Showing posts with label fitra firdaus aden. Show all posts
Showing posts with label fitra firdaus aden. Show all posts
Tuesday, August 26, 2014
Ketika Anda Harus Menjadi Pemain Cadangan
Ketika pertama kali mendunia, Bojan Krkic langsung dipuja-puja. Pemain berdarah Serbia ini digadang-gadang sebagai calon bintang Barcelona. Betapa tidak? Di ujung musim panas tahun 2007, dia memecahkan dua rekor sekaligus. Dia adalah pemain termuda yang tampil untuk Barcelona di Liga Champions. Bojan juga tercatat sebagai pencetak gol paling belia bagi klub tersebut di Liga Spanyol. Ketika itu, Bojan baru beberapa hari merayakan ulang tahun ke-17.
Yang terjadi dalam enam musim berikutnya, tidak pernah terbayangkan. Bojan yang lincah, harus menyerah. Ia terpental dari persaingan. Bukannya menjadi pemain inti sejajar dengan Lionel Messi, pria mungil ini harus pergi. Dia dipinjamkan ke Roma, Milan, dan Ajax sebelum akhirnya hijrah ke klub papan bawah Liga Inggris, Stoke City.
Bojan tidak mungkin bersaing. Barcelona terus membeli penyerang-penyerang istimewa dengan penjualan kaus mendunia. Zlatan Ibrahimovic, David Villa, Alexis Sanchez, Neymar, hingga terakhir Luis Suarez bukan levelnya.
Di luar sana, orang lain membuat kejutan di Austria. Namanya Jonathan Soriano. Sama seperti Bojan, dia pernah mencicipi rasanya bergabung di Barcelona. Perbedaannya, Soriano bukanlah superstar.
Walaupun sempat menjadi raja pencetak gol, hal itu dicatatkannya di Liga Spanyol Divisi Dua. Ketika hijrah dari Barcelona B, pemain kelahiran 1985 ini tak sempat menikmati puji-pujian media. Tahun 2012, ketika Bojan masih mengais mimpi bisa tampil untuk tim utama Barcelona, Soriano melakukan sebuah langkah; yang barangkali setara dengan langkah pertama Neil Armstrong di bulan.
Jonathan Soriano pindah. Dia tidak mencari klub elite yang satu level dengan Barcelona. Dia juga tidak bergabung ke tim-tim lain iga Spanyol yang biasa dibantai klub lamanya. Soriano memilih Red Bull Salzburg, juara Liga Austria.
Dalam sekejap nama Soriano terbang, melesat ke awang-awang. Statusnya sebagai mantan pemain Barca, ketajamannya yang makin menggila, dan tingkat kompetisi yang lebih rendah, membuatnya menjadi 'bintang'. Ia jelas tidak akan pernah sejajar dengan Lionel Messi. Ia bahkan tak akan sama dengan Bojan. Tetapi pilihan Soriano pergi ke liga dengan kasta lebih rendah, membuatnya menggenggam sesuatu yang hingga kini tak didapati Bojan.
Ada saatnya kita berada di simpang jalan. Hendak menjadi Soriano, atau Bojan. Bertahan di sebuah keadaan yang menuntut persaingan tinggi, atau 'turun kasta' ke level yang sesuai dengan kemampuan. Menjatuhkan diri seperti Soriano, seolah menjadi satu-satunya jalan. Untuk apa bertarung di medan yang sengit, jika ternyata bisa mengambil untung lebih banyak di medan yang lebih ringan? Para Soriano adalah mereka yang ingin menang. Orang-orang yang memahami, diam dan sabar tidak akan cepat mengubah keadaan.
Di sisi lain, berkutat di tempat yang penuh persaingan, akan lebih menyakitkan. Ada risiko, kita tidak akan pernah menjadi pemain utama. Ada risiko, sepanjang hidup nanti kita cuma pemain cadangan. Pemain yang cuma keluar di menit-menit akhir, yang digunakan pelatih hanya untuk mengamankan skor pertandingan.
Tapi, menjadi Bojan --walaupun akhirnya terlempar ke level yang lebih bawah--- adalah (juga) cara seorang pemenang. Cara mereka yang mau memahami, tidak ada yang namanya keterbatasan. Cara mereka yang menyadari, suatu saat kerja keras luar biasa akan dijawab Tuhan. Bahkan meski jawaban itu lebih misterius daripada kehidupan.
Labels:
artikel,
barcelona,
bojan krkic,
fitra firdaus aden,
jonathan soriano,
lionel messi,
sepak bola
Saturday, July 12, 2014
Athletic Bilbao, Klub Anak Kampung
![]() |
| Iker Munian, Ikon Terpenting Athletic Bilbao Dekade Ini (Melepas Baju) |
“Kami juara berkat 11 pemuda kampung,”
Enrique Guzman, presiden Athletic Bilbao
saat memenangi Copa del Generalisimo 1958 atas Real Madrid
Enrique Guzman, presiden Athletic Bilbao
saat memenangi Copa del Generalisimo 1958 atas Real Madrid
Sejarah panjang Basque hanya mengenal keberanian. Para lelaki perkasa yang terlahir di tanah ini telah berperang dengan semua musuh yang hendak menjarah. Romawi, Viking, hingga Jenderal Franco. Tak ada satupun yang bisa memadamkan api keberanian itu. Dan, keberanian pula yang tergambar nyata dari Athletic Bilbao, klub yang masih ngotot hanya menurunkan pemain berdarah Basque di era kala sepakbola identik dengan uang dan gelar semata.
Klub Paling Bebal Abad XXI
Dekade 2000-an dalam sejarah sepakbola akan dikenang sebagai dekade ketika uang bisa mengubah sebuah klub menjadi jawara. Para pebisnis berbondong-bondong membeli sebuah klub, lalu menggelontorkan dana tanpa batas untuk memborong gelar demi gelar.
Semisal, Roman Abramovich yang membeli Chelsea pada musim panas 2003. Tahun pertama saja, juragan minyak itu mengeluarkan 121 juta poundsterling untuk mendatangkan para ‘mercenary’ (tentara bayaran/ mata duitan), demikian kata orang-orang sinis.
Demikian pula yang dilakukan oleh Syeikh Mansour yang menggenggam Manchester City sejak September 2009. Dalam dua tahun awal kekuasaan sang syeikh, lebih dari 200 juta poundsterling dihabiskan untuk mengejar pemain. Hasilnya, The Citizens yang sempat berkutat di jurang degradasi, bisa menjadi kampiun Liga Inggris hanya tiga tahun kemudian.
Syeikh Al-Thani yang mengambilalih Malaga dan Qatar Investment Authority (QIA) yang menyuntik PSG juga termasuk dalam kategori ini. Mereka yakin, para pemain yang datang dari berbagai belahan dunia, yang tidak terlalu mengetahui latar belakang klub, dengan bayaran selangit, dapat melakukan segalanya.
Adalah sebuah keunikan, kalau tidak bisa disebut kebebalan, di sebuah klub bernama Athletic Bilbao, terjadi kenyataan yang bertolak belakang. Mereka masih mengandalkan para pemain yang berlatar belakang Basque.
Bahkan ketika klub-klub tetangga dekat sekaligus rival sengit Athletic, seperti Real Sociedad dan Osasuna, sudah memainkan sederetan pemain internasional. Hasilnya, pada musim panas 2009, ketika Cristiano Ronaldo memecahkan rekor sebagai pemain belian termahal dengan harga 80 juta poundsterling (dari Manchester United ke Real Madrid), rekor berikut masih berlaku untuk Athletic: pembelian termahal klub ini adalah 10 juta poundsterling, terjadi atas nama Roberto Rios dari Real Betis; dan hal tersebut terjadi pada tahun 1997! Ya, untuk juara Liga Spanyol delapan kali, uang bukanlah segalanya.
Anti Tentara Bayaran
Musim panas 2012, tiga tahun setelah hingar bingar Cristiano Ronaldo, kegelisahan tengah menimpa penyerang lain. Dialah Fernando Llorente yang memasuki tahun kedelapan berseragam Athletic Bilbao. Ia berada di simpang jalan. Llorente tergiur bermain di Liga Champions. Untuk seorang pria jangkung jago duel udara yang hingga kala itu sudah mencetak 100 gol bagi Athletic, cita-cita ini adalah hal wajar. Athletic terus terjebak dogma ‘hanya memainkan pria berdarah Basque’ sementara zaman hanya mau mengenal uang. Mustahil bagi klub Bilbao tampil di kompetisi terbesar antar klub Eropa. Solusi akhir: pindah ketika kontraknya berakhir pada 30 Juni 2013.
Seorang pemain berpindah klub untuk meraih gelar adalah hal lumrah. Gabriel Batistuta, pahlawan Fiorentina, klub Italia, pernah melakukannya pada tahun 2000. Ia berseragam AS Roma dan mendapatkan scudetto di klub ibukota tersebut. Tapi, dunia Athletic bukanlah dunia klub lain.
Anda berlaga bukan untuk dibayar. Kostum yang bersimbah keringat, adalah simbol nilai-nilai hidup rakyat Basque: keberanian, kebanggan, dan ikatan kuat. Siapa pun yang ‘melecehkan’ hal ini harus menerima hukuman. Sepanjang musim 2012-2013, Fernando Llorente pun menghabiskan masa-masa mencekam. Ia duduk di bangku cadangan, kalah bersaing dari penyerang lain, Aritz Aduriz. Juga, menerima ejekan “Llorente antek Spanyol! Mati saja kau” bahkan ketika latihan pramusim baru saja dimulai.
Ya, di tanah Basque, segala bentuk pengkhianatan, akan dilabeli gelar ‘antek Spanyol’. Mereka yang terlahir di sini, belum lupa sejarah kelam yang dilakukan oleh Jenderal Franco, diktator yang pernah memaksakan agenda melenyapkan segala hal yang tidak pro kesatuan Spanyol.
Jangankan hengkang dari klub. Jika para pemain Athletic terlihat loyo di lapangan; tak menampilkan kegagahan yang merupakan ciri khas pria Basque, siap-siaplah mendengar yel-yel “No son leones, son maricones" alias “(Kamu) bukan singa, tapi seorang gay”. Ada sebuah pepatah, bahwa seorang pria Basque tidak mengenal kata “tidak mungkin”.
Dan ini berlaku pada setiap napas klub. Entah yang dilawan adalah dua raja seperti Barcelona dan Real Madrid, entah klub tengah dalam krisis keuangan akut, penampilan prajurit Athletic haruslah sedahsyat kala nenek moyang mereka bertempur mempertahankan tanah ini dari invasi para ‘penjajah’.
Singa-Singa Perkasa Pelinding San Mames
Loyalitas. Inilah yang harus dijunjung sampai mati oleh pemain Athletic Bilbao. Mereka ditakdirkan untuk berlaga di stadion San Mames yang memiliki julukan keramat ‘La Catedral’. Dekat tempat yang mampu menampung 40000 penonton ini, berdirilah gereja San Mames yang konon menyimpan relik Santo Mammes.
Dia adalah santo yang menjadi martir pada abad III Masehi kala masa kekuasaan Romawi. Kesucian hatinya, membuat penguasa sekalipun tak mampu memberikan hukuman mati untuk sang santo. Ia pernah dilemparkan ke gelanggang berhadapan dengan para singa; namun hewan-hewan buas ini tak menjadikannya santapan. Justru, tunduk dan menjadi pelindung Santo Mammes.
