Hendak menjadi Soriano, atau Bojan. Bertahan di sebuah keadaan yang menuntut persaingan tinggi, atau 'turun kasta' ke level yang sesuai dengan kemampuan. Menjatuhkan diri seperti Soriano, seolah menjadi satu-satunya jalan. Untuk apa bertarung di medan yang sengit, jika ternyata bisa mengambil untung lebih banyak di medan yang lebih ringan? Para Soriano adalah mereka yang ingin menang. Orang-orang yang memahami, diam dan sabar tidak akan cepat mengubah keadaan.
Di sisi lain, berkutat di tempat yang penuh persaingan, akan lebih menyakitkan. Ada risiko, kita tidak akan pernah menjadi pemain utama. Ada risiko, sepanjang hidup nanti kita cuma pemain cadangan. Pemain yang cuma keluar di menit-menit akhir, yang digunakan pelatih hanya untuk mengamankan skor pertandingan.
Tapi, menjadi Bojan --walaupun akhirnya terlempar ke level yang lebih bawah--- adalah (juga) cara seorang pemenang. Cara mereka yang mau memahami, tidak ada yang namanya keterbatasan. Cara mereka yang menyadari, suatu saat kerja keras luar biasa akan dijawab Tuhan. Bahkan meski jawaban itu lebih misterius daripada kehidupan.
Labels:
artikel,
barcelona,
bojan krkic,
fitra firdaus aden,
jonathan soriano,
lionel messi,
sepak bola
Saturday, July 12, 2014
Athletic Bilbao, Klub Anak Kampung
![]() |
| Iker Munian, Ikon Terpenting Athletic Bilbao Dekade Ini (Melepas Baju) |
“Kami juara berkat 11 pemuda kampung,”
Enrique Guzman, presiden Athletic Bilbao
saat memenangi Copa del Generalisimo 1958 atas Real Madrid
Enrique Guzman, presiden Athletic Bilbao
saat memenangi Copa del Generalisimo 1958 atas Real Madrid
Sejarah panjang Basque hanya mengenal keberanian. Para lelaki perkasa yang terlahir di tanah ini telah berperang dengan semua musuh yang hendak menjarah. Romawi, Viking, hingga Jenderal Franco. Tak ada satupun yang bisa memadamkan api keberanian itu. Dan, keberanian pula yang tergambar nyata dari Athletic Bilbao, klub yang masih ngotot hanya menurunkan pemain berdarah Basque di era kala sepakbola identik dengan uang dan gelar semata.
Klub Paling Bebal Abad XXI
Dekade 2000-an dalam sejarah sepakbola akan dikenang sebagai dekade ketika uang bisa mengubah sebuah klub menjadi jawara. Para pebisnis berbondong-bondong membeli sebuah klub, lalu menggelontorkan dana tanpa batas untuk memborong gelar demi gelar.
Semisal, Roman Abramovich yang membeli Chelsea pada musim panas 2003. Tahun pertama saja, juragan minyak itu mengeluarkan 121 juta poundsterling untuk mendatangkan para ‘mercenary’ (tentara bayaran/ mata duitan), demikian kata orang-orang sinis.
Demikian pula yang dilakukan oleh Syeikh Mansour yang menggenggam Manchester City sejak September 2009. Dalam dua tahun awal kekuasaan sang syeikh, lebih dari 200 juta poundsterling dihabiskan untuk mengejar pemain. Hasilnya, The Citizens yang sempat berkutat di jurang degradasi, bisa menjadi kampiun Liga Inggris hanya tiga tahun kemudian.
Syeikh Al-Thani yang mengambilalih Malaga dan Qatar Investment Authority (QIA) yang menyuntik PSG juga termasuk dalam kategori ini. Mereka yakin, para pemain yang datang dari berbagai belahan dunia, yang tidak terlalu mengetahui latar belakang klub, dengan bayaran selangit, dapat melakukan segalanya.
Adalah sebuah keunikan, kalau tidak bisa disebut kebebalan, di sebuah klub bernama Athletic Bilbao, terjadi kenyataan yang bertolak belakang. Mereka masih mengandalkan para pemain yang berlatar belakang Basque.
Bahkan ketika klub-klub tetangga dekat sekaligus rival sengit Athletic, seperti Real Sociedad dan Osasuna, sudah memainkan sederetan pemain internasional. Hasilnya, pada musim panas 2009, ketika Cristiano Ronaldo memecahkan rekor sebagai pemain belian termahal dengan harga 80 juta poundsterling (dari Manchester United ke Real Madrid), rekor berikut masih berlaku untuk Athletic: pembelian termahal klub ini adalah 10 juta poundsterling, terjadi atas nama Roberto Rios dari Real Betis; dan hal tersebut terjadi pada tahun 1997! Ya, untuk juara Liga Spanyol delapan kali, uang bukanlah segalanya.
Anti Tentara Bayaran
Musim panas 2012, tiga tahun setelah hingar bingar Cristiano Ronaldo, kegelisahan tengah menimpa penyerang lain. Dialah Fernando Llorente yang memasuki tahun kedelapan berseragam Athletic Bilbao. Ia berada di simpang jalan. Llorente tergiur bermain di Liga Champions. Untuk seorang pria jangkung jago duel udara yang hingga kala itu sudah mencetak 100 gol bagi Athletic, cita-cita ini adalah hal wajar. Athletic terus terjebak dogma ‘hanya memainkan pria berdarah Basque’ sementara zaman hanya mau mengenal uang. Mustahil bagi klub Bilbao tampil di kompetisi terbesar antar klub Eropa. Solusi akhir: pindah ketika kontraknya berakhir pada 30 Juni 2013.
Seorang pemain berpindah klub untuk meraih gelar adalah hal lumrah. Gabriel Batistuta, pahlawan Fiorentina, klub Italia, pernah melakukannya pada tahun 2000. Ia berseragam AS Roma dan mendapatkan scudetto di klub ibukota tersebut. Tapi, dunia Athletic bukanlah dunia klub lain.
Anda berlaga bukan untuk dibayar. Kostum yang bersimbah keringat, adalah simbol nilai-nilai hidup rakyat Basque: keberanian, kebanggan, dan ikatan kuat. Siapa pun yang ‘melecehkan’ hal ini harus menerima hukuman. Sepanjang musim 2012-2013, Fernando Llorente pun menghabiskan masa-masa mencekam. Ia duduk di bangku cadangan, kalah bersaing dari penyerang lain, Aritz Aduriz. Juga, menerima ejekan “Llorente antek Spanyol! Mati saja kau” bahkan ketika latihan pramusim baru saja dimulai.
Ya, di tanah Basque, segala bentuk pengkhianatan, akan dilabeli gelar ‘antek Spanyol’. Mereka yang terlahir di sini, belum lupa sejarah kelam yang dilakukan oleh Jenderal Franco, diktator yang pernah memaksakan agenda melenyapkan segala hal yang tidak pro kesatuan Spanyol.
Jangankan hengkang dari klub. Jika para pemain Athletic terlihat loyo di lapangan; tak menampilkan kegagahan yang merupakan ciri khas pria Basque, siap-siaplah mendengar yel-yel “No son leones, son maricones" alias “(Kamu) bukan singa, tapi seorang gay”. Ada sebuah pepatah, bahwa seorang pria Basque tidak mengenal kata “tidak mungkin”.
Dan ini berlaku pada setiap napas klub. Entah yang dilawan adalah dua raja seperti Barcelona dan Real Madrid, entah klub tengah dalam krisis keuangan akut, penampilan prajurit Athletic haruslah sedahsyat kala nenek moyang mereka bertempur mempertahankan tanah ini dari invasi para ‘penjajah’.
Singa-Singa Perkasa Pelinding San Mames
Loyalitas. Inilah yang harus dijunjung sampai mati oleh pemain Athletic Bilbao. Mereka ditakdirkan untuk berlaga di stadion San Mames yang memiliki julukan keramat ‘La Catedral’. Dekat tempat yang mampu menampung 40000 penonton ini, berdirilah gereja San Mames yang konon menyimpan relik Santo Mammes.
Dia adalah santo yang menjadi martir pada abad III Masehi kala masa kekuasaan Romawi. Kesucian hatinya, membuat penguasa sekalipun tak mampu memberikan hukuman mati untuk sang santo. Ia pernah dilemparkan ke gelanggang berhadapan dengan para singa; namun hewan-hewan buas ini tak menjadikannya santapan. Justru, tunduk dan menjadi pelindung Santo Mammes.
Demikian pula yang ditanamkan untuk prajurit Athletic Bilbao. Mereka berlaga di lapangan untuk menjadi singa ---julukan mereka, Los Leones--- demi menjaga kesucian Katedral San Mames dari serbuan klub-klub yang diutus untuk menjajah stadion ini, mulai dari Real Madrid, Barcelona, hingga dua tetangga sebelah, Real Sociedad dan Osasuna.
Loyalitas pulalah yang membuat kebijakan Athletic yang dibangun sejak lama, tak jua luntur termakan zaman. Memang, klub ini didirikan oleh campur tangan orang Inggris. Memang pula, dalam perjalanan awal, ada pemain-pemain asal negeri Ratu Elisabeth yang berlaga untuk Athletic. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, sejarah ini terlupakan. Berganti dengan jargon ‘hanya memainkan mereka yang berdarah Basque’.
Entah itu pemain jebolan akademi sendiri, mereka yang telah menikmati sepakbola di tanah Basque, atau mereka yang masih keturunan Basque meski berasal dari negeri yang jauh.
Maka, tak aneh jika nama Jonas Ramalho muncul. Dia adalah pria kulit hitam pertama yang tampil untuk Athletic. Ayahnya orang Angola, sementara ibunya berdarah Basque. Wajar pula bila seorang Bixente Lizarazu, bek kiri Prancis yang juara di Piala Dunia 1998, bisa bermain di Athletic karena memiliki garis darah Basque. Nasib yang sama juga terjadi pada seorang Fernando Amorebieta yang membela Venezuela. Seiring perjalanan waktu, banyak klub yang mengalah pada kenyataan dan uang, tapi Athletic Bilbao seperti hidup di dunia mereka sendiri dan menerjang apa pun yang terjadi dengan ‘darah Basque’ yang bergolak di dada.
San Mames memang tidak selamanya bertahan. Seiring dengan perjalanan waktu, klub merasa perlu membuka stadion baru dengan daya tampung lebih raksasa. ‘Terkuburlah’ tempat yang pernah dibuka pada Agustus 1913 tersebut per musim 2012-2013. Terkubur pula kenyataan sebagai stadion tertua di Spanyol.
Dalam rentang 100 tahun, San Mames menjadi saksi deretan laga para pejuang Athletic. Dari yang termanis, hingga yang paling pahit. Di tempat inilah mereka memastikan gelar juara La Liga pertama untuk klub pada musim 1929-30, ketika membekap Barcelona 4-3. San Mames juga memantulkan sorakan bergemuruh kala Agustin Gainza, salah satu legenda klub, mencetak 8 gol untuk mencukur Celta Vigo 12-1 di Copa del Generalisimo 1947.
Tapi, di sini pula Los Leones terkubur ketika dibantai Osasuna 1-8 di Liga Spanyol musim 1958/59. Dan, salah satu laga paling menusuk, adalah kala Athletic menang 2-1 dari Juventus di final Piala UEFA 1977. Mereka berhasil menekuk Nyonya Tua asal Italia. Sayang, singa-singa San Mames tetap gagal memegang trofi karena kalah agresivitas gol tandang. Juventus menang 1-0 di leg pertama di Comunale, dan itu mematahkan satu-satunya kesempatan Athletic menjadi kampiun Eropa di stadion sendiri; dalam rentang 100 tahun.