Demikian pula yang ditanamkan untuk prajurit Athletic Bilbao. Mereka berlaga di lapangan untuk menjadi singa ---julukan mereka, Los Leones--- demi menjaga kesucian Katedral San Mames dari serbuan klub-klub yang diutus untuk menjajah stadion ini, mulai dari Real Madrid, Barcelona, hingga dua tetangga sebelah, Real Sociedad dan Osasuna.
Loyalitas pulalah yang membuat kebijakan Athletic yang dibangun sejak lama, tak jua luntur termakan zaman. Memang, klub ini didirikan oleh campur tangan orang Inggris. Memang pula, dalam perjalanan awal, ada pemain-pemain asal negeri Ratu Elisabeth yang berlaga untuk Athletic. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, sejarah ini terlupakan. Berganti dengan jargon ‘hanya memainkan mereka yang berdarah Basque’.
Entah itu pemain jebolan akademi sendiri, mereka yang telah menikmati sepakbola di tanah Basque, atau mereka yang masih keturunan Basque meski berasal dari negeri yang jauh.
Maka, tak aneh jika nama Jonas Ramalho muncul. Dia adalah pria kulit hitam pertama yang tampil untuk Athletic. Ayahnya orang Angola, sementara ibunya berdarah Basque. Wajar pula bila seorang Bixente Lizarazu, bek kiri Prancis yang juara di Piala Dunia 1998, bisa bermain di Athletic karena memiliki garis darah Basque. Nasib yang sama juga terjadi pada seorang Fernando Amorebieta yang membela Venezuela. Seiring perjalanan waktu, banyak klub yang mengalah pada kenyataan dan uang, tapi Athletic Bilbao seperti hidup di dunia mereka sendiri dan menerjang apa pun yang terjadi dengan ‘darah Basque’ yang bergolak di dada.
San Mames memang tidak selamanya bertahan. Seiring dengan perjalanan waktu, klub merasa perlu membuka stadion baru dengan daya tampung lebih raksasa. ‘Terkuburlah’ tempat yang pernah dibuka pada Agustus 1913 tersebut per musim 2012-2013. Terkubur pula kenyataan sebagai stadion tertua di Spanyol.
Dalam rentang 100 tahun, San Mames menjadi saksi deretan laga para pejuang Athletic. Dari yang termanis, hingga yang paling pahit. Di tempat inilah mereka memastikan gelar juara La Liga pertama untuk klub pada musim 1929-30, ketika membekap Barcelona 4-3. San Mames juga memantulkan sorakan bergemuruh kala Agustin Gainza, salah satu legenda klub, mencetak 8 gol untuk mencukur Celta Vigo 12-1 di Copa del Generalisimo 1947.
Tapi, di sini pula Los Leones terkubur ketika dibantai Osasuna 1-8 di Liga Spanyol musim 1958/59. Dan, salah satu laga paling menusuk, adalah kala Athletic menang 2-1 dari Juventus di final Piala UEFA 1977. Mereka berhasil menekuk Nyonya Tua asal Italia. Sayang, singa-singa San Mames tetap gagal memegang trofi karena kalah agresivitas gol tandang. Juventus menang 1-0 di leg pertama di Comunale, dan itu mematahkan satu-satunya kesempatan Athletic menjadi kampiun Eropa di stadion sendiri; dalam rentang 100 tahun.
San Mames akhirnya diistirahatkan oleh zaman. Berganti dengan San Mames Barria sejak musim 2013-2014 dengan kapasitas 55.000 penonto. Namanya tetap sama, dan pria-pria berahang kokoh dan bertubuh tegap khas Basque akan tetap melindungi San Mames baru dari invasi musuh. Madu dan racun pasti tertuang di stadion baru ini. Apalagi dengan kebijakan hanya memakai darah Basque yang terus bertahan. Athletic tak perlu khawatir. Mereka memiliki salah satu fans sepakbola terbaik yang pernah menghirup udara dunia.
Perahu Kecil Yang Menghancurkan Kota Industri
Loyalitas pemain dan klub telah terbukti lewat aliran waktu. Loyalitas lain yang jauh berlipat lebih hebat, datang dari fans. Memang, seperti klub-klub besar di daratan Eropa lain, Athletic punya sejarah untuk dibanggakan. Mereka adalah salah satu dari tiga klub La Liga yang belum pernah mencicipi Segunda Division, di samping Barcelona dan Real Madrid. Athletic juga pernah mencatatkan kemenangan terbesar ketika menggebuk Barcelona 12-1. Pemain besar pun tak terhitung menghuni klub ini.
Setiap tahun, pencetak gol terbanyak La Liga akan mendapatkan gelar pichichi. Gelar ini sendiri terinspirasi dari seorang pemain bernama sama, Pichichi alias Rafael Moreno Aranzadi. Dialah pria yang mengantarkan empat gelar Copa del Rey untuk Athletic. Ada pula Telmo Zarra yang memegang rekor pencetak gol terbanyak dalam semusim di Liga Spanyol (40 gol) sebelum datangnya era Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Seorang Andoni Zubizarreta, salah satu kiper terbaik Spanyol sepanjang masa, juga pernah mencicipi manisnya San Mames. Demikian seterusnya, hingga kemudian datang generasi emas sejak awal dekade 2010-an seperti Markel Susaeta, Iker Muniain, Mikel San Jose, dan Jon Artenetxe.
Namun, kebanggaan fans lebih daripada sekadar gelar dan uang. Trofi terakhir didapatkan pada musim 1983-84. Ketika itu Los Leones meraih Liga Spanyol dan Copa del Rey sekaligus. Selebihnya, sudah 30 tahun lebih fans mengenal sakitnya tumbang di partai puncak, atau dibantai habis-habisan oleh klub-klub dengan modal uang dan pemain besar. Bahkan dalam dua musim beruntun (2005/06 dan 2006/07) Los Leones sempat berjuang lolos dari zona degradasi hingga pekan terakhir kompetisi. Hal yang membuat fans menyebut masa-masa suram ini sebagai ‘El Bienio Negro’ (Dua tahun hitam).
Artinya, masalah pulang dari San Mames dengan kekecewaan menggumpal, bukan hal baru. Tapi, jangan lupakan. Ini tanah Basque. Di tempat ini, rasa solidaritas dan kepercayaan diri mengalahkan segalanya. Kebanggaan menyaksikan Athletic, membuat fans tak goyah. Dunia bagi mereka telah tergambar, dunia menyaksikan singa-singa perkasa bertempur; dan itu lebih dari sekadar cukup.
Masalah fanatisme, tak perlu dipertanyakan lagi. Di berbagai tempat di Bilbao, masih terpajang foto kepulangan para pahlawan Athletic ketika berhasil menggenggam trofi terakhir mereka, Copa del Rey 1983-84. Foto tersebut demikian heroik, singa-singa penjaga San Mames harus menjalani partai final di Santiago Bernabeu, Madrid, menghadapi Barcelona. Gol tunggal Endika Guarrotxena menyelesaikan laga 100 ribu penonton itu. Kembali ke kampung halaman, para pahlawan menempuh perjalanan ‘tak biasa’.
Dengan menumpang perahu melintas aliran sungai, mereka disambut sebagai raja. Mereka bagaikan ‘meninju’ pemandangan di belakang perahu tersebut, gedung-gedung menjulang khas dunia industri. Foto hitam-putih ini juga yang memercikkan api heroism pasukan Basque di masa-masa mendatang. Dengan segala konsekuensi memakai darah Basque, mereka bertempur melawang sepakbola yang dibangun dari uang!
Air Mata Si Kecil Ibai
Kenangan masa silam yang masih tersimpan rapi itu, hanyalah setitik dari sekian bukti loyalitas fans terhadap Athletic Bilbao. Tak peduli tua atau muda, segalanya akan dipertaruhkan. Termasuk seorang Ibai, bocah berusia delapan tahun yang ikurrina-nya menerobos batas stadion megah bernama Vicente Calderon.
25 Mei 2012, malam semakin larut. Athletic Bilbao mengalami salah satu musim paling luar biasa dalam 20 tahun terakhir. menembus dua final dalam dua ajang berbeda. Europa League dan Copa del Rey. Setelah beberapa hari sebelumnya klub ini dikandaskan Atletico Madrid 3-0 di final Europa League, puluhan ribu fans Athletic yang berbondong ke Madrid ---termasuk Ibai dan sang ayah--- berharap takdir mau berpihak pada tim ini.
Los Leones akan berhadapan dengan Barcelona, finalis tahun lalu. Di atas kertas, Barca yang memiliki Lionel Messi tampak mudah mencukur pasukan Marcelo Bielsa. Tapi, Ibai kecil, yang ditempa gagahnya kehidupan orang Basque, tak surut. Dibawanya serta ikurrina, bendera Basque sebagai bukti rasa cinta untuk klub. Bukan ikurrina biasa. Sama sekali bukan.
Ikurrina milik Ibai ini sudah melintas negara; menjadi saksi kala perjuangan gagah berani Athletic mampu menekuk klub setangguh Manchester United 2-3 di Old Trafford pada tahun yang sama. Hati kecil Ibai pasti berharap, ikurrina ini akan berkibar lagi di Vicente Calderon.
Hati Ibai berdebar ketika peluit tanda laga dimulai, berbunyi. Denyut jantungnya berdetak lebih cepat ketika timnya mampu berbagi penguasaan bola dengan Barcelona. Tapi mimpi, masih tetaplah mimpi. Foto legendaris para pahlawan yang menembus sungai pada tahun 1984, masih merupakan kehebatan Athletic yang terakhir. Pedro Rodriguez dan Lionel Messi bergantian menjebol gawang Gorka Iraizoz untuk menciptakan skor 3-0.
Air mata mengalir, itu pasti. Empat tahun sebelumnya, tahun 2009, ketika Ibai belum mengenal sepakbola, klub yang sama pula yang menaklukkan Bilbao di ajang serupa. Apa pun yang terjadi, kepala harus tegak. Tak ada waktu untuk berkubang dalam kepedihan.
Carles Puyol, kapten Barcelona, tahu apa yang dilakukan untuk menghormati fans lawan. Meskipun ia tidak bermain karena cedera, Puyol masuk ke lapangan, membawa bendera Catalan, beserta ikurrina … milik Ibai! Anak delapan tahun memandang bangga kepada sang kapten yang menghibur sekian pemberani yang
hadir di Madrid.
Namun, cerita belum usai. Puyol tak mengetahui ikurrina itu milik siapa. Ia mengambil begitu saja dalam keriuhan. Sebaliknya, Ibai mulai menangis karena ikurrinanya tak jua kembali. Pertandingan sudah usai, dan semua orang akan pulang.
Sang ayah, seperti kebanyakan pria Basque, percaya tak ada yang tak mungkin. Ia menerjang penjagaan polisi berkuda. Tujuannya cuma satu, mendapatkan ikurrina sang anak, apa pun yang terjadi. Didekatinya bus pemain Athletic yang belum beranjak dari stadion. Dikirimkannya pesan kepada sopir bus. Memahami maksud ayah Ibai, sang sopir pun berkontak dengan sopir bus pemain Barcelona untuk kemudian mengirimkan sinyal kepada Puyol.
Melewati barikade polisi, akhirnya Ibai dan ayahnya bertemu Puyol. Hati ibai masih berkecamuk. Apakah Puyol masih membawa ikurrina miliknya? Tidakkah bendera ini ditinggalkan di loker, atau diberikan kepada fans Bilbao yang lain? Suasana begitu kacau, semua bisa terjadi.
Begitu sang kapten turun dari bus dengan ikurrina di tangan, wajah Ibai berubah ceria. Itu ikurrinanya! Ikurrina paling berharga yang membawanya melintas jarak, demi Athletic! Puyol, mengetahui perjuangan sang anak demi mendapatkan benderanya kembali, mencium dan memeluk Ibai.
Mata Ibai masih berkaca-kaca ketika para wartawan mengerumuninya. Namun, senyumnya telah terkembang. Anak kecil berusia delapan tahun, tak mengeluarkan kata mutiara sepatah pun. Ia dan sang ayah hanya bergerak, dan terus bergerak, demi Athletic, demi mimpi, dengan segenap keberanian yang meledak.
Demi Sebuah Bendera
Kisah Ibai, adalah bukti keberanian fans Los Leones menerjang ‘api’. Tidak hanya berhenti di sana. Beberapa hari sebelumnya, ada perjuangan yang barangkali lebih heroik. Menjelang fnal Europa League, 400 fans Athletic tersesat di Budapest, Hungaria. Mereka terbengong ketika menyaksikan, tidak ada nama Arena Nationala dalam peta. Berkutat-kutat di kota tersebut, kaki mereka terlalu lelah sebelum menyadari, mereka keliru nama. Laga puncak turnamen yang dulu bernama Piala UEFA ini, berlangsung di Bukarest, Rumania. 500 mil adalah jarak dua kota tersebut, tapi 500 mil bukanlah apa-apa bagi para remaja yang sempat mengundang ‘gelak tawa’ masyarakat Spanyol ini.
Masih ada sekian cerita tentang salah satu suporter paling ‘eksotis’ di Eropa. Dari kisah-kisah lembut di atas, kita bergerak ke kisah yang lebih keras. Semisal, fans Los Leones yang mengencingi suporter Anderlecht pada tahun 2010. Atau, publik San Mames yang tak segan menampilkan suara mereka untuk meminta Israel angkat kaki dari tanah Palestina. Segala akan dikorbankan demi segala yang menyangkut tim dan kebanggaan; ya, sepakbola adalah agama di sini.
Sejatinya, Anda tak perlu deretan bukti di atas. Beberapa saat sebelum para pahlawan mereka berlaga, para fans menyanyikan hymne tak biasa. Diawali dengan seruan panjang sang dirigen yang menggetarkan hati, teriakan mereka “Kalian untuk kami, kalian terlahir dari kami” telah menggema di tanah demi tanah benua Eropa.
Ya, Athletic Bilbao bukanlah sekadar klub sepakbola, melainkan identitas yang harus dijaga sampai mati. Dan meski waktu bergulir, singa-singa Athletic –entah itu fans, pemain, atau direksi klub-- akan terus mempertahankan teritori mereka. Dari klub lawan, dari kejahatan uang, dan dari sekumpulan mertzenarioak. Nenek moyang mereka, sejak titik awal permulaan hidup tanah Basque, telah mengajarkan pepatah, “bumi hanyalah milik orang-orang berani”.
Labels:
artikel,
athletic bilbao,
esai,
fitra firdaus aden
Venus
“Sudah genap sembilan orang,” Pak Harpun membagikan buku surat Yasin
kepada kami berdelapan yang duduk membentuk lingkaran. “Yang di luar
tidak diajak sekalian, Pak?” Pak Mardi selaku tuan rumah mengingatkan.
Beberapa pemuda seusiaku tampak berjaga-jaga. Pak Harpun menggeleng,
“sembilan itu angka sempurna.”
Lampu neon ruang tamu menerangi dalam rumah berdinding bata ini. Saling melirik, detik berikutnya tiap-tiap kami larut dalam pikiran masing-masing, kecuali aku. Hari kedua dari tiga hari yang disyaratkan orang pintar dari makam Sunan Gunung Jati. Demi melihat sikapku yang sedikit angkuh, Pak Harpun yang bersila di sampingku berbisik nyaris tak terdengar, “Mas Mim, dalam perhitungan kalender Jawa, malam ini sederajat dengan 40 malam. Jika kita melakukan sesuatu, kemungkinan untuk dikabul-kan Tuhan pasti lebih besar.”
Aku mengangguk, entah hatiku.
“Saudara-saudara,” suara berat Pak Harpun memecah lamunan bapak-bapak di sini. Akulah yang termuda. “Mari kita mulai membaca surat Yasin sebanyak 7 kali secara tartil dengan harapan Mas Marno, yang sudah hilang lebih dari 40 hari, segera kembali.”
Hampir semua berbaju batik kecuali aku. Kukenakan pakaian serbahitam atas saran dari Ayu. Hitam berarti kebijaksanaan dalam terminologi sufi[1]. Hampir semua berpeci hitam yang telah termakan waktu, memudar coklat di tepiannya. Aku tidak, tidak berpenutup kepala.
“Monggo dipunwaos sesarengan. Kulo dherekaken[2],” kata Pak Harpun.
Lalu, suara-suara tenang bergelayut meremang di ruang berukuran 3×4 meter itu. Suara jangkrik di luar sana sesaat terdiam. Jarum jam pendek di dinding hampir tepat di atasku, bergerak ke arah angka delapan.
“Yaasiiin, Walqur’anil hakim…”
Pikiranku terpecah-belah, melayang kepada Ayu yang duduk sendiri di rumah. Pada pesannya sebelum senja tadi….
”Berangkatlah,” dia tersenyum lapang, selalu demikian adanya. Senja terlalu merah untuk menampung degup jantungku. “Bukankah dia anak yatim juga, sepertimu?” Aku memandang gamang ke timur, ke arah cahaya putih cerah yang sebentar lagi ditemani taburan bintang. Venus. Kileken. “Bekerjalah tanpa pamrih, Mim. Seperti Kileken yang dikabarkan oleh suku Masai.”
Alkisah, seorang kakek tua tinggal sendirian di sebuah gubuk. Ia jatuh cinta pada taburan bintang, sebagai pengobat sepinya. Bahkan, ia menganggap bahwa mereka yang berserak di langit hitam itu, yang cahayanya mesti menyeberang jutaan tahun sebelum terekam mata, sebagai anak-anaknya. Hingga suatu ketika, di sebuah malam cerah, sebuah bintang di sudut jauh sana, yang dikenalnya dengan baik, lenyap. Pada saat yang sama, seorang anak muncul di halaman rumahnya, menyapa lembut dan memperkenalkan diri sebagai Kileken, sang anak yatim yang mengembara.
Sejak saat itu, Kileken selalu mengerjakan tugas sehari-hari sang kakek, menggembalakan ternaknya setiap pagi dan senja. Hidup sang kakek berubah, dipenuhi keajaiban Kileken. Hanya satu pinta sang yatim: kakek tidak boleh melihatnya saat bekerja. Akan tetapi, rasa ingin tahulah yang menjadi sifat dasar manusia. Kakek melanggar janji. Ia mengintip! Kileken lenyap seketika, menjadi bintang pagi. Suku Masai menganggap bintang pagi dan senja adalah dua hal berbeda. Kilekenlah sang penjemput pagi. Leken, adalah sang penutup hari ketika senja bergelayut. Pengetahuan Barat yang mengklaim diri sebagai yang paling rasional itu menyebutnya Venus, dewi cinta. Bukan Kileken, anak yatim pengembara yang memberikan cinta cuma-cuma.
Mas Marno berusia 42 tahun, tinggal menumpang di rumah kakaknya, Pak Mardi —tuan rumah yasinan ini, yang mengenakan baju batik biru bermotif gunungan—. Sejak kecil, Mas Marno sudah dilekatkan dengan hal-hal klenik. Bagiku yang dididik untuk memahami hal secara ilmiah, objektif, dan rasional, setiap cerita tentangnya sama sekali tak kupercaya. Hingga, Ayu datang dan membuat pikiran skeptisku berubah total.
Dikisahkan, ibu Mas Marno sebenarnya keguguran ketika janinnya berusia 4 bulan karena melanggar pantangan menebar benih padi di sawah. Berkat bantuan salah satu roh tertinggi di desa ini, kandungan itu kembali. Mas Marno lahir dengan kecerdasan yang agak tertinggal. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, kebaikan hatinya di atas segalanya, dibanding kami yang menganggap diri moralis. Aku dan Ayu yang merantau saja diperlakukannya istimewa, melebihi siapapun di desa ini. Ia bekerja serabutan. Banyak yang membutuhkan tenaganya.
Biasanya, ia diupah sebatang-dua batang rokok dengan merk tertentu dalam sehari, ditambah makan. Akan tetapi, kalau aku atau Ayu yang meminta, dia tidak pernah mau menerima imbalan. “Nanti Bapak marah,” alasannya yang ketika itu belum masuk otak skeptisku. Aku yang merasa janggal. Baik ayahnya maupun ayahku telah meninggal beberapa tahun sebelum kami bersua.
Banyak keajaiban yang terjadi dalam hidup Mas Marno, seperti Kileken. Ia pernah jatuh dari ketinggian 5 meter, dan selamat tanpa luka sedikitpun ketika diminta mengunduh kelapa di rumah Pak Slamet Mulyadi, salah satu pelopor ternak ikan lele di desa ini. Waktu ditanya oleh Pak Slamet —ia memakai batik kuning malam ini—, Mas Marno berkata, “tadi bapak pergi. Jadi, saya jatuh”. Ketika aku mengisahkannya ulang kepada Ayu dan bertanya untuk kesekian kalinya apa yang dimaksud Mas Marno sebagai ‘ayah’, istriku hanya berkata, “kamu belum mengenal dirimu sendiri, Mim”. Kileken, sang yatim pengembara.
Belum juga satu putaran Yasin dibaca, kami semua dilanda kantuk
berat. Aku yakin tiap-tiap kami telah hafal sehingga bacaan tidak rusak
di tengah jalan. Pikiran skeptisku sempat beranggapan bahwa ini hanya
efek kelelahanku. Seharian tadi aku sibuk mengedit buku —hari ini aku
tidak berangkat ke kampus untuk mengajar— dan tak sempat tidur siang.
Pun aku sebenarnya menolak ritual yang cenderung syirik ini. Bid’ah yang membudaya, kata teman seprofesiku. Mungkin keduanya yang mengacau pikirku hingga kulihat huruf hijaiyah yang ada di buku dalam genggaman tanganku berubah menjadi sandi-sandi aneh berwarna kuning-kecoklatan. Mungkin saat ini telah tiba faseku bermimpi, tapi aku memaksa diri untuk sadar. Mungkin. Jika kami bersembilan, yang dianggap paling fasih membaca di kampung ini, mengalami hal sama, itu adalah kebetulan. Lalu kata-kata Ayu meruyak kembali….
“Venus adalah kembar bumi yang pelik, Mim,” Ayu membolak-balik halaman buku catatan hariannya. Belakangan, dia sangat suka mengisahkan Kileken dan sedikit berfilsafat. Planet yang dibicarakan, berada di timur sana. Mengintip kami.
“Hanya, ia mengalami efek rumah kaca yang terlalu cepat 4,5 milyar tahun lalu. Sekarang, ia berevolusi terlalu lambat. Bukan sebuah kebetulan jika ketika berserak, ia dekat dengan bumi. Setidaknya kamu bisa berkata, Tuhan ingin menunjukkan bagaimana neraka itu,” matanya nakal menusuk mataku. Aku setengah terpaksa tersenyum. Kalau benar ada evolusi, berarti kebetulan pula kita mempunyai akal. Seharusnya, Tuhan menitipkan akal itu kepada burung yang bisa terbang kemana saja dan menaruh jiwa ke dalam ikan paus yang menelan Yunus, agar menenggelam ke dalam samudera.