San Mames akhirnya diistirahatkan oleh zaman. Berganti dengan San Mames Barria sejak musim 2013-2014 dengan kapasitas 55.000 penonto. Namanya tetap sama, dan pria-pria berahang kokoh dan bertubuh tegap khas Basque akan tetap melindungi San Mames baru dari invasi musuh. Madu dan racun pasti tertuang di stadion baru ini. Apalagi dengan kebijakan hanya memakai darah Basque yang terus bertahan. Athletic tak perlu khawatir. Mereka memiliki salah satu fans sepakbola terbaik yang pernah menghirup udara dunia.
Perahu Kecil Yang Menghancurkan Kota Industri
Loyalitas pemain dan klub telah terbukti lewat aliran waktu. Loyalitas lain yang jauh berlipat lebih hebat, datang dari fans. Memang, seperti klub-klub besar di daratan Eropa lain, Athletic punya sejarah untuk dibanggakan. Mereka adalah salah satu dari tiga klub La Liga yang belum pernah mencicipi Segunda Division, di samping Barcelona dan Real Madrid. Athletic juga pernah mencatatkan kemenangan terbesar ketika menggebuk Barcelona 12-1. Pemain besar pun tak terhitung menghuni klub ini.
Setiap tahun, pencetak gol terbanyak La Liga akan mendapatkan gelar pichichi. Gelar ini sendiri terinspirasi dari seorang pemain bernama sama, Pichichi alias Rafael Moreno Aranzadi. Dialah pria yang mengantarkan empat gelar Copa del Rey untuk Athletic. Ada pula Telmo Zarra yang memegang rekor pencetak gol terbanyak dalam semusim di Liga Spanyol (40 gol) sebelum datangnya era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Seorang Andoni Zubizarreta, salah satu kiper terbaik Spanyol sepanjang masa, juga pernah mencicipi manisnya San Mames. Demikian seterusnya, hingga kemudian datang generasi emas sejak awal dekade 2010-an seperti Markel Susaeta, Iker Muniain, Mikel San Jose, dan Jon Artenetxe.
Namun, kebanggaan fans lebih daripada sekadar gelar dan uang. Trofi terakhir didapatkan pada musim 1983-84. Ketika itu Los Leones meraih Liga Spanyol dan Copa del Rey sekaligus. Selebihnya, sudah 30 tahun lebih fans mengenal sakitnya tumbang di partai puncak, atau dibantai habis-habisan oleh klub-klub dengan modal uang dan pemain besar. Bahkan dalam dua musim beruntun (2005/06 dan 2006/07) Los Leones sempat berjuang lolos dari zona degradasi hingga pekan terakhir kompetisi. Hal yang membuat fans menyebut masa-masa suram ini sebagai ‘El Bienio Negro’ (Dua tahun hitam).
Artinya, masalah pulang dari San Mames dengan kekecewaan menggumpal, bukan hal baru. Tapi, jangan lupakan. Ini tanah Basque. Di tempat ini, rasa solidaritas dan kepercayaan diri mengalahkan segalanya. Kebanggaan menyaksikan Athletic, membuat fans tak goyah. Dunia bagi mereka telah tergambar, dunia menyaksikan singa-singa perkasa bertempur; dan itu lebih dari sekadar cukup.
Masalah fanatisme, tak perlu dipertanyakan lagi. Di berbagai tempat di Bilbao, masih terpajang foto kepulangan para pahlawan Athletic ketika berhasil menggenggam trofi terakhir mereka, Copa del Rey 1983-84. Foto tersebut demikian heroik, singa-singa penjaga San Mames harus menjalani partai final di Santiago Bernabeu, Madrid, menghadapi Barcelona. Gol tunggal Endika Guarrotxena menyelesaikan laga 100 ribu penonton itu. Kembali ke kampung halaman, para pahlawan menempuh perjalanan ‘tak biasa’.
Dengan menumpang perahu melintas aliran sungai, mereka disambut sebagai raja. Mereka bagaikan ‘meninju’ pemandangan di belakang perahu tersebut, gedung-gedung menjulang khas dunia industri. Foto hitam-putih ini juga yang memercikkan api heroism pasukan Basque di masa-masa mendatang. Dengan segala konsekuensi memakai darah Basque, mereka bertempur melawang sepakbola yang dibangun dari uang!
Air Mata Si Kecil Ibai
Kenangan masa silam yang masih tersimpan rapi itu, hanyalah setitik dari sekian bukti loyalitas fans terhadap Athletic Bilbao. Tak peduli tua atau muda, segalanya akan dipertaruhkan. Termasuk seorang Ibai, bocah berusia delapan tahun yang ikurrina-nya menerobos batas stadion megah bernama Vicente Calderon.
25 Mei 2012, malam semakin larut. Athletic Bilbao mengalami salah satu musim paling luar biasa dalam 20 tahun terakhir. menembus dua final dalam dua ajang berbeda. Europa League dan Copa del Rey. Setelah beberapa hari sebelumnya klub ini dikandaskan Atletico Madrid 3-0 di final Europa League, puluhan ribu fans Athletic yang berbondong ke Madrid ---termasuk Ibai dan sang ayah--- berharap takdir mau berpihak pada tim ini.
Los Leones akan berhadapan dengan Barcelona, finalis tahun lalu. Di atas kertas, Barca yang memiliki Lionel Messi tampak mudah mencukur pasukan Marcelo Bielsa. Tapi, Ibai kecil, yang ditempa gagahnya kehidupan orang Basque, tak surut. Dibawanya serta ikurrina, bendera Basque sebagai bukti rasa cinta untuk klub. Bukan ikurrina biasa. Sama sekali bukan.
Ikurrina milik Ibai ini sudah melintas negara; menjadi saksi kala perjuangan gagah berani Athletic mampu menekuk klub setangguh Manchester United 2-3 di Old Trafford pada tahun yang sama. Hati kecil Ibai pasti berharap, ikurrina ini akan berkibar lagi di Vicente Calderon.
Hati Ibai berdebar ketika peluit tanda laga dimulai, berbunyi. Denyut jantungnya berdetak lebih cepat ketika timnya mampu berbagi penguasaan bola dengan Barcelona. Tapi mimpi, masih tetaplah mimpi. Foto legendaris para pahlawan yang menembus sungai pada tahun 1984, masih merupakan kehebatan Athletic yang terakhir. Pedro Rodriguez dan Lionel Messi bergantian menjebol gawang Gorka Iraizoz untuk menciptakan skor 3-0.
Air mata mengalir, itu pasti. Empat tahun sebelumnya, tahun 2009, ketika Ibai belum mengenal sepakbola, klub yang sama pula yang menaklukkan Bilbao di ajang serupa. Apa pun yang terjadi, kepala harus tegak. Tak ada waktu untuk berkubang dalam kepedihan.
Carles Puyol, kapten Barcelona, tahu apa yang dilakukan untuk menghormati fans lawan. Meskipun ia tidak bermain karena cedera, Puyol masuk ke lapangan, membawa bendera Catalan, beserta ikurrina … milik Ibai! Anak delapan tahun memandang bangga kepada sang kapten yang menghibur sekian pemberani yang
hadir di Madrid.
Namun, cerita belum usai. Puyol tak mengetahui ikurrina itu milik siapa. Ia mengambil begitu saja dalam keriuhan. Sebaliknya, Ibai mulai menangis karena ikurrinanya tak jua kembali. Pertandingan sudah usai, dan semua orang akan pulang.
Sang ayah, seperti kebanyakan pria Basque, percaya tak ada yang tak mungkin. Ia menerjang penjagaan polisi berkuda. Tujuannya cuma satu, mendapatkan ikurrina sang anak, apa pun yang terjadi. Didekatinya bus pemain Athletic yang belum beranjak dari stadion. Dikirimkannya pesan kepada sopir bus. Memahami maksud ayah Ibai, sang sopir pun berkontak dengan sopir bus pemain Barcelona untuk kemudian mengirimkan sinyal kepada Puyol.
Melewati barikade polisi, akhirnya Ibai dan ayahnya bertemu Puyol. Hati ibai masih berkecamuk. Apakah Puyol masih membawa ikurrina miliknya? Tidakkah bendera ini ditinggalkan di loker, atau diberikan kepada fans Bilbao yang lain? Suasana begitu kacau, semua bisa terjadi.
Begitu sang kapten turun dari bus dengan ikurrina di tangan, wajah Ibai berubah ceria. Itu ikurrinanya! Ikurrina paling berharga yang membawanya melintas jarak, demi Athletic! Puyol, mengetahui perjuangan sang anak demi mendapatkan benderanya kembali, mencium dan memeluk Ibai.
Mata Ibai masih berkaca-kaca ketika para wartawan mengerumuninya. Namun, senyumnya telah terkembang. Anak kecil berusia delapan tahun, tak mengeluarkan kata mutiara sepatah pun. Ia dan sang ayah hanya bergerak, dan terus bergerak, demi Athletic, demi mimpi, dengan segenap keberanian yang meledak.
Demi Sebuah Bendera
Kisah Ibai, adalah bukti keberanian fans Los Leones menerjang ‘api’. Tidak hanya berhenti di sana. Beberapa hari sebelumnya, ada perjuangan yang barangkali lebih heroik. Menjelang fnal Europa League, 400 fans Athletic tersesat di Budapest, Hungaria. Mereka terbengong ketika menyaksikan, tidak ada nama Arena Nationala dalam peta. Berkutat-kutat di kota tersebut, kaki mereka terlalu lelah sebelum menyadari, mereka keliru nama. Laga puncak turnamen yang dulu bernama Piala UEFA ini, berlangsung di Bukarest, Rumania. 500 mil adalah jarak dua kota tersebut, tapi 500 mil bukanlah apa-apa bagi para remaja yang sempat mengundang ‘gelak tawa’ masyarakat Spanyol ini.
Masih ada sekian cerita tentang salah satu suporter paling ‘eksotis’ di Eropa. Dari kisah-kisah lembut di atas, kita bergerak ke kisah yang lebih keras. Semisal, fans Los Leones yang mengencingi suporter Anderlecht pada tahun 2010. Atau, publik San Mames yang tak segan menampilkan suara mereka untuk meminta Israel angkat kaki dari tanah Palestina. Segala akan dikorbankan demi segala yang menyangkut tim dan kebanggaan; ya, sepakbola adalah agama di sini.
Sejatinya, Anda tak perlu deretan bukti di atas. Beberapa saat sebelum para pahlawan mereka berlaga, para fans menyanyikan hymne tak biasa. Diawali dengan seruan panjang sang dirigen yang menggetarkan hati, teriakan mereka “Kalian untuk kami, kalian terlahir dari kami” telah menggema di tanah demi tanah benua Eropa.
Ya, Athletic Bilbao bukanlah sekadar klub sepakbola, melainkan identitas yang harus dijaga sampai mati. Dan meski waktu bergulir, singa-singa Athletic –entah itu fans, pemain, atau direksi klub-- akan terus mempertahankan teritori mereka. Dari klub lawan, dari kejahatan uang, dan dari sekumpulan mertzenarioak. Nenek moyang mereka, sejak titik awal permulaan hidup tanah Basque, telah mengajarkan pepatah, “bumi hanyalah milik orang-orang berani”.