Dia lalu menambahkan, “kita berkata dia dewi cinta. Cahaya yang dipantulkannya memukau. Di sana, ada lapisan-lapisan awal yang amat tebal, yang menyelimuti planet tersebut. Akan tetapi, di balik kecemerlangan putihnya, ia adalah tempat yang gersang, berbatu. Contoh tepat untuk melihat efek sesungguhnya global warming.”
Kembar yang pelik. Ayu sedang memperbincangkan Venus sekaligus hal lain.
“Dan ruh, Mim… kamu tahu bahwa sains saat ini tidak mau mengenalnya. Ruh dan jiwa adalah dua hal berbeda yang sekaligus sama. Mirip benar,” Ayu bertopang dagu memandang sang bintang senja. Aku terpancing untuk mendekat. Dia berpaling ke kiri, “oh ya~ suku Masai adalah salah satu percontohan untuk mengatasi global warming yang kamu takutkan itu. Mereka telah terbiasa untuk bertani di padang pasir dan semak belukar sejak lama.”
Ayuku. Dia meletakkan bukunya di sebelahku ketika berdiri. “Aku masak dulu. Hari ini sudah bukan mie instan lagi,” candanya garing. Dia tahu aku akan membuka benda itu setelah dia sibuk di dapur. Aku tertawa pelan.
“Kileken, kamu, dan Mas Marno,” tutupnya. “kalian mirip, bukan?”
Akulah Ruh, kembarmu yang pelik.
Akulah yang menjebakmu dalam waktu dan peristiwa.
Saat kau kuciptakan, kau adalah bentuk yang belum dapat diungkapkan. Terselubungi kabut, seperti halnya citraanku yang kautangkap di kemudian hari. Kelak, ketika kau telah tinggal dalam rahim ibu, informasi-informasiku masih berlanjut, tak pernah berhenti. Akan tetapi, sejak saat itu kau akan menempuhi jalan dan beranggapan bahwa aku tak dikenali. Maka, kugunakan malaikat, salah satu bagian terjauh perkembangan jiwamu. Ia mengirimkan makanan kepadamu setiap hari. Ia menunjukkan pula hidupmu di dunia, waktu ajalmu, dan segala macam pencarianmu[3]. Pencarianmu akan hakikat keberadaanmu yang tak pernah rampung. Kelak, ketika kau mengenal warna langit yang berbeda, yang menipu mata dengan birunya, kadang pesan-pesan tadi terbias seperti cahaya yang masuk ke dalam air. Kau tengah mengulang peristiwa tanpa kausadari kaupernah melihatnya. Kausebut hal itu déjà vu.
Ketika kau mulai bernafas mengambil udara dunia, lima puluh bahasa meniada. Kau seperti tak mengenal dirimu sendiri. Kita berpisah. Kau rindu, apalagi aku. Perulangan-perulangan semakin sering terjadi. Jika kaumampu menarik garis darinya, kau akan mengerti bahwa aku tak memintamu untuk takut kepadaku, tetapi memintamu mencintaiku. Jangan kausebut aku ayah meski aku menciptakanmu. Aku adalah cinta, tujuanmu. Kau sendiri. Pahamilah malam. Bagaimana ia kauanggap sebagai wajah alam semesta sesungguhnya. Sepasang demi sepasang makhluk beristirahat, mencipta lingkaran hampir nol. Inginku kau bercengkerama denganku. Ciptakanlah alif untuk berdirimu. Kha’ untuk rukukmu. Mim untuk sujudmu. Dan dal, untuk dudukmu. Lihatlah tubuhmu itu, bagaimana air, udara, cahaya, dan tanah berbaur. Kau adalah langit, kau adalah bumi. Dan lihatlah kau, sang pengendara tubuh, yang hidup abadi tanpa perlu memakan buah khuldi.
Carilah aku. Kau akan mengetahui dirimu sendiri.
Aku ingin diketahui dan ditemukan!
“Silakan Mas Mim,” Pak Said menawarkan suguhan di depan kami dengan ramah. Demikianlah adat di sini, mendahulukan yang berada di sebelahnya. “monggo, Pak.”
Ketika kuteguk teh hangat, Pak Mardi membuka suara. “Malam ini berat sekali kita mengangkat Marno. Tidak seperti malam kemarin! Mungkin roh yang membawa-nya, menahannya erat-erat hingga ia tidak bisa pulang.”
“Betul, Mas Mardi,” keluh Pak Matang, salah satu tetua kami, “tadi, saat saya memejamkan mata, saya melihat Mas Marno ngawe-awe[4] kita semua dari pintu depan”. Keruan saja kami bersembilan, dan pemuda di luar melihat pintu yang bisu itu. Bulu kudukku meremang asing. “Dia sebenarnya sudah dekat”.
“Mungkin ada ritual yang kurang?” tambah Pak Harpun sambil melahap kue lapis, “masih kurang satu malam. Harapan kita, dengan selesainya yasinan besok, segala urusan dimudahkan. Kita sudah membersihkan rumah ini, sudah mencoba berkeliling desa, sudah minta bantuan polsek, tapi belum berhasil juga.”
“Begini, bapak-bapak,” Pak Mardi menengahi, “mungkin kita perlu membersihkan sungai yang sering dipakai Marno mandi. Banyak sampah di sana, dan telah menyumbat aliran air. Siapa tahu yang membawa Marno marah karena kita berbuat tidak sopan”.
“Sampah itu kan berasal dari desa Sindudadi, yang ada pabrik susunya itu! Kita sudah menisahkan sampah organik dan non-organik? Yang organik ditanam di tanah, yang bukan, diangkut ke TPA. Kenapa kita yang dimarahi?” Pak Slamet Mulyadi terpancing. Aku memandang berkeliling, ingin mendengar pendapat lain.
“Jangan keras-keras Pak, siapa tahu pembawa Mas Marno ada di sini mengintip kita,” kata Pak Harpun pelan. Yang lain mengangguk setuju.
Salah seorang putra Pak Mardi, Salim, datang dan berbisik kepada ayahnya. Dari ruang tengah, beberapa berkat dikeluarkan. Gula pasir, teh, nasi gurih, telur ayam, kolak, dan beberapa hal lain. Yang unik, kulihat ada mie instan di sana. Setelah diputar dan semua mendapatkannya, Pak Mardi matur, “monggo Bapak-bapak. Ini ada berkat ala kadarnya, sebagai ungkapan terima kasih kami atas bantuan Bapak sekalian.”
“Nggih, dari kami, matur nuwun juga Pak Mardi. Semoga, Mas Marno enggal dipunwangsulaken[5] kepada kita semua. Amiin,” sambut Pak Harpun.
Lalu, dengan wajah yang terlalu lelah, satu demi satu yang membacakan surat ke-36 itu surut, berjalan lenyap di kegelapan malam, kembali ke rumah masing-masing.
“Kileken, Mim…” Ayu yang menungguku pulang, berbicara lembut. Wajah yang kusut-masai hilang seketika. “Juga dikenal sebagai penanda. Jika ia telah tampak di langit pagi dan ada seorang Masai yang belum pulang dari perburuan, para wanitanya akan berdoa demi keselamatannya. Ya, jika ada yang hilang.”
Mas Marno memiliki penjaga, ‘Sang Ayah’, yang membantu kelahirannya di muka bumi. Belakangan, menurut Ayu, terjadi pelanggaran ketika keluarganya memaki Mas Marno berlebihan. Hal itu sering terjadi, dan akhirnya tiba di puncak. Lebih dari 40 hari lalu setelah ia jagong[6] dalam mantenan Mas Rahmat, dalam keadaan lelah, ia dimaki lagi. Mas Marno tentu bukan orang pendendam. Akan tetapi, yang tidak terlihat jauh lebih banyak daripada yang terlihat. Para penjaganya, ‘Sang ayah’ dan beberapa roh lain, marah dan menariknya keluar, tak terlihat di sini meski ia ada.
“Kamu percaya bahwa setiap dari kita memiliki penjaga?” kataku mulai skeptis lagi. “Tentu. Mereka adalah kamu sendiri sekaligus bukan kamu. Kamu pernah merasa aneh dengan para skeptis yang tidak percaya Tuhan, tapi tidak mempermasalahkan keberadaan ide? Dari mana kamu menganggap ide itu nyata, Mim? Ia abstrak, tapi kalian para penggila sains melakukan diskriminasi hanya karena ia berada di dalam diri kalian,” dan Ayu mulai berfilsafat lagi. “Bukan masalah percaya atau tidaknya, Mim. Ada dan tidak ada itu subjektif, keduanya membutuhkan satu sama lain. Dan, meng-anggap tidak ada sebagai tidak ada itu seperti lawakan.”
Aku tak mau mendebatnya. Venus yang kini kukenal juga sebagai Kileken. Venus yang indah sekaligus berpermukaan hancur. Neraka yang dibayangkan dan gambaran neraka yang ditampakkan. Sungai yang hancur di sini dan air Venus yang telah menguap lenyap. “Dualitas, Mim. Cobalah terangkan dengan sains. Kalian selalu berteori dulu baru mencocok-cocokkannya dengan eksperimen. Hasil eksperimen itu mau tidak mau, harus mirip dengan teori. Beruntunglah kamu yang kehilangan ayah di usia 21 tahun. Ketika tidak ada adalah ada dan sebaliknya”, Ayu beringsut untuk merebahkan diri ke pangkuanku. Lampu kami masih terlalu terang. Taburan langit nun jauh di atas sana terbidik dari salah satu genteng kaca.
“Mengapa tidak ada cerita dari suku-suku kita yang kamu kisahkan?” kubelai lembut rambutnya. Ayu tertawa pelan, “bukankah lebih indah melihat yang jauh-jauh daripada yang dekat-dekat? Kamu belum mengenal dirimu, karena itu Tuhan memper-lihatkan alam semesta. Maka, betapa jahatnya mereka yang menyakiti alam? Jahat pada diri sendiri karena membuat mereka makin asing, makin tidak mengetahui?”
“Kamu tidak ikut memikirkan Mas Marno?” tanyaku. Tidak pula kamu menentang syirik, Ayu. Tidak pula kamu menghimbau ibu-ibu PKK untuk mengingatkan sang suami. Ketika menjadi mahasiswa dulu, tidak pula kamu berdiri menjadi demonstran menentang pembalakan liar. Kamu hanya bercerita bahwa suatu saat bumi kita akan menjadi Venus kedua jika kita gagap.
“Untuk apa? Dia akan pulang minggu depan. Tanpa ritual yang kauanggap syirik. Tanpa perlu takut pada ‘Sang Ayah’ yang misterius yang kauanggap tidak ada”.
Kamu membingungkanku… selalu demikian.
“Ruh itu satu, Mim. Memanggil semua jiwa yang diperintahnya. Akan tetapi, mereka yang tergila-gila pada sains tidak pernah bisa mengetahui panggilanNya.”
Aku tidak tahu lagi. Mas Marno dan aku, aku dan Kileken. Yatim pengembara.
Kembar yang pelik.
Lampu neon ruang tamu menerangi dalam rumah berdinding bata ini. Saling melirik, detik berikutnya tiap-tiap kami larut dalam pikiran masing-masing, kecuali aku. Hari kedua dari tiga hari yang disyaratkan orang pintar dari makam Sunan Gunung Jati. Demi melihat sikapku yang sedikit angkuh, Pak Harpun yang bersila di sampingku berbisik nyaris tak terdengar, “Mas Mim, dalam perhitungan kalender Jawa, malam ini sederajat dengan 40 malam. Jika kita melakukan sesuatu, kemungkinan untuk dikabul-kan Tuhan pasti lebih besar.”
Aku mengangguk, entah hatiku.
“Saudara-saudara,” suara berat Pak Harpun memecah lamunan bapak-bapak di sini. Akulah yang termuda. “Mari kita mulai membaca surat Yasin sebanyak 7 kali secara tartil dengan harapan Mas Marno, yang sudah hilang lebih dari 40 hari, segera kembali.”
Hampir semua berbaju batik kecuali aku. Kukenakan pakaian serbahitam atas saran dari Ayu. Hitam berarti kebijaksanaan dalam terminologi sufi[1]. Hampir semua berpeci hitam yang telah termakan waktu, memudar coklat di tepiannya. Aku tidak, tidak berpenutup kepala.
“Monggo dipunwaos sesarengan. Kulo dherekaken[2],” kata Pak Harpun.
Lalu, suara-suara tenang bergelayut meremang di ruang berukuran 3×4 meter itu. Suara jangkrik di luar sana sesaat terdiam. Jarum jam pendek di dinding hampir tepat di atasku, bergerak ke arah angka delapan.
“Yaasiiin, Walqur’anil hakim…”
Pikiranku terpecah-belah, melayang kepada Ayu yang duduk sendiri di rumah. Pada pesannya sebelum senja tadi….
”Berangkatlah,” dia tersenyum lapang, selalu demikian adanya. Senja terlalu merah untuk menampung degup jantungku. “Bukankah dia anak yatim juga, sepertimu?” Aku memandang gamang ke timur, ke arah cahaya putih cerah yang sebentar lagi ditemani taburan bintang. Venus. Kileken. “Bekerjalah tanpa pamrih, Mim. Seperti Kileken yang dikabarkan oleh suku Masai.”
—o0O00—
Alkisah, seorang kakek tua tinggal sendirian di sebuah gubuk. Ia jatuh cinta pada taburan bintang, sebagai pengobat sepinya. Bahkan, ia menganggap bahwa mereka yang berserak di langit hitam itu, yang cahayanya mesti menyeberang jutaan tahun sebelum terekam mata, sebagai anak-anaknya. Hingga suatu ketika, di sebuah malam cerah, sebuah bintang di sudut jauh sana, yang dikenalnya dengan baik, lenyap. Pada saat yang sama, seorang anak muncul di halaman rumahnya, menyapa lembut dan memperkenalkan diri sebagai Kileken, sang anak yatim yang mengembara.
Sejak saat itu, Kileken selalu mengerjakan tugas sehari-hari sang kakek, menggembalakan ternaknya setiap pagi dan senja. Hidup sang kakek berubah, dipenuhi keajaiban Kileken. Hanya satu pinta sang yatim: kakek tidak boleh melihatnya saat bekerja. Akan tetapi, rasa ingin tahulah yang menjadi sifat dasar manusia. Kakek melanggar janji. Ia mengintip! Kileken lenyap seketika, menjadi bintang pagi. Suku Masai menganggap bintang pagi dan senja adalah dua hal berbeda. Kilekenlah sang penjemput pagi. Leken, adalah sang penutup hari ketika senja bergelayut. Pengetahuan Barat yang mengklaim diri sebagai yang paling rasional itu menyebutnya Venus, dewi cinta. Bukan Kileken, anak yatim pengembara yang memberikan cinta cuma-cuma.
—o0O00—
Mas Marno berusia 42 tahun, tinggal menumpang di rumah kakaknya, Pak Mardi —tuan rumah yasinan ini, yang mengenakan baju batik biru bermotif gunungan—. Sejak kecil, Mas Marno sudah dilekatkan dengan hal-hal klenik. Bagiku yang dididik untuk memahami hal secara ilmiah, objektif, dan rasional, setiap cerita tentangnya sama sekali tak kupercaya. Hingga, Ayu datang dan membuat pikiran skeptisku berubah total.
Dikisahkan, ibu Mas Marno sebenarnya keguguran ketika janinnya berusia 4 bulan karena melanggar pantangan menebar benih padi di sawah. Berkat bantuan salah satu roh tertinggi di desa ini, kandungan itu kembali. Mas Marno lahir dengan kecerdasan yang agak tertinggal. Akan tetapi, jauh lebih dari itu, kebaikan hatinya di atas segalanya, dibanding kami yang menganggap diri moralis. Aku dan Ayu yang merantau saja diperlakukannya istimewa, melebihi siapapun di desa ini. Ia bekerja serabutan. Banyak yang membutuhkan tenaganya.
Biasanya, ia diupah sebatang-dua batang rokok dengan merk tertentu dalam sehari, ditambah makan. Akan tetapi, kalau aku atau Ayu yang meminta, dia tidak pernah mau menerima imbalan. “Nanti Bapak marah,” alasannya yang ketika itu belum masuk otak skeptisku. Aku yang merasa janggal. Baik ayahnya maupun ayahku telah meninggal beberapa tahun sebelum kami bersua.
Banyak keajaiban yang terjadi dalam hidup Mas Marno, seperti Kileken. Ia pernah jatuh dari ketinggian 5 meter, dan selamat tanpa luka sedikitpun ketika diminta mengunduh kelapa di rumah Pak Slamet Mulyadi, salah satu pelopor ternak ikan lele di desa ini. Waktu ditanya oleh Pak Slamet —ia memakai batik kuning malam ini—, Mas Marno berkata, “tadi bapak pergi. Jadi, saya jatuh”. Ketika aku mengisahkannya ulang kepada Ayu dan bertanya untuk kesekian kalinya apa yang dimaksud Mas Marno sebagai ‘ayah’, istriku hanya berkata, “kamu belum mengenal dirimu sendiri, Mim”. Kileken, sang yatim pengembara.
—o0O00—
Pun aku sebenarnya menolak ritual yang cenderung syirik ini. Bid’ah yang membudaya, kata teman seprofesiku. Mungkin keduanya yang mengacau pikirku hingga kulihat huruf hijaiyah yang ada di buku dalam genggaman tanganku berubah menjadi sandi-sandi aneh berwarna kuning-kecoklatan. Mungkin saat ini telah tiba faseku bermimpi, tapi aku memaksa diri untuk sadar. Mungkin. Jika kami bersembilan, yang dianggap paling fasih membaca di kampung ini, mengalami hal sama, itu adalah kebetulan. Lalu kata-kata Ayu meruyak kembali….
“Venus adalah kembar bumi yang pelik, Mim,” Ayu membolak-balik halaman buku catatan hariannya. Belakangan, dia sangat suka mengisahkan Kileken dan sedikit berfilsafat. Planet yang dibicarakan, berada di timur sana. Mengintip kami.
“Hanya, ia mengalami efek rumah kaca yang terlalu cepat 4,5 milyar tahun lalu. Sekarang, ia berevolusi terlalu lambat. Bukan sebuah kebetulan jika ketika berserak, ia dekat dengan bumi. Setidaknya kamu bisa berkata, Tuhan ingin menunjukkan bagaimana neraka itu,” matanya nakal menusuk mataku. Aku setengah terpaksa tersenyum. Kalau benar ada evolusi, berarti kebetulan pula kita mempunyai akal. Seharusnya, Tuhan menitipkan akal itu kepada burung yang bisa terbang kemana saja dan menaruh jiwa ke dalam ikan paus yang menelan Yunus, agar menenggelam ke dalam samudera.
Dia lalu menambahkan, “kita berkata dia dewi cinta. Cahaya yang dipantulkannya memukau. Di sana, ada lapisan-lapisan awal yang amat tebal, yang menyelimuti planet tersebut. Akan tetapi, di balik kecemerlangan putihnya, ia adalah tempat yang gersang, berbatu. Contoh tepat untuk melihat efek sesungguhnya global warming.”
Kembar yang pelik. Ayu sedang memperbincangkan Venus sekaligus hal lain.
“Dan ruh, Mim… kamu tahu bahwa sains saat ini tidak mau mengenalnya. Ruh dan jiwa adalah dua hal berbeda yang sekaligus sama. Mirip benar,” Ayu bertopang dagu memandang sang bintang senja. Aku terpancing untuk mendekat. Dia berpaling ke kiri, “oh ya~ suku Masai adalah salah satu percontohan untuk mengatasi global warming yang kamu takutkan itu. Mereka telah terbiasa untuk bertani di padang pasir dan semak belukar sejak lama.”
Ayuku. Dia meletakkan bukunya di sebelahku ketika berdiri. “Aku masak dulu. Hari ini sudah bukan mie instan lagi,” candanya garing. Dia tahu aku akan membuka benda itu setelah dia sibuk di dapur. Aku tertawa pelan.
“Kileken, kamu, dan Mas Marno,” tutupnya. “kalian mirip, bukan?”
—o0O00—
Akulah Ruh, kembarmu yang pelik.
Akulah yang menjebakmu dalam waktu dan peristiwa.
Saat kau kuciptakan, kau adalah bentuk yang belum dapat diungkapkan. Terselubungi kabut, seperti halnya citraanku yang kautangkap di kemudian hari. Kelak, ketika kau telah tinggal dalam rahim ibu, informasi-informasiku masih berlanjut, tak pernah berhenti. Akan tetapi, sejak saat itu kau akan menempuhi jalan dan beranggapan bahwa aku tak dikenali. Maka, kugunakan malaikat, salah satu bagian terjauh perkembangan jiwamu. Ia mengirimkan makanan kepadamu setiap hari. Ia menunjukkan pula hidupmu di dunia, waktu ajalmu, dan segala macam pencarianmu[3]. Pencarianmu akan hakikat keberadaanmu yang tak pernah rampung. Kelak, ketika kau mengenal warna langit yang berbeda, yang menipu mata dengan birunya, kadang pesan-pesan tadi terbias seperti cahaya yang masuk ke dalam air. Kau tengah mengulang peristiwa tanpa kausadari kaupernah melihatnya. Kausebut hal itu déjà vu.
Ketika kau mulai bernafas mengambil udara dunia, lima puluh bahasa meniada. Kau seperti tak mengenal dirimu sendiri. Kita berpisah. Kau rindu, apalagi aku. Perulangan-perulangan semakin sering terjadi. Jika kaumampu menarik garis darinya, kau akan mengerti bahwa aku tak memintamu untuk takut kepadaku, tetapi memintamu mencintaiku. Jangan kausebut aku ayah meski aku menciptakanmu. Aku adalah cinta, tujuanmu. Kau sendiri. Pahamilah malam. Bagaimana ia kauanggap sebagai wajah alam semesta sesungguhnya. Sepasang demi sepasang makhluk beristirahat, mencipta lingkaran hampir nol. Inginku kau bercengkerama denganku. Ciptakanlah alif untuk berdirimu. Kha’ untuk rukukmu. Mim untuk sujudmu. Dan dal, untuk dudukmu. Lihatlah tubuhmu itu, bagaimana air, udara, cahaya, dan tanah berbaur. Kau adalah langit, kau adalah bumi. Dan lihatlah kau, sang pengendara tubuh, yang hidup abadi tanpa perlu memakan buah khuldi.
Carilah aku. Kau akan mengetahui dirimu sendiri.
Aku ingin diketahui dan ditemukan!
—o0O0o—
“Silakan Mas Mim,” Pak Said menawarkan suguhan di depan kami dengan ramah. Demikianlah adat di sini, mendahulukan yang berada di sebelahnya. “monggo, Pak.”
Ketika kuteguk teh hangat, Pak Mardi membuka suara. “Malam ini berat sekali kita mengangkat Marno. Tidak seperti malam kemarin! Mungkin roh yang membawa-nya, menahannya erat-erat hingga ia tidak bisa pulang.”