Labels:
artikel,
athletic bilbao,
esai,
fitra firdaus aden
J.K. Rowling, Penulis Harry Potter, Mengadopsi Kisah Islami dalam Karyanya?
| Tales of Beedle the Bard |
J.K. Rowling, pengarang tujuh seri Harry Potter yang menggemparkan dunia, dalam sebuah wawancara khusus dengan penerbitnya sendiri, Bloomsbury pada 31 Juli 2007, pernah bercerita bahwa cerpennya, “The Tale of Three Brothers” dalam Tales of Beedle the Bard, sedikit banyak terpengaruh oleh kisah “The Pardoner’s Tale” (dalam kumpulan kisah The Canterbury Tales) karya Geoffrey Chaucer (1342-1400).
Hal yang (mungkin) tidak diketahui J.K. Rowling, kisah buatan Chaucer tersebut sangat terpengaruh oleh kisah yang mirip dalam Musibah Nama karya Fariduddin Attar, seorang sufi kenamaan. Menariknya, kisah Chaucer yang mempengaruhi J.K. Rowling ini seolah kehilangan pemaknaan terdalamnya.
Sama seperti kisah apel dan pemanah ulung yang termaktub dalam Musyawarah Para Burung-nya Attar dan dimodifikasi sedemikian rupa di dataran Eropa, terdapat transmisi pengetahuan ilahi yang terputus kala Chaucer mengolah “The Pardoner’s Tale” dari Musibah Nama. Kita tentu tidak perlu mempertanyakan lagi apakah transmisi pengetahuan ilahi tersebut bisa ditemukan oleh J.K. Rowling.
“The Tale of Three Brothers”
Sebelum lebih jauh, ada baiknya kita menyimak “The Tale of The Brothers”. Dikisahkan, ada tiga bersaudara yang mengembara bersama-sama. Suatu saat, mereka terhenti di tepi sungai yang tak mungkin dilintasi. Seperti halnya kisah lain, ketiga bersaudara itu berhasil menciptakan jembatan ajaib untuk melintas sungai.
Ketika tiba di tengah jembatan, mereka bersua dengan Sang Maut. Sebenarnya Sang Maut menahan amarah karena kehilangan peluang untuk mendapatkan nyawa ketiga bersaudara itu. Namun, ia bersembunyi dalam kedok memikat. Sang Maut justru menawarkan untuk mengabulkan satu permintaan dari masing-masing ketiga bersaudara tersebut.
Si Sulung meminta agar ia selalu menang dalam setiap perkelahian. Si Tengah memohon agar ia mampu membangkitkan seseorang dari kematian. Si Bungsu, seperti dalam kisah-kisah lain, tidak mempercayai Sang Maut. Ia meminta Sang Maut tidak mengikutinya lagi. Alhasil, Sang Maut terpaksa memberikan Jubah Tak Terlihat; seperti yang dimiliki Harry Potter. Setelah ada jaminan bahwa permintaan ketiganya dikabulkan, tiga bersaudara tersebut terpisah.
Si Sulung memang senantiasa tidak terkalahkan dalam pertarungan. Namun, kala ia terlelap, kesadarannya hilang, ia dibunuh. Sementara itu, dengan kemampuannya membangkitkan orang mati, Si Tengah membangkitkan kekasihnya. Namun, sang kekasih tidak bisa hidup sepenuhnya. Ia justru selalu sedih dalam kehidupan keduanya ini. Maka, Si Tengah memutuskan untuk bunuh diri menyusul sang kekasih.
Si Bungsu yang memiliki Jubah Tak Terlihat, selalu selamat dari Sang Maut. Hal ini terus berlangsung sepanjang hidup hingga akhirnya Si Bungsu memberikan jubah tersebut kepada anaknya. Keberhasilan Si Bungsu menyelamatkan diri dari Sang Maut membuatnya kini tenang dalam mengakhiri hidup. Jika kedua kakaknya mengakhiri hidup dengan cara mengenaskan, Si Bungsu tidak demikian. Maka, ia menyambut Sang Maut dengan bahagia.
Kisah di atas memiliki banyak pesan moral. Pertama, hati-hatilah jika bergantung pada orang lain (dalam hal ini memohon sesuatu pada Sang Maut). Kedua, jangan percaya pada seseorang yang sejak awal berniat jahat. Ketiga, mau menghindar ke manapun juga, kematian pasti menjemput seseorang. Jadi, yang mesti dilakukan justru bukan takut pada Sang Maut, melainkan sebagaimana adanya saja.
Sudah disebutkan di muka bahwa “The Tale of The Brothers” terpengaruh oleh “The Pardoner’s Tale”. Kedua kisah ini sama-sama menceritakan tiga orang yang bertemu dengan kematian. Lalu, sejauh apa keterpengaruhan J.K. Rowling?
![]() |
| Ilustrasi The Pardoner's Tale oleh Warwick Goble |
Kisah dalam “The Pardoner’s Tale”
“The Pardoner’s Tale” adalah kisah ke-14 dalam The Canterbury Tales. Sebagai pengantar, The Canterbury Tales sendiri berisi kumpulan kisah dari para peziarah yang jumlahnya 30 orang. Mereka berkelana dari Southwark ke Canterbury untuk mengunjungi monumen Santo Thomas Becket di dekat Katedral Canterbury. Ketigapuluh orang ini, termasuk di dalamnya Chaucer sendiri, memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Setiap seseorang selesai bercerita, akan ada orang lain yang dipaksa atau tidak, memberikan cerita yang berbeda dari cerita teman sebelumnya.
Dalam “The Pardoner’s Tale”, dikisahkan ada tiga orang pemabuk (bukan tiga bersaudara) berusia muda yang sepanjang hidup mereka hanya gemar berpesta. Mereka digambarkan telah melakukan semua kejahatan: merampok, mabuk, main wanita, dan sebagainya. Suatu saat, kala sedang minum-minum di sebuah kedai, ketiganya melihat adanya peti jenazah yang diarak; melintas.