“Betul, Mas Mardi,” keluh Pak Matang, salah satu tetua kami, “tadi, saat saya memejamkan mata, saya melihat Mas Marno ngawe-awe[4] kita semua dari pintu depan”. Keruan saja kami bersembilan, dan pemuda di luar melihat pintu yang bisu itu. Bulu kudukku meremang asing. “Dia sebenarnya sudah dekat”.
“Mungkin ada ritual yang kurang?” tambah Pak Harpun sambil melahap kue lapis, “masih kurang satu malam. Harapan kita, dengan selesainya yasinan besok, segala urusan dimudahkan. Kita sudah membersihkan rumah ini, sudah mencoba berkeliling desa, sudah minta bantuan polsek, tapi belum berhasil juga.”
“Begini, bapak-bapak,” Pak Mardi menengahi, “mungkin kita perlu membersihkan sungai yang sering dipakai Marno mandi. Banyak sampah di sana, dan telah menyumbat aliran air. Siapa tahu yang membawa Marno marah karena kita berbuat tidak sopan”.
“Sampah itu kan berasal dari desa Sindudadi, yang ada pabrik susunya itu! Kita sudah menisahkan sampah organik dan non-organik? Yang organik ditanam di tanah, yang bukan, diangkut ke TPA. Kenapa kita yang dimarahi?” Pak Slamet Mulyadi terpancing. Aku memandang berkeliling, ingin mendengar pendapat lain.
“Jangan keras-keras Pak, siapa tahu pembawa Mas Marno ada di sini mengintip kita,” kata Pak Harpun pelan. Yang lain mengangguk setuju.
Salah seorang putra Pak Mardi, Salim, datang dan berbisik kepada ayahnya. Dari ruang tengah, beberapa berkat dikeluarkan. Gula pasir, teh, nasi gurih, telur ayam, kolak, dan beberapa hal lain. Yang unik, kulihat ada mie instan di sana. Setelah diputar dan semua mendapatkannya, Pak Mardi matur, “monggo Bapak-bapak. Ini ada berkat ala kadarnya, sebagai ungkapan terima kasih kami atas bantuan Bapak sekalian.”
“Nggih, dari kami, matur nuwun juga Pak Mardi. Semoga, Mas Marno enggal dipunwangsulaken[5] kepada kita semua. Amiin,” sambut Pak Harpun.
Lalu, dengan wajah yang terlalu lelah, satu demi satu yang membacakan surat ke-36 itu surut, berjalan lenyap di kegelapan malam, kembali ke rumah masing-masing.
—o0O0o—
“Kileken, Mim…” Ayu yang menungguku pulang, berbicara lembut. Wajah yang kusut-masai hilang seketika. “Juga dikenal sebagai penanda. Jika ia telah tampak di langit pagi dan ada seorang Masai yang belum pulang dari perburuan, para wanitanya akan berdoa demi keselamatannya. Ya, jika ada yang hilang.”
Mas Marno memiliki penjaga, ‘Sang Ayah’, yang membantu kelahirannya di muka bumi. Belakangan, menurut Ayu, terjadi pelanggaran ketika keluarganya memaki Mas Marno berlebihan. Hal itu sering terjadi, dan akhirnya tiba di puncak. Lebih dari 40 hari lalu setelah ia jagong[6] dalam mantenan Mas Rahmat, dalam keadaan lelah, ia dimaki lagi. Mas Marno tentu bukan orang pendendam. Akan tetapi, yang tidak terlihat jauh lebih banyak daripada yang terlihat. Para penjaganya, ‘Sang ayah’ dan beberapa roh lain, marah dan menariknya keluar, tak terlihat di sini meski ia ada.
“Kamu percaya bahwa setiap dari kita memiliki penjaga?” kataku mulai skeptis lagi. “Tentu. Mereka adalah kamu sendiri sekaligus bukan kamu. Kamu pernah merasa aneh dengan para skeptis yang tidak percaya Tuhan, tapi tidak mempermasalahkan keberadaan ide? Dari mana kamu menganggap ide itu nyata, Mim? Ia abstrak, tapi kalian para penggila sains melakukan diskriminasi hanya karena ia berada di dalam diri kalian,” dan Ayu mulai berfilsafat lagi. “Bukan masalah percaya atau tidaknya, Mim. Ada dan tidak ada itu subjektif, keduanya membutuhkan satu sama lain. Dan, meng-anggap tidak ada sebagai tidak ada itu seperti lawakan.”
Aku tak mau mendebatnya. Venus yang kini kukenal juga sebagai Kileken. Venus yang indah sekaligus berpermukaan hancur. Neraka yang dibayangkan dan gambaran neraka yang ditampakkan. Sungai yang hancur di sini dan air Venus yang telah menguap lenyap. “Dualitas, Mim. Cobalah terangkan dengan sains. Kalian selalu berteori dulu baru mencocok-cocokkannya dengan eksperimen. Hasil eksperimen itu mau tidak mau, harus mirip dengan teori. Beruntunglah kamu yang kehilangan ayah di usia 21 tahun. Ketika tidak ada adalah ada dan sebaliknya”, Ayu beringsut untuk merebahkan diri ke pangkuanku. Lampu kami masih terlalu terang. Taburan langit nun jauh di atas sana terbidik dari salah satu genteng kaca.
“Mengapa tidak ada cerita dari suku-suku kita yang kamu kisahkan?” kubelai lembut rambutnya. Ayu tertawa pelan, “bukankah lebih indah melihat yang jauh-jauh daripada yang dekat-dekat? Kamu belum mengenal dirimu, karena itu Tuhan memper-lihatkan alam semesta. Maka, betapa jahatnya mereka yang menyakiti alam? Jahat pada diri sendiri karena membuat mereka makin asing, makin tidak mengetahui?”
“Kamu tidak ikut memikirkan Mas Marno?” tanyaku. Tidak pula kamu menentang syirik, Ayu. Tidak pula kamu menghimbau ibu-ibu PKK untuk mengingatkan sang suami. Ketika menjadi mahasiswa dulu, tidak pula kamu berdiri menjadi demonstran menentang pembalakan liar. Kamu hanya bercerita bahwa suatu saat bumi kita akan menjadi Venus kedua jika kita gagap.
“Untuk apa? Dia akan pulang minggu depan. Tanpa ritual yang kauanggap syirik. Tanpa perlu takut pada ‘Sang Ayah’ yang misterius yang kauanggap tidak ada”.
Kamu membingungkanku… selalu demikian.
“Ruh itu satu, Mim. Memanggil semua jiwa yang diperintahnya. Akan tetapi, mereka yang tergila-gila pada sains tidak pernah bisa mengetahui panggilanNya.”
Aku tidak tahu lagi. Mas Marno dan aku, aku dan Kileken. Yatim pengembara.
Kembar yang pelik.
—o0O00—
31 Mei 2009
[1] Shah, Idries. 2000. Mahkota Sufi: Menembus Dunia Ekstra Dimensi (Terj. M. Hidayatullah dan Roudlon). Surabaya: Risalah Gusti. Hlm. 12
[2] Mari dibaca bersama-sama. Akan saya pimpin (Bhs. Jawa)
[3] Bowering, Gerhard. 2003. Gagasan tentang Waktu dalam Sufisme Persia (terj. Gafna Raizha Wahyudi). Yogyakarta: Pustaka Sufi. Hlm. 15.
[4] Melambaikan tangan (bahasa Jawa)
[5] Segera dikembalikan (bahasa Jawa)
[6] Duduk mengobrol sepanjang malam (bahasa Jawa).
Kumpulan Sajak Fitra Firdaus Aden Tahun 2008 (Bagian 2)
Berikut ini semua sajak yang ada
dalam kumpulan “Kamar Penengadah”. Menurut saya sih, ini pencapaian yang cukup
bersejarah dalam kehidupan sajak-sajak saya. Selamat menikmati!
01. Mengunjungi Cinta
02. Hantu
03. Penciptaan Nihil
04. Para
Pengembara
05. Murmuring Universe
06. Surga Batu
07. Silang Sengketa
08. Duduk
09. Hakim Agung
10. Naskah Hilang
11. Buah Dadu dan Papan Catur
12. Pemanjat Matahari
13. Matahari di dalam Matahari
14. Bermustahilan Mati
15. Perjamuan Timur dan Barat
MENGUNJUNGI CINTA
Kuterjaga sedang engkau masih lelap
Bagaimana mungkin malam masihlah
terlalu panjang tak bertepi
Di manakah kau menyembunyikan kawan
matahari
Di manakah juga kauletakkan bulan
yang menghilang lenyap
Perjumpaan kita tak pernah cukup
Bagaimana mungkin semua terjadi
hanya dalam mimpi
Di manakah kau disembunyikan
kebutaan hari
Di manakah juga kudiletakkan hingga
tak kunjung hilang lenyap
Kubacakan siang, kutunjukkan malam
Kuceritakan senja, kusampaikan pagi
Kekasihku yang masih jauh, aku baik
hari ini
Kini aku sedikit tahu Engkau di sana aku di sini
sedang ada di dunia yang melayangi
langit
kumau mengunjungimu selalu
HANTU
Kaugelapkan ruang hampa tempat
kubermukim lama
Bayang-bayang tak terlihat, cinta
pun telah menguap...
Di dinginnya dunia, kuteriakkan
sedikit kata
Sumirnya teka-teki siapa kau
sesungguhnya
Kumenangis dalam luka apakah kau
juga
Kutercabik teraniaya dan kau
terdiam saja
Menengadah langit luas kucari kau
tak ada
Di manakah engkau?
Hantu yang merampas tawa kini
tinggal dalam dada
Segala derita ini tak mungkin
tercabut
Hingga jauh kubawa cinta kosong tak
bernyawa
Berlari menujumu yang tak pernah
nyata
Kumenjerit dalam sakit, kau tak jua
datang
Kuterbuang dalam tahanan, engkau
tak mau berkutik
Kehilangan arah tujuan dan
terjerembab dalam jurang
Nyatakah engkau?
Kusujudi khayalan...
Kutanggung tanda silang yang terus
mendera punggungku.
Di manakah cakrawala yang pernah
kaujanjikan?
Hanya senja yang menua
menenggelamiku
Tapal batas menertawai hati yang
terguncang sepi
Di dalam dada ini mahatari telah
lama mati
“Lupakah kau pada penyaksian
perjanjian pertama?”
PENCIPTAAN NIHIL
Adam tak pernah terusir...
Malaikat merapat berjajar belajar
memahami hakikat cintamu
yang tertuang dalam rahasia
penciptaan Adam sang nihil
“Bersujudlah padanya seperti kau
bersujud padaku.
Akulah cinta di seberang cinta!”
Tetapi mengapa salah satu yang
angkuh
menolak dan memalingkan muka
“Tuhan engkau menciptakanku
dari api sedang dia dari tanah hitam.”
“Apakah engkau hanya melihat Adam
dalam wujud terlihat
Lihatlah di balik tanah itu tersembunyi jutaan
rahasiaku.
Dusta apa lagi yang sedang kaurancang
makhluk dungu pemuja berhala!”
“Meski kelak engkau mengunyah buah
salah
Engkau tak pernah melanggar hukumku
Kuturunkan kau ke bumi sebagai pemimpin
yang mengajarkan cinta ke seluruh penjuru alam
semesta”
“Tuhan, kami adalah tempat segala
dosa dan kejahatan berpulang.