Ketiganya bertanya jenazah siapakah itu. Sang pemilik kedai menjawab bahwa jenazah itu adalah rekan ketiga pemabuk tadi. Pemilik kedai itu menerangkan bagaimana rekan ketiga pemabuk itu dicuri napasnya oleh Sang Maut kala ia tidur pasca mabuk. Tersulut oleh rasa kesetiakawanan dan penasaran, ketiga pemabuk itu berniat mencari Sang Maut. Bahkan mereka bersumpah mengikat tali persaudaraan demi mengakhiri hidup Sang Maut agar tidak ada lagi kematian.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang tua, yang compang-camping dan penih derita; yang mengaku selalu ingin menemui Sang Kematian, tapi senantiasa gagal pula. Orang tua bijaksana ini berkata, jika ketiga pemuda tersebut ingin menjumpai Sang Maut, mereka mesti mendatanginya di bawah pohon Oak.
Ketiganya segera berangkat menuju pohon Oak tersebut. Nyatanya, di sana tidak ada apa-apa. Bahkan, yang muncul justru sesuatu yang tidak diduga-duga: emas yang berserakan. Alih-alih fokus pada pencarian mereka, ketiga pemabuk ini lupa daratan. Mereka kemudian memutuskan untuk bermalam di bawah pohon Oak tersebut untuk kemudian pergi bersama emas pada pagi harinya. Namun, mereka membutuhkan makanan dan anggur pula.
Maka, dibuatlah sebuah perlombaan antara ketiganya untuk menentukan siapa yang mesti membeli roti dan anggur. Nasib sial menimpa salah satu yang paling muda. Ialah yang harus ke kota untuk membeli persediaan.
Di tengah perjalanan, niat licik hinggap pada Si Paling Muda ini. Ia ingin memiliki seluruh emas. Maka, ia meminta seorang pembuat obat (apoteker) membubuhkan racun tikus pada roti dan anggur untuk kedua rekannya. Sementara itu, ia berpuas diri dengan roti dan anggurnya sendiri yang tanpa racun.
Namun, tak diduga, kedua pemabuk lain yang menunggu emas juga bersiasat agar Si Paling Muda tidak mendapatkan jatah emas. Keduanya bersepakat untuk membunuh Si Paling Muda begitu ia datang. Alhasil, kala Si Paling Muda tiba di bawah Pohon Oak, dua sahabatnya langsung membunuh tanpa ampun.
Keduanya berpesta membayangkan nikmatnya berbagi emas hanya berdua pada keesokan harinya sambil menenggak anggur beracun. Tentu saja dua pemabuk itu mati seketika oleh racun tikus yang dibubuhkan Si Paling Muda. Di titik inilah ucapan orang tua yang pernah ditemui mereka bukan isapan jempol belaka. Kematian memang ada di Pohon Oak dan menjemput mereka dengan cara yang sama sekali tidak diduga ketiga pemabuk ini.
Para Pencuri Lain di Daratan Eropa
Kisah yang sangat mirip dengan kisah Chaucer dalam “The Pardoner’s Tale” juga terdapat di berbagai wilayah di Eropa. Misalnya di Italia, Jerman, Prancis, dan Portugal. Di keempat wilayah ini, terdapat perbedaan tentang jumlah pemabuk (atau perampok) yang memperoleh emas. Di Italia dan Jerman, jumlahnya tiga, sama seperti di Inggris, sedangkan di Prancis dan Portugal jumlahnya empat.
Intinya, empat kisah dari empat wilayah ini mengisahkan adanya sekelompok perampok yang mendapatkan emas. Seorang perampok (atau dua orang jika perampoknya empat) diminta membelikan makanan dan anggur di kota.
Namun, perampok yang diutus ini berkhianat dan memberikan racun pada makanan dan anggur tersebut. Sementara itu, rekan-rekannya menyiapkan pembunuhan. Akhirnya, ketiga (atau keempat) perampok tersebut mati terbunuh oleh senjata sahabat masing-masing tanpa sempat mereguk nikmatnya emas.
Di Italia, disebutkan ada tiga perampok: Tagliagambe, Scaramuccia, dan Carapello yang bergabung untuk memulai perjalanan menuju padang pasir. Di sisi lain, terdapat seorang suci, Santo Antonio yang tengah digoda oleh Roh Avarice (Roh Jahat) di padang pasir yang dituju ketiga perampok tersebut. Awalnya, Avarice menciptakan sekumpulan perak agar Santo Antonio berpaling pada nikmatnya mereguk harta. Avarice, barangkali mengambil istilah Jalaluddin ar-Rumi, berkata, “bahkan, senar (penjerat burung) yang demikian ini akan mampu menjerat burung paling bijaksana sekalipun”.
Santo Antonio yang hatinya suci tidak mempan oleh tipuan Avarice; bahkan ketika Avarice menyulap perak itu menjadi tumpukan emas. Godaan berikutnya datang dari setan (Satanasso). Santo Antonio tetap bergeming dan terus berjalan melintas padang pasir.
Suatu saat, Santo Antonio bertemu dengan ketiga perampok tadi. Santo Antonio berkata bahwa ia telah melepaskan diri dari Sang Maut. Penasaran, ketiga perampok itu menelusuri jejak orang suci ini dan menyadari bahwa yang disebut Santo Antonio dengan Sang Maut adalah emas. Tentu saja ketiganya tertawa memperolok kebodohan Santo Antonio yang tidak mau meraup sedikit saja dari sekian emas yang ada di depan mata.
Seperti dalam “The Pardoner’s Tale”, ada salah satu dari ketiga perampok yang mesti membeli makanan. Kali ini, nasib sial jatuh pada Scaramuccia. Ia pergi ke Damaskus dengan niatan menguasai emas sendirian.
Maka, seperti Si Paling Muda dalam “The Pardoner’s Tale”, Scaramuccia mendatangi apoteker, memintanya untuk memberikan racun pada daging dan anggur untuk Tagliagambe dan Carapello. Kedua sahabatnya juga berencana menikmati emas berdua tanpa Scaramuccia. Maka, begitu Scaramuccia kembali, Tagliagambe dan Carapello dengan sigap membunuhnya. Alhasil, kedua orang itu juga mati karena racun tikus sebelum menikmati gelimang emas.
Rahasia “Yesus” dalam Musibah-Nama
Kisah para perampok di Eropa ini seperti yang sudah disebutkan, bersumber pada sebuah kisah dalam kitab Musibah Nama karya Fariduddin Attar. Kisah aslinya sendiri merupakan kisah khas para sufi yang membutuhkan pemahaman dasar untuk mengetahui makna tersembunyinya. Sejauh ini, dari kisah para perampok di atas, barangkali orang yang sibuk mencari pesan moral akan berkata bahwa kisah-kisah tersebut menunjukkan betapa berbahayanya keserakahan manusia. Para pembuat cerita secara jitu menunjukkan kelemahan manusia pada emas (harta duniawi) yang akan menggiring mereka pada kematian, tidak hanya kematian fisik, tetapi juga kematian hati.
Namun, pada Musibah Nama, mungkin kita akan sedikit terkejut. Dikisahkan, Nabi Isa tengah melakukan perjalanan bersama seorang Yahudi. Kala itu Nabi Isa membawa tiga buah roti. Yang pertama dimakan beliau, yang kedua diberikan kepada Si Yahudi, dan yang terakhir disimpan. Ketika Nabi Isa tengah pergi sesaat, Si Yahudi mengambil roti yang disimpan tadi lantas memakannya. Nabi Isa yang menemui roti ketiga hilang, bertanya kepada Si Yahudi perihal roti tersebut. Seperti halnya kaum Yahudi dalam Alquran yang digambarkan ribet dan mudah membantah, Si Yahudi tidak mau mengakui bahwa ialah pemakan roti tersebut.
Nabi Isa sebenarnya mengetahui kelicikan Si Yahudi. Namun beliau tidak langsung menghakimi. Nabi Isa ingin pengakuan jujur dari sang teman seperjalanan. Mereka pun melanjutkan pengembaraan hingga tiba di pantai. Di sinilah Nabi Isa kembali menanyakan roti yang hilang. Si Yahudi menyergah dan balik mempertanyakan sikap Nabi Isa yang tidak mau mempercayai ucapannya. Saat itulah muncul seekor rusa dari kejauhan yang kemudian rusa ini disembelih. Nabi Isa dan Si Yahudi menyantap rusa tersebut hingga yang tersisa hanyalah tulang. Nabi Isa menyatukan tulang-tulangnya dan secara ajaib rusa itu kembali hidup. Setelah menampilkan mukjizat menghidupkan makhluk yang telah mati ini, Nabi Isa kembali mempertanyakan roti yang hilang. Si Yahudi tetap saja berkeras untuk tidak mau mengakui.
Akhirnya, Nabi Isa mengambil tiga genggam tanah dan berkat kebesaran Allah tanah itu menjadi emas. Nabi Isa berkata bahwa emas pertama untuk beliau, emas kedua untuk Si Yahudi, dan emas terakhir untuk pemakan roti yang entah siapa itu. Saat inilah Si Yahudi baru mengakui bahwa ialah pemakan roti. Dengan demikian, ia akan mendapatkan dua dari tiga emas tersebut. Nabi Isa menganggap Si Yahudi gagal dalam ujian kejujuran. Maka beliau meninggalkan Si Yahudi dan berkata bahwa beliau tidak membutuhkan apa pun, termasuk emas. Betapa girangnya Si Yahudi karena ia mendapatkan tiga emas meski seharusnya ia hanya memiliki satu.
Tak lama setelah kepergian Nabi Isa, muncul dua orang yang menginginkan emas tersebut. Tentu saja Si Yahudi tidak mau memberikan emas yang didapatnya tadi. Setelah beradu urat leher, ketiga orang itu akhirnya bersepakat untuk membagi ketiga emas tadi secara adil. Namun, karena lapar, diputuskanlah salah satu dari mereka untuk membeli makanan di kota.
Si Yahudi berangkat dan membeli roti. Ia memakan roti untuk dirinya sendiri sedangkan dua roti untuk dua pendatang tadi dicampur racun. Sementara itu, seperti dalam kisah-kisah yang terpengaruh kisah ini, dua orang pendatang tadi bersepakat untuk membunuh Si Yahudi. Pada akhirnya, ketiga orang yang memperebutkan emas tersebut tewas dengan mengenaskan. Si Yahudi yang sejak awal berniat curang hanya untuk masalah sepotong roti, kini mati sebelum mendapatkan (satu saja) emas yang semestinya sudah menjadi haknya.
Menyulap Tanah Menjadi Emas
Apakah kisah dalam Musibah-Nama ini hanya memiliki pesan moral tentang keserakahan manusia yang berbahaya semata? Kita perlu melihat bagaimana Nabi Isa mengubah tanah menjadi emas. Dalam tradisi sufi, pengubahan sebuah benda menjadi emas bukan hal baru; apalagi tanah. Manusia sendiri (yang belum mendapatkan pengetahuan ilahi) sering didefinisikan sebagai tanah oleh para sufi.