Kuberjalan di dunia demi cinta yang belum
terlihat
Dan bila tiba waktu kembali akan kulewati
tujuh langit
menujumu melebihi segala makhluk yang pernah
Kaucipta...”
PARA
PENGEMBARA
Jemput pagi itu!
Menarilah bersama para pengembara
yang telah melihat matahari
bersembunyi di balik rumpun bambu
sedang embun masih menetap
Mencarilah bersama para pengelana
yang telah mencium jejak para
bintang
tersembunyi di balik celah-celah
kecil
sedang malam masih mencekam...
Bertepuk tanganlah dengan kawan
seperjalanan
yang tengah berjalan pulang
menuju semesta di balik tubuh ini
sedang fajar belum merapat
Menara yang menjulang itu
kelak roboh dan tak sempat menabrak
langit
Belumlah terbaca berita bintang
jatuh
Bila engkau belum menutup mata yang
terbuka
dan Timur melebur, Barat
beristirahat
hidupkan nyala di musim yang
mendekatimu...
Jemput pagimu!
MURMURING UNIVERSE
“Where is our messiah?”
Hujan yang turun mengirimkan
ribuan tali putus menjerat tanah
Matahari robek oleh merah
yang dikandung jantungnya bermilyar
tahun
Kau tak kunjung kembali ke semesta
muram
Terlalu jauh pergi kutersesat
melawan kuasa
dan ketetapan hampa!
Bilakah tiba saat awan yang berarak
musnah diterjang api hancur
memberantak
Benarkah akan tiba raja para
matahari
Pertanyaan tak terhenti, tipuan apa
lagi?
“Jangan kau ragu bagaimana waktu
tak berkutik
lebih jauh dari anak panah yang terlontar enam
ratus tahun jarak.”
Kuterbangkan denyut nadi, mencuri
ruh pagi
Memperhatikanmu lagi.
SURGA BATU
Surga batu yang dikisahkan mulut ke
mulut
jatuh terjerembab pada pulau
bermakhluk mati
yang nyawanya dipasung pahala
berlipat
Surga buta yang diamati para
pembuka mata
mengendap-endap menuju pulau tak
berpenduduk
selain yang bidikannya tepat
tertuju
Kuberlayar menuju tepian samudera
terpikat kabar burung para penghuni
surga
“Tuhan kami bukan batu,
bukan pula tugu-tugu.
Apalagi laki-laki, wanita, dan anak-anak.”
Kupanjati tebing terjal, kutanyai
bintang muram
Surgaku palsu!
Medan perang suci tengah dibentangkan bagi
para pembeli surga yang malu
kelaparan
dan malaikat lintang-pukang
mencatati pahala bertumbangan.
“Tuhan kami bukan batu,
bukan pula tugu-tugu.
Apalagi laki-laki, wanita, dan anak-anak.”
Kusebut namamu, berlari menyembah
batu.
Kusebut namamu, memanggang bangkai
saudaraku.
Surgaku palsu!
SILANG SENGKETA
Setiap jengkal muka bumi, setiap
sudut ruang langit
bertekuk lutut memujamu sedang
malam panjangku membantah
Sang rembulan yang terpecah-belah
meniadakan pagi buta
Mereka datang mengobrak-abrik rumah
kayu rapuh tak bermakna
Sekian nyawa demi bahtera Nuh,
Jutaan sajak demi Muhammad
Milyaran tahun demi engkau...
Silang sengketa carut marut,
perhentianmu terlalu berlarut-larut
Kutekuk mulut bermanja
memenjarakanmu.
“Dari mataku, adakah bintang yang
lebih terang daripada matahari?”
DUDUK
“Engkau yang terduduk lemah tak
berdaya
Mari kucium untuk menenangkan
Dan engkau yang duduk penuh berkuasa
Mari kucium untuk menyenangkan
Engkau yang terduduk dalam putus asa
Mari kubasuh dengan hijau rerumputan
Dan engkau yang duduk dalam keteledoran
Mari kubasuh dengan merah matahari
Kulakukan segalanya kala kaupejam mata
Maka bukalah mata yang lain yang mampu
melihatku
Kauinginkan hal lain.
Di manakah terima kasih,
sudahkah ia duduk di sebelahmu?”
HAKIM AGUNG
Duniamu merapati senja tata surya
Hukum kuasa bumi tak lagi berlaku
Sejak kapan aku jatuh cinta?
barangkali jutaan mil ikut
terbawa...
Kauperintahkan gunung-gunung mati
berterbangan berkeliling bumi
Sejak kapan kau sang pencipta
menemani setiap detik alam semesta?
Kau di sini, di sebelahku yang tak
tertunjuk jarum kompas
Kau di sini, di seberangku yang tak
terjebak timur dan barat
Mengapa kumasih berniat untuk
menjadi Hakim Agung?
NASKAH HILANG
“Akan kami bentangkan permadani
merah
hingga ia jatuh ke bumi yang memerah”
Kusampai pada tanah kapur dan
berputar arah haluan
Segerombolan burung berterbangan
buyar di atas awan
Mereka turun ketakutan terkena
lontaran api fajar kemerahan...
Jatuh ke bumi dengan tawa, kami
merunduk bertiarap
Kautiup kapas di genggaman tangan
kuberkeliling berjeritan
Kudengar sepasukan semut
berkeliaran di bawah tanah
Halaman kitabku diambil orang
dimasukkan saku tak dikembalikan
Yang lain kusembunyikan di kotak
kayu yang mudah rapuh
Tuan di manakah sejarah yang lenyap
dibakar naskah laut mati?
Aku tegak berdiri di atas bangkaiku
yang tak mau mengenal namanya sendiri!
BUAH DADU DAN PAPAN CATUR
Jauh, jauh berkumandang jerit parau
Aku tak melihat engkau memerintah
Buah dadu telah jatuh. Angka-angka
berhamburan.
Tetapi ini adalah papan catur hitam
putih.
Panjang, panjang pengembaraan satu
kotak.
Aku tak mendengar engkau yang
mencipta.
Menteri berjalan miring, Raja maju
selangkah.
Tetapi tiada angka yang
menghantammu.
Hai Kekasih, aku lupa banyak hal
tentang engkau yang pernah
menciumiku
Di mana telah terjadi?
Kapankah kauulangi?
“Kuhajar bentengmu saat kaunaiki
kuda kuning langsatku.
Kulipat sang malam saat kaulihat sang malam
yang lain.”
Aku tak punya siasat!
PEMANJAT MATAHARI
Kupatahkan kaki tangga tempat
kumemanjat
matahari masih jauh dari hutan
pencakar langit
Barangkali Babel bukan sekadar
bualan kakek kerabatku
Penduduk langit bermata merah
mengirim ribuan bintang jatuh
“Jangan kauusik kami bila kau tak
berdaya-upaya!
Kau masih mabuk kepayang hingga lupa ingatan.”
Bagaimana cara memanjat
matahari-matahari
jika di setiap tepinya ada api yang
tertawa mengejarku?
“Wahai, Makhluk Tuhan paling baik
sedang belajar memanjat!”
MATAHARI DI DALAM MATAHARI
Matahari terluar berlidah merah
api liurnya melejit-lejit membakar
kosong ruang hampa
Di dalamnya matahari biru
ditawafinya tujuh kali, rukuk di
tiap perhenti.
Akan tetapi diterangkannya
kalimat-kalimat cahaya kepada delapan pengikut setia tata surya
yang mengelilinginya dengan berpejaman mata:
“Akulah yang mengandungnya. Akulah
sang inti mata.
Akulah penguasanya!”
BERMUSTAHILAN MATI
Di kota yang komat-kamit menjelang kantuk
Kuajak musim dingin mendekati
pintu-pintu rumah
“Kemari, bulan mati warna merah
telah bergantung menahun di puncak menara.”
Dia tersenyum ramah, “aku tak punya
buku cerita bergambar untuk menidurkanmu[1].”
Sekeliling nafasku, hawa putih
ditiupnya menjadi-jadi.
Kutumpuk kayu, “kau mau menemaniku
membakar api unggun?”
Dipergokinya dua pembawa kedai tua
sedang pulang, arang bersembunyi dalam tungku tanah liat
“Hai, kalian yang fasih bersedekap!
Tuangkan hangat di kuku temanmu yang pucat!”
Berempat kami bertukar tempat, api
menyala di ujung galah.
“Ini terakhir kalinya kita melihat kota yang
mengangguk-angguk mau mati.”
PERJAMUAN TIMUR DAN BARAT
Apa yang kautakutkan pada wajahku?
Segalanya telah kuperlihatkan padamu.
Adakah yang kauragu dari kalimatku? Semuanya
adalah tanda keberadaanku.
Rembulan menaburkan cahaya terakhir
di setiap penjuru perjamuan.
Kini kau mampu mendengar patahan
roda kereta pengangkut gandum berlarian kian kemari.
Mungkin nanti kaulihat pula hunian
lari bertelanjang kaki mengembarai para penghuni yang mengantuk dini hari
menertawai pasak yang tidak
ditancapkan dalam-dalam dan bilik bambu berlubang.
“Kami di mana?”
Apakah kau rindu tempat kuciumi
engkau pertama kali?
Apakah kau rindu tanah jauh saat
kita tak berjarak?
Jika benar adanya, inilah tanah tak
bertanahku.
[1] Bandingkan dengan lirik “Kasumi”
oleh Dir en Grey (album VULGAR):
“Kubuka
mata mendengar jerit tangis yang membahana di ruangan.
kubaca adik
perempuanku cerita dalam buku bergambar demi menghiburnya.
[Di
saat yang sama, terjadilah pembunuhan]
SEJARAH SAJAK LAVRATISLAVA 2008---2
Berikut ini semua sajak yang ada
dalam kumpulan “Kamar Penengadah”. Menurut saya sih, ini pencapaian yang cukup
bersejarah dalam kehidupan sajak-sajak saya. Selamat menikmati!
DAFTAR ISI
01. Mengunjungi Cinta
02. Hantu
03. Penciptaan Nihil
04. Para
Pengembara
05. Murmuring Universe
06. Surga Batu
07. Silang Sengketa
08. Duduk
09. Hakim Agung
10. Naskah Hilang
11. Buah Dadu dan Papan Catur
12. Pemanjat Matahari
13. Matahari di dalam Matahari
14. Bermustahilan Mati
15. Perjamuan Timur dan Barat
MENGUNJUNGI CINTA
Kuterjaga sedang engkau masih lelap
Bagaimana mungkin malam masihlah
terlalu panjang tak bertepi
Di manakah kau menyembunyikan kawan
matahari
Di manakah juga kauletakkan bulan
yang menghilang lenyap
Perjumpaan kita tak pernah cukup
Bagaimana mungkin semua terjadi
hanya dalam mimpi
Di manakah kau disembunyikan
kebutaan hari
Di manakah juga kudiletakkan hingga
tak kunjung hilang lenyap
Kubacakan siang, kutunjukkan malam
Kuceritakan senja, kusampaikan pagi
Kekasihku yang masih jauh, aku baik
hari ini
Kini aku sedikit tahu Engkau di sana aku di sini
sedang ada di dunia yang melayangi
langit
kumau mengunjungimu selalu
HANTU
Kaugelapkan ruang hampa tempat
kubermukim lama
Bayang-bayang tak terlihat, cinta
pun telah menguap...
Di dinginnya dunia, kuteriakkan
sedikit kata
Sumirnya teka-teki siapa kau
sesungguhnya
Kumenangis dalam luka apakah kau
juga
Kutercabik teraniaya dan kau
terdiam saja
Menengadah langit luas kucari kau
tak ada
Di manakah engkau?