Peristiwa “menyulap” tanah biasa menjadi emas bukanlah perkara mukjizat. Peristiwa ini adalah perumpamaan tentang pengubahan seorang manusia biasa; yang awalnya masih terjebak pada sifat-sifat tidak mulia (sifat tanah) menjadi manusia sempurna yang memilki sifat seperti logam mulia (emas). Jadi, Si Yahudi tidak hanya semata-mata terpukau oleh gelimang emas. Ia terkesima melihat bagaimana manusia sempurna mewujud dalam sosok Nabi Isa. Maka, Si Yahudi yang masih mudah terpukau oleh sesuatu yang ajaib ini melakukan cara-cara yang seolah sama dengan cara yang dilakukan Nabi Isa. Sayangnya, Si Yahudi hanya meniru perilaku Nabi Isa pada tataran luar. Ia hanya ingin menjadi manusia emas tanpa mau berusaha menjadi hal yang ditujunya.
Alih-alih berhasil menjadi manusia emas, tingkah laku Si Yahudi justru memancing kemunculan dua orang pendatang; orang yang tidak mengetahui apa pun tentang manusia emas dan hanya mendengar dari berita demi berita. Dua orang pendatang ini bisa jadi mengibaratkan umat beragama yang datang belakangan; yang memeluk agama setelah ditinggal pembawa risalahnya tanpa mau menggali lebih dalam tentang agama tersebut. Dua orang pendatang ini menunjukkan betapa berbahayanya orang yang hanya sebatas taklid buta pada “agama” karena “agama” yang mereka anut tidak semurni agama yang diajarkan oleh pembawa risalah (nabi).
Nabi Muhammad saw. sendiri sudah memperingatkan bahaya kemunculan orang-orang seperti dua pendatang ini. Sabda Rasulullah, “Akan tiba masanya ketika tidak ada yang tersisa dari Islam selain namanya; dan tiada yang tersisa dari Alquran kecuali wujudnya (tidak pernah dibaca). Tempat ibadah akan kehilangan pengetahuan dan maksud ibadah; orang-orang yang tahu akan menjadi manusia terburuk di bawah langit; Pertikaian dan perselisihan akan didengungkan dari mereka dan akan dikembalikan pada mereka.”
Di sisi lain, Rasulullah juga menerangkan bahwa penentang Islam, orang-orang yang sok mengetahui agama, bahkan kadang “melawan” sunnah beliau. Sabda beliau, “Perumpamaan diriku (Nabi Muhammad saw.) adalah bagaikan seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu mulailah laron-laron dan serangga-serangga (umat manusia) mengerumuni api. Laki-laki tersebut mencegat laron dan serangga-serangga tadi, jangan sampai terpanggang dalam api. Aku akan selalu menarik kalian dari belakang, jangan sampai kalian tertimpa kemalangan demikian, tetapi ada di antara kalian yang memberontak lepas dari tanganku.”
Kembali pada Si Yahudi dan dua pendatang, sikap mereka yang memperebutkan emas dan berakhir dengan kematian bisa dipahami sebagai kegagalan mereka menjadi manusia emas. Karena terfokus pada keajaiban-keajaiban atau prinsip orang yang berpengetahuan ilahi mesti begini dan begitu, mereka melupakan esensi ketulusan dan kemurnian hati. Alhasil, manusia emas tidak didapat, bahkan mereka kemudian mati mengenaskan. Ruh mereka gagal mendapatkan asupan yang baik selama di dunia dan menjelma menjadi ruh gelap; yang tidak bisa menampung Cahaya Allah di Hari Akhir ketika tidak ada cahaya lain selain cahaya-Nya.
Bagi orang yang berada di luar lingkaran Islam, degradasi pemahaman tentang konsep “tanah menjadi emas” adalah keniscayaan karena mereka tidak terbiasa mengenal Islam. Namun, bagi orang Islam, jika mereka kurang mengenal kisah-kisah semacam ini, yang polanya tersebar di mana-mana, tentu kelemahan membaca kisah ini (hanya terfokus pada pesan moralnya saja) bisa dikatakan menunjukkan seberapa jauh keislamannya.
Bencana Pengetahuan
Kembali pada J.K. Rowling yang terinspirasi oleh Geoffrey Chaucer (dan Chaucer terpengaruh oleh Fariduddin Attar), “The Tale of Three Brothers” menunjukkan betapa Islam pernah memasuki Eropa sedemikian rupa sehingga cerita-cerita para sufi disimpan dan diolah oleh orang Eropa dengan cara mereka sendiri. Perubahan drastis dari sebuah kisah penuh pengetahuan ilahi menjadi kisah penuh pesan moral juga menunjukkan bahwa ilmu hanya bisa digunakan dengan tepat oleh orang yang mengetahuinya.
Seperti para perampok dalam “The Tale of Three Brothers” , “The Pardoner’s Tale”, Tiga Perampok di Italia, dan Si Yahudi dalam Musibah Nama, kadang dalam mempelajari agama (Islam) dan Alquran, kita melakukan hal serupa. Kita terfokus pada kekakuan pendapat ulama dan melupakan bahwa Alquran memiliki jenjang makna yang bertingkat sesuai dengan keadaan spiritual kita. Sabda Rasulullah, “Bencana pengetahuan adalah ketika pengetahuan dilupakan; dan penyia-nyiaannya adalah ketika berbicara pada orang yang tidak memahami.” Kita bisa menduga sendiri apakah bencana tersebut sudah menimpa umat Islam sekian ratus tahun atau belum.
DAFTAR PUSTAKA
Chaucer, Geoffrey. 2007. Canterbury Tales (penerjemah ke bahasa Inggris Modern A. S. Kline). Diambil dari e-chaucer.com pada Sabtu, 28 Mei 2011 pukul 01:37 WIB.
Furnivall, F.J., Edmund Brock, dan W.A. Clouston. 1888. Originals and Analogues of Some of Chaucer’s Canterbury Tales. London: N.Trubner & Co.
Rowling, J.K. 2008. The Tales of Beedle the Bard. London: Children’s High Level Group
Rumi, Jalaluddin. 1888. Masnavi I (penerjemah ke dalam bahasa Inggris E.H. Whinfried). Diambil dari sacred-texts.com
Subscribe to:
Posts (Atom)