Hantu yang merampas tawa kini
tinggal dalam dada
Segala derita ini tak mungkin
tercabut
Hingga jauh kubawa cinta kosong tak
bernyawa
Berlari menujumu yang tak pernah
nyata
Kumenjerit dalam sakit, kau tak jua
datang
Kuterbuang dalam tahanan, engkau
tak mau berkutik
Kehilangan arah tujuan dan
terjerembab dalam jurang
Nyatakah engkau?
Kusujudi khayalan...
Kutanggung tanda silang yang terus
mendera punggungku.
Di manakah cakrawala yang pernah
kaujanjikan?
Hanya senja yang menua
menenggelamiku
Tapal batas menertawai hati yang
terguncang sepi
Di dalam dada ini mahatari telah
lama mati
“Lupakah kau pada penyaksian
perjanjian pertama?”
PENCIPTAAN NIHIL
Adam tak pernah terusir...
Malaikat merapat berjajar belajar
memahami hakikat cintamu
yang tertuang dalam rahasia
penciptaan Adam sang nihil
“Bersujudlah padanya seperti kau
bersujud padaku.
Akulah cinta di seberang cinta!”
Tetapi mengapa salah satu yang
angkuh
menolak dan memalingkan muka
“Tuhan engkau menciptakanku
dari api sedang dia dari tanah hitam.”
“Apakah engkau hanya melihat Adam
dalam wujud terlihat
Lihatlah di balik tanah itu tersembunyi jutaan
rahasiaku.
Dusta apa lagi yang sedang kaurancang
makhluk dungu pemuja berhala!”
“Meski kelak engkau mengunyah buah
salah
Engkau tak pernah melanggar hukumku
Kuturunkan kau ke bumi sebagai pemimpin
yang mengajarkan cinta ke seluruh penjuru alam
semesta”
“Tuhan, kami adalah tempat segala
dosa dan kejahatan berpulang.
Kuberjalan di dunia demi cinta yang belum
terlihat
Dan bila tiba waktu kembali akan kulewati
tujuh langit
menujumu melebihi segala makhluk yang pernah
Kaucipta...”
PARA
PENGEMBARA
Jemput pagi itu!
Menarilah bersama para pengembara
yang telah melihat matahari
bersembunyi di balik rumpun bambu
sedang embun masih menetap
Mencarilah bersama para pengelana
yang telah mencium jejak para
bintang
tersembunyi di balik celah-celah
kecil
sedang malam masih mencekam...
Bertepuk tanganlah dengan kawan
seperjalanan
yang tengah berjalan pulang
menuju semesta di balik tubuh ini
sedang fajar belum merapat
Menara yang menjulang itu
kelak roboh dan tak sempat menabrak
langit
Belumlah terbaca berita bintang
jatuh
Bila engkau belum menutup mata yang
terbuka
dan Timur melebur, Barat
beristirahat
hidupkan nyala di musim yang
mendekatimu...
Jemput pagimu!
MURMURING UNIVERSE
“Where is our messiah?”
Hujan yang turun mengirimkan
ribuan tali putus menjerat tanah
Matahari robek oleh merah
yang dikandung jantungnya bermilyar
tahun
Kau tak kunjung kembali ke semesta
muram
Terlalu jauh pergi kutersesat
melawan kuasa
dan ketetapan hampa!
Bilakah tiba saat awan yang berarak
musnah diterjang api hancur
memberantak
Benarkah akan tiba raja para
matahari
Pertanyaan tak terhenti, tipuan apa
lagi?
“Jangan kau ragu bagaimana waktu
tak berkutik
lebih jauh dari anak panah yang terlontar enam
ratus tahun jarak.”
Kuterbangkan denyut nadi, mencuri
ruh pagi
Memperhatikanmu lagi.
SURGA BATU
Surga batu yang dikisahkan mulut ke
mulut
jatuh terjerembab pada pulau
bermakhluk mati
yang nyawanya dipasung pahala
berlipat
Surga buta yang diamati para
pembuka mata
mengendap-endap menuju pulau tak
berpenduduk
selain yang bidikannya tepat
tertuju
Kuberlayar menuju tepian samudera
terpikat kabar burung para penghuni
surga
“Tuhan kami bukan batu,
bukan pula tugu-tugu.
Apalagi laki-laki, wanita, dan anak-anak.”
Kupanjati tebing terjal, kutanyai
bintang muram
Surgaku palsu!
Medan perang suci tengah dibentangkan bagi
para pembeli surga yang malu
kelaparan
dan malaikat lintang-pukang
mencatati pahala bertumbangan.
“Tuhan kami bukan batu,
bukan pula tugu-tugu.
Apalagi laki-laki, wanita, dan anak-anak.”
Kusebut namamu, berlari menyembah
batu.
Kusebut namamu, memanggang bangkai
saudaraku.
Surgaku palsu!
SILANG SENGKETA
Setiap jengkal muka bumi, setiap
sudut ruang langit
bertekuk lutut memujamu sedang
malam panjangku membantah
Sang rembulan yang terpecah-belah
meniadakan pagi buta
Mereka datang mengobrak-abrik rumah
kayu rapuh tak bermakna
Sekian nyawa demi bahtera Nuh,
Jutaan sajak demi Muhammad
Milyaran tahun demi engkau...
Silang sengketa carut marut,
perhentianmu terlalu berlarut-larut
Kutekuk mulut bermanja
memenjarakanmu.
“Dari mataku, adakah bintang yang
lebih terang daripada matahari?”
DUDUK
“Engkau yang terduduk lemah tak
berdaya
Mari kucium untuk menenangkan
Dan engkau yang duduk penuh berkuasa
Mari kucium untuk menyenangkan
Engkau yang terduduk dalam putus asa
Mari kubasuh dengan hijau rerumputan
Dan engkau yang duduk dalam keteledoran
Mari kubasuh dengan merah matahari
Kulakukan segalanya kala kaupejam mata
Maka bukalah mata yang lain yang mampu
melihatku
Kauinginkan hal lain.
Di manakah terima kasih,
sudahkah ia duduk di sebelahmu?”
HAKIM AGUNG
Duniamu merapati senja tata surya
Hukum kuasa bumi tak lagi berlaku
Sejak kapan aku jatuh cinta?
barangkali jutaan mil ikut
terbawa...
Kauperintahkan gunung-gunung mati
berterbangan berkeliling bumi
Sejak kapan kau sang pencipta
menemani setiap detik alam semesta?
Kau di sini, di sebelahku yang tak
tertunjuk jarum kompas
Kau di sini, di seberangku yang tak
terjebak timur dan barat
Mengapa kumasih berniat untuk
menjadi Hakim Agung?
NASKAH HILANG
“Akan kami bentangkan permadani
merah
hingga ia jatuh ke bumi yang memerah”
Kusampai pada tanah kapur dan
berputar arah haluan
Segerombolan burung berterbangan
buyar di atas awan
Mereka turun ketakutan terkena
lontaran api fajar kemerahan...
Jatuh ke bumi dengan tawa, kami
merunduk bertiarap
Kautiup kapas di genggaman tangan
kuberkeliling berjeritan
Kudengar sepasukan semut
berkeliaran di bawah tanah
Halaman kitabku diambil orang
dimasukkan saku tak dikembalikan
Yang lain kusembunyikan di kotak
kayu yang mudah rapuh
Tuan di manakah sejarah yang lenyap
dibakar naskah laut mati?
Aku tegak berdiri di atas bangkaiku
yang tak mau mengenal namanya sendiri!
BUAH DADU DAN PAPAN CATUR
Jauh, jauh berkumandang jerit parau
Aku tak melihat engkau memerintah
Buah dadu telah jatuh. Angka-angka
berhamburan.
Tetapi ini adalah papan catur hitam
putih.
Panjang, panjang pengembaraan satu
kotak.
Aku tak mendengar engkau yang
mencipta.
Menteri berjalan miring, Raja maju
selangkah.
Tetapi tiada angka yang
menghantammu.
Hai Kekasih, aku lupa banyak hal
tentang engkau yang pernah
menciumiku
Di mana telah terjadi?
Kapankah kauulangi?
“Kuhajar bentengmu saat kaunaiki
kuda kuning langsatku.
Kulipat sang malam saat kaulihat sang malam
yang lain.”
Aku tak punya siasat!
PEMANJAT MATAHARI
Kupatahkan kaki tangga tempat
kumemanjat
matahari masih jauh dari hutan
pencakar langit
Barangkali Babel bukan sekadar
bualan kakek kerabatku
Penduduk langit bermata merah
mengirim ribuan bintang jatuh
“Jangan kauusik kami bila kau tak
berdaya-upaya!
Kau masih mabuk kepayang hingga lupa ingatan.”
Bagaimana cara memanjat
matahari-matahari
jika di setiap tepinya ada api yang
tertawa mengejarku?
“Wahai, Makhluk Tuhan paling baik
sedang belajar memanjat!”
MATAHARI DI DALAM MATAHARI
Matahari terluar berlidah merah
api liurnya melejit-lejit membakar
kosong ruang hampa
Di dalamnya matahari biru
ditawafinya tujuh kali, rukuk di
tiap perhenti.
Akan tetapi diterangkannya
kalimat-kalimat cahaya kepada delapan pengikut setia tata surya
yang mengelilinginya dengan berpejaman mata:
“Akulah yang mengandungnya. Akulah
sang inti mata.
Akulah penguasanya!”
BERMUSTAHILAN MATI
Di kota yang komat-kamit menjelang kantuk
Kuajak musim dingin mendekati
pintu-pintu rumah
“Kemari, bulan mati warna merah
telah bergantung menahun di puncak menara.”
Dia tersenyum ramah, “aku tak punya
buku cerita bergambar untuk menidurkanmu[1].”
Sekeliling nafasku, hawa putih
ditiupnya menjadi-jadi.
Kutumpuk kayu, “kau mau menemaniku
membakar api unggun?”
Dipergokinya dua pembawa kedai tua
sedang pulang, arang bersembunyi dalam tungku tanah liat
“Hai, kalian yang fasih bersedekap!
Tuangkan hangat di kuku temanmu yang pucat!”
Berempat kami bertukar tempat, api
menyala di ujung galah.
“Ini terakhir kalinya kita melihat kota yang
mengangguk-angguk mau mati.”
PERJAMUAN TIMUR DAN BARAT
Apa yang kautakutkan pada wajahku?
Segalanya telah kuperlihatkan padamu.
Adakah yang kauragu dari kalimatku? Semuanya
adalah tanda keberadaanku.
Rembulan menaburkan cahaya terakhir
di setiap penjuru perjamuan.
Kini kau mampu mendengar patahan
roda kereta pengangkut gandum berlarian kian kemari.
Mungkin nanti kaulihat pula hunian
lari bertelanjang kaki mengembarai para penghuni yang mengantuk dini hari
menertawai pasak yang tidak
ditancapkan dalam-dalam dan bilik bambu berlubang.
“Kami di mana?”
Apakah kau rindu tempat kuciumi
engkau pertama kali?
Apakah kau rindu tanah jauh saat
kita tak berjarak?
Jika benar adanya, inilah tanah tak
bertanahku.
[1] Bandingkan dengan lirik “Kasumi”
oleh Dir en Grey (album VULGAR):
“Kubuka
mata mendengar jerit tangis yang membahana di ruangan.
kubaca adik
perempuanku cerita dalam buku bergambar demi menghiburnya.
[Di
saat yang sama, terjadilah pembunuhan]
Subscribe to:
Posts (Atom)


